<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941</id><updated>2012-02-16T02:19:25.757-08:00</updated><category term='Haji'/><category term='Syaitan'/><category term='Muamalah'/><category term='Hadits'/><category term='Shalat'/><category term='Artikel Islam'/><category term='Makam Nabi'/><category term='Fotografi'/><category term='Al-Qur&apos;an'/><category term='Ahlul Bait'/><category term='3 Landasan Utama'/><category term='Fatwa Ulama'/><category term='Jin'/><category term='Fitnah'/><category term='Riba'/><category term='Liberalisme'/><category term='Dauroh'/><category term='Akhlaq'/><category term='Musibah'/><category term='Zakat'/><category term='Bank'/><category term='TKI'/><category term='Sekolah Formal'/><category term='Ruqyah'/><category term='Ulang Tahun'/><category term='Facebook'/><category term='Lailatul Qodri'/><category term='Muslimah'/><category term='Internet'/><category term='Ramadhan'/><category term='Ijazah'/><category term='Kurban'/><category term='Ekonomi Islam'/><category term='Mizan'/><category term='Info Dakwah'/><category term='Majalah'/><category term='Download Kajian'/><category term='Wudhu'/><category term='Nasihat'/><category term='Tauhid'/><category term='Syirik'/><category term='Hari Raya'/><category term='Gambar Makhluk Bernyawa'/><category term='Koran'/><category term='Aqidah'/><category term='Idul Adha'/><category term='anak'/><category term='Ru&apos;yah Hilal'/><category term='Asuransi'/><category term='Jimat'/><category term='Manhaj'/><title type='text'>Catatan Abu Muslim</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>43</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-5726437616632881287</id><published>2010-12-02T05:55:00.000-08:00</published><updated>2010-12-02T07:19:53.810-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muslimah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa Ulama'/><title type='text'>Pilihlah Pakaian untuk Putrimu</title><content type='html'>&lt;div class="entry"&gt;      &lt;p style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;&lt;em&gt;Oleh: Asy-Syaikh Muhammad ibn Shâlih Al-’Utsaimîn rahimahullâh&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Soal:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebagian wanita, semoga Allah memberikan  hidayah  kepada mereka, memakaikan pakaian pendek yang memperlihatkan  betis  kepada anak-anak putri mereka. Ketika kami menasehati mereka,  mereka  mengatakan, “Kami pun mengenakan pakaian yang serupa sewaktu  kami masih  anak-anak, namun tidak membahayakan kami ketika kami  dewasa.” Apa  pendapat Anda tentang perkara ini?&lt;span id="more-165"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya berpendapat, tidak sepantasnya  seseorang  memakaikan pakaian seperti itu kepada putrinya meskipun ia  masih kecil.  Sebab, jika ia tumbuh terbiasa dengan pakaian tersebut,  maka ia akan  melekat dengannya (tetap memakainya) dan akan  menganggapnya sebagai  perkara yang sepele. Namun, jika kalian  mendidiknya dengan baik untuk  berhias dengan rasa malu sejak dini, maka  ia akan terus terbiasa dengan  keadaan ini hingga ia dewasa.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya nasehatkan kepada saudari-saudariku  kaum  muslimah agar meninggalkan pakaian orang-orang asing yang  merupakan  musuh-musuh agama, membiasakan anak-anak mereka untuk memakai  pakaian  yang menutupi tubuh (‘aurat -&lt;em&gt;pent&lt;/em&gt;.) mereka, dan mengajari mereka untuk berhias dengan rasa malu, karena malu adalah bagian dari îmân.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;Syaikh Ibnu ‘Utsaimîn, &lt;strong&gt;Fatâwâ al-Mar’ah&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;(Diterjemahkan dari http://fatwa-online.com/fataawa/womensissues/clothing/0000206_27.htm untuk http://akhwat.web.id)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;http://anakmuslim.wordpress.com/2010/11/20/pilihlah-pakaian-untuk-putrimu/&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;          &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-5726437616632881287?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/5726437616632881287/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/12/pilihlah-pakaian-untuk-putrimu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/5726437616632881287'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/5726437616632881287'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/12/pilihlah-pakaian-untuk-putrimu.html' title='Pilihlah Pakaian untuk Putrimu'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-4839207776995075690</id><published>2010-12-02T05:37:00.000-08:00</published><updated>2010-12-02T05:49:30.760-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gambar Makhluk Bernyawa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa Ulama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasihat'/><title type='text'>Pilihlah Boneka Untuk Anakmu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ada beragam boneka, di antaranya yang  terbuat dari  kapas yang memiliki kepala, dua tangan, dan dua kaki. Ada  pula yang  sempurna menyerupai manusia. Ada yang bisa bicara, menangis,  atau  berjalan. Lalu apa hukum membuat atau membeli boneka semacam itu  untuk  anak-anak perempuan dalam rangka pengajaran sekaligus hiburan?&lt;span id="more-163"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin&lt;/span&gt; &lt;em&gt;rahimahullahu&lt;/em&gt; menjawab: &lt;em&gt;&lt;strong&gt;“Boneka   yang tidak detail bentuknya menyerupai manusia/makhluk hidup (secara   sempurna) namun hanya berbentuk anggota tubuh dan kepala yang tidak   begitu jelas maka tidak diragukan kebolehannya dan ini termasuk jenis   anak-anakan yang dimainkan Aisyah radhiallahu ‘anha.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Adapun bila boneka itu bentuknya detail,  mirip sekali  dengan manusia sehingga seakan-akan kita melihat sosok  seorang manusia,  apalagi bila dapat bergerak atau bersuara, maka ada  keraguan di jiwa  saya untuk membolehkannya. Karena boneka itu  menyerupai makhluk Allah &lt;em&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/em&gt; secara sempurna.  Sedangkan yang dzahir, boneka yang dimainkan `Aisyah,  tidaklah demikian  modelnya (tidaklah rinci/detail bentuknya). Dengan  demikian  menghindarinya lebih utama. Namun saya juga tidak bisa  memastikan  keharamannya, karena memandang, anak-anak kecil itu diberikan   rukhshah/keringanan yang tidak diberikan kepada orang dewasa seperti   perkara ini. Disebabkan anak-anak memang tabiatnya suka bermain dan   hiburan, mereka tidaklah dibebani dengan satu macam ibadah pun sehingga   kita tidak dapat berkomentar bahwa waktu si anak sia-sia terbuang   percuma dengan main-main. Jika seseorang ingin berhati-hati dalam hal   ini, hendaknya ia melepas kepala boneka itu atau melelehkannya di atas   api hingga lumer, kemudian menekannya hingga hilang bentuk wajah boneka   tersebut (tidak lagi tampak/berbentuk hidung, mata, mulutnya, dsb,   -pent.).” &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;strong style="font-style: italic;"&gt;Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;, no. 329, 2/277-278)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt; Banyak sekali  dijumpai  pendapat dan fatwa seputar permainan anak-anak. Lalu apa hukum   boneka/anak-anakan dan boneka hewan? Bagaimana pula hukumnya  menggunakan  kartu bergambar guna mengajari huruf dan angka pada  anak-anak?&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan&lt;/span&gt; &lt;em&gt;hafizhahullah&lt;/em&gt; menjawab: &lt;em&gt;&lt;strong&gt;“Tidak   boleh mengambil/menyimpan gambar makhluk yang memiliki nyawa (kecuali   gambar yang darurat seperti foto di KTP, SIM). Adapun yang selain itu   tidaklah diperbolehkan. Termasuk pula dalam hal ini boneka untuk mainan   anak-anak atau gambar yang digunakan untuk mengajari mereka (seperti   memperkenalkan bentuk-bentuk hewan dengan memperlihatkan gambarnya,   –pent), karena keumuman larangan membuat gambar dan memanfaatkannya.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;  Padahal banyak kita dapatkan mainan anak-anak tanpa gambar/berbentuk   makhluk hidup. Dan masih banyak sarana yang bisa kita gunakan untuk   mengajari mereka tanpa menggunakan gambar.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Adapun pendapat yang membolehkan mainan  boneka untuk  anak-anak, maka pendapatnya lemah karena bersandar dengan  hadits tentang  mainan ‘Aisyah &lt;em&gt;radhiallahu ‘anha&lt;/em&gt; ketika ia  masih kecil. Namun  ada yang mengatakan hadits ‘Aisyah tersebut mansukh  (dihapus hukumnya)  dengan hadits-hadits yang menunjukkan diharamkannya  gambar. Ada pula  yang mengatakan &lt;em&gt;&lt;strong&gt;bentuk boneka/anak-anakan  ‘Aisyah tidaklah  seperti boneka yang ada sekarang, karena boneka  ‘Aisyah terbuat dari  kain dan tidak mirip dengan boneka berbentuk  makhluk hidup yang ada  sekarang&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;. Inilah pendapat yang kuat, wallahu a’lam. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Sementara   boneka yang ada sekarang sangat mirip dengan makhluk hidup   (detail/rinci bentuknya). Bahkan ada yang bisa bergerak seperti gerakan   makhluk hidup.”&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;strong style="font-style: italic;"&gt;Kitabud Da’wah&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;, 8/23-24, seperti dinukil dalam &lt;/span&gt;&lt;strong style="font-style: italic;"&gt;Fatawa ‘Ulama` Al-Baladil Haram&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; hal. 1228-1229)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt; Apakah ada  perbedaan bila  boneka/anak-anakan itu dibuat sendiri oleh anak-anak  dengan kita yang  membuatkannya atau membelikannya untuk mereka?&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Aku memandang –kata &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin&lt;/span&gt;– &lt;em&gt;&lt;strong&gt;membuat   boneka dengan bentuk yang menyerupai ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala   haram hukumnya. Karena perbuatan ini termasuk tashwir yang tidak   diragukan keharamannya.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Akan tetapi bila mainan itu dibuat   oleh orang-orang Nasrani dan kalangan non muslim, maka hukum   memanfaatkannya sebagaimana yang pernah aku katakan. Tapi kalau kita   harus membelinya maka lebih baik kita membeli mainan yang tidak   berbentuk makhluk hidup seperti sepeda, mobil-mobilan dan semisalnya.   Adapun boneka dari kapas/katun yang tidak detail bentuknya walaupun   punya anggota-anggota tubuh, kepala dan lutut, namun tidak memiliki mata   dan hidung, maka tidak apa-apa (dimainkan oleh anak-anak kita) karena   tidak menyerupai makhluk ciptaan Allah &lt;em&gt;Subhanahu wa Ta’ala&lt;/em&gt;.” &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;strong style="font-style: italic;"&gt;Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;, no. 330, 2/278)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Tanya:&lt;/strong&gt; Apakah benar pendapat sebagian ulama yang mengecualikan mainan anak-anak/boneka dari gambar yang diharamkan?&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin&lt;/span&gt; &lt;em&gt;rahimahullahu&lt;/em&gt;  berkata: “Pendapat yang mengecualikan mainan anak-anak/boneka dari   gambar yang diharamkan adalah pendapat yang benar. Namun perlu   diperjelas, boneka seperti apakah yang dikecualikan tersebut? Apakah   boneka yang dulu pernah ada (seperti yang dimainkan oleh ‘Aisyah dengan   sepengetahuan Nabi &lt;em&gt;Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; -pent), &lt;em&gt;&lt;strong&gt;yang modelnya tidaklah detail, tidak ada matanya, bibir dan hidung sebagaimana boneka yang dimainkan oleh anak-anak sekarang&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;?   Ataukah keringanan/pengecualian dari pengharaman tersebut berlaku umum   pada seluruh boneka anak-anak, walaupun bentuknya seperti yang kita   saksikan di masa sekarang ini? Maka dalam hal ini perlu perenungan dan   kehati-hatian. Sehingga seharusnya anak-anak dijauhkan dari memainkan   boneka-boneka dengan bentuk detail seperti yang ada sekarang ini. Dan   cukup bagi mereka dengan model boneka yang dulu (tidak detail).” &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;strong style="font-style: italic;"&gt;Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;, no. 327, 2/275)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;http://anakmuslim.wordpress.com/2010/11/22/pilihlah-boneka-untuk-anakmu/&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-4839207776995075690?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/4839207776995075690/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/12/pilihlah-boneka-untuk-anakmu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/4839207776995075690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/4839207776995075690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/12/pilihlah-boneka-untuk-anakmu.html' title='Pilihlah Boneka Untuk Anakmu'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-2508718343218791782</id><published>2010-12-02T04:51:00.000-08:00</published><updated>2010-12-02T05:31:11.201-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasihat'/><title type='text'>Anak Pun Perlu Dijaga Ketika Petang Menjelang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_taMajVQWOio/THW6WQ3QMpI/AAAAAAAAAoI/l5bIXm5grWE/s1600/akatsuki-langit-petang1.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 274px; height: 182px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_taMajVQWOio/THW6WQ3QMpI/AAAAAAAAAoI/l5bIXm5grWE/s1600/akatsuki-langit-petang1.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Matahari senja baru saja tenggelam di ufuk barat. Malam pun merambat datang sementara kegelapan perlahan mulai menyelimuti bumi. Tampak beberapa anak kecil sedang bermain, berkejaran di pekarangan sebuah rumah. Sesekali, mereka berlari ke jalanan kampung. Di teras sebuah rumah, seorang ibu terlihat tengah meninabobokan bayinya, beralasan “mencari angin” karena si bayi kepanasan di dalam rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datangnya malam usai matahari tenggelam hingga datangnya waktu ‘Isya adalah saat bertebarnya para setan. Tak heran jika rutinitas masyarakat semisal aktivitas jual beli justru mengalami puncak keramaian (baca: godaan) nya di waktu ini. Sesungguhnya agama mulia yang sempurna ini telah mensyaratkan kepada kita utamanya anak-anak kita untuk tidak keluar rumah di waktu-waktu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari senja baru saja tenggelam di ufuk barat. Malam pun merambat datang sementara kegelapan perlahan mulai menyelimuti bumi. Tampak beberapa anak kecil sedang bermain, berkejaran di pekarangan sebuah rumah. Sesekali, mereka berlari ke jalanan kampung. Di teras sebuah rumah, seorang ibu terlihat tengah meninabobokan bayinya, beralasan “mencari angin” karena si bayi kepanasan di dalam rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran ini, yakni keluarnya anak kecil ketika malam mulai datang adalah pemandangan biasa yang kita jumpai di sekitar kita, di masyarakat kita yang awam dan jauh dari bimbingan agama. Anak-anak mereka dibiarkan begitu saja, tanpa pencegahan dan tanpa penjagaan. Tahukah mereka bahwa pada saat yang demikian itu setan, makhluk yang jahat, musuh manusia, bertebaran sehingga dapat memudharatkan anak-anak tersebut dengan ijin Allah Subhanahu wa Ta’ala?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belumkah sampai pada mereka bimbingan dari Rasul mereka yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam titah beliau yang agung:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;إِذَا اسْتَجْنَحَ اللَّيْلُ – أَوْ كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ – فَكُفُّوا صِبْيَا نَكُمْ فَإِنَّ الشَّيَاطِيْنَ تَنْتَشِرُ حِيْنَئِذٍ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنَ الْعِشَاءِ فَخَلُّوهُمْ، وَأَغْلِقْ بَابَكَ وَاذْكُرِ اسْمَ الله… الْحَدِيْثَ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Apabila malam telah datang (setelah matahari tenggelam), tahanlah anak-anak kalian, karena setan bertebaran ketika itu. Apabila telah berlalu sesaat dari waktu ‘Isya lepaskanlah (biarkanlah) mereka, tutuplah pintumu, dan sebutlah nama Allah (mengucapkan bismillah pen.)…”&lt;/span&gt; (HR. Al-Bukhari No. 3280 dan Muslim No. 2012)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud dari kalimat ( اسْتَجْنَحَ اللَّيْلُ ) atau ( جُنْحُ اللَّيْلِ ) adalah kegelapan malam, yakni datangnya malam setelah matahari tenggelam. ( فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ ) yakni tahanlah anak-anak untuk keluar pada waktu tersebut karena dikhawatirkan mereka akan diganggu oleh setan yang banyak berkeliaran pada saat itu. (Syarah Shahih Muslim 14/185-186, Fathul Bari 6/411)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belumkah pula sampai pada mereka larangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang semakna dengan perintah dalam hadist di atas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;لاَ تُرْسِلُوا فَوَاشِيَكُمْ وَ صِبْيَانَكُمْ إِذَا غَابَتِ الشَّمْسُ حَتَّى تَذْهَبَ فَحْمَتُ الْعِشَاءِ، فَإِنَّ الشَّيَاطِيْنَ تَنْبَعِثُ إِذَا غَابَتِ الشَّمْسُ حَتَّي تَذْهَبَ فَحْمَةُ العِشَاءِ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Janganlah kalian melepas hewan-hewan ternak dan anak-anak kalian apabila matahari telah tenggelam hingga berlalu fahmah isya karena para setan keluar/berjalan cepat apabila matahari tenggelam sampai berlalu fahmah isya.”&lt;/span&gt; (HR. Muslim No. 2013)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat ( فَحْمَةُ الْعِشَاءِ ) (fahmah isya) dalam hadist di atas maknanya adalah gelap dan hitamnya malam, atau datangnya malam dan awal gelapnya. (Syarah Shahih Muslim 14/186). Sebagian ahlul ilmi memaknainya dengan datangnya waktu ‘Isya dan awal gelapnya. Kegelapan antara shalat Maghrib dan ‘Isya diistilahkan fahmah sedangkan antara shalat ‘Isya dengan shalat Shubuh diistilahkan ‘as’asah. (Nihayatul Gharib , 3/317)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam di atas, jelas sekali beliau memberi bimbingan agar anak-anak tidak dibiarkan keluar rumah, tapi ditahan di dalam rumah, ketika matahari telah tenggelam dan malam telah datang dengan kegelapannya. Bimbingan ini beliau berikan untuk menjaga anak-anak dari gangguan setan karena di waktu tersebut setan banyak bertebaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dalam hadist ini terdapat sejumlah kebaikan dan adab yang mengumpulkan kebaikan dunia dan akhirat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan umatnya untuk melakukan adab-adab ini karena dengan melakukannya berarti menempuh sebab keselamatan dari gangguan setan. Setan tidak dapat membuka pintu yang tertutup dan tidak dapat pula mengganggu anak kecil dan selainnya apabila dilakukan perkara ini (dengan menyebut nama Allah/mengucapkan bismillah).” (Syarah Shahih Muslim, 14/185)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Jauzi Rahimahullah menyatakan bila anak-anak kecil berkeliaran di luar rumah pada waktu tersebut dikhawatirkan mereka akan mendapat gangguan dari setan sementara anak-anak umumnya belum dapat berzikir dimana dengannya bisa membentengi diri mereka dari setan. Setan ini ketika bertebaran mereka bergantungan dengan apa yang memungkinkan bagi mereka untuk bergantung. (Fathul Bari, 6/411)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hadist di atas, kita pun mengetahui bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan menutup pintu rumah dengan menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menghalangi masuknya setan yang akan membawa kemudharatan bagi penghuni rumah. Bila pintu telah ditutup dengan mengucapkan bismillah, setan tidak akan mampu membukanya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Setan tidak dapat membuka pintu yang tertutup.” &lt;/span&gt;(HR. Al-Bukhari No. 3304 dan Muslim No. 2012)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Daqiqil ‘Ied Rahimahullah berkata: “Dalam perintah menutup pintu ada maslahat diniyyah dan duniawiyyah (kebaikan dunia dan akhirat) berupa penjagaan jiwa dan harta dari ahlul batil dan pembuat kerusakan terlebih lagi dari para setan. Adapun hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Setan tidak dapat membuka pintu yang tertutup”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan isyarat bahwa perintah menutup pintu bertujuan untuk menjauhkan setan dari bercampur baur dengan manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau Rahimahullah juga menyatakan: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengabarkan bahwa setan tidak diberi kekuatan untuk melakukan sesuatu pun dari perkara yang disebutkan dalam hadist (seperti membuka pintu yang tertutup, bejana yang tertutup, dsb, pen.) walaupun ia diberi kekuatan yang lebih besar daripada itu seperti masuk ke tempat-tempat yang tidak mampu dimasuki manusia.” (Fathul Bari, 11/90)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Mubarakfuri Rahimahullah menyatakan bahwa setan ini bisa dikatakan tertolak untuk masuk ke rumah seseorang dari seluruh sisinya dengan barakah tasmiyah (ucapan bismillah). Dalam hadist hanya disebutkan perintah menutup pintu (dengan membaca bismillah) karena pintu merupakan bagian yang paling mudah untuk dilalui ketika masuk ke dalam rumah. Bila setan ini tertolak untuk masuk lewat pintu (karena pintunya tertutup dengan mengucapkan bismillah) maka tentunya setan ini lebih tertolak lagi untuk masuk ke dalam rumah lewat bagian rumah yang lebih sulit dilalui. (Tuhfatul Ahwadzi, 5/433)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Rahimahullah berkata: “Menyebut nama Allah akan memisahkan setan dari melakukan perkara-perkara yang disebutkan. Dengan demikian, bila tidak disebut nama Allah, setan bisa melakukan perkara-perkara tersebut. Yang menguatkan hal ini adalah hadist yang dikeluarkan oleh Muslim1 dan Al-Arba’ah2 dari Jabir bin Abdillah Radhiallahu ‘anhu secara marfu’ 3:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ الله عِنْدَ دُخُوْلِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ، قَالَ الشَّيْطَانُ: لاَ مَبِيْتَ لَكُمْ وَ لاَ عَشَاءَ. وَ إِذَ دَخَلَ فَلَمْ يَذْكُرِ الله عِنْدَ دُخُوْ لِهِ، قَالَ الشَّيْطَانُ: أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيْتَ. وَ إِذَا لَمْ يَذْكُرِ الله عِنْدَ طَعَامِهِ، قَالَ: أَدْرَكْتُمُ الْمَيْتَ وَالْعَشَاءَ.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Apabila seseorang masuk ke rumahnya dalam keadaan berzikir kepada Allah ketika masuknya dan ketika memakan makannya, berkatalah setan: Tidak ada tempat bermalam bagi kalian dan tidak ada makan malam. Kalau orang itu masuk rumah, dia tidak berzikir ketika masuknya, berkatalah setan: Kalian mendapatkan tempat bermalam. Dan bila dia tidak berzikir ketika makan, berkatalah setan: Kalian mendapatkan tempat bermalam dan makan malam.” &lt;/span&gt;(Fathul Bari, 11/90)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai, alangkah jauhnya lingkungan kita dan masyarakat kita dari mengamalkan tuntunan agama ini. Semoga dengan membaca nasehat ini, mereka mendapatkan ilmu dan pemahaman, yang kemudian mereka amalkan dalam kehidupan mereka, amin… Allah sajalah yang memberi taufik!!!&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Footnote:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 No. 2018.&lt;br /&gt;2 Yaitu At-Tirmidzi, Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Majah.&lt;br /&gt;3 Sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber: Majalah Asy Syari’ah, Vol. II/No.15/1426H/2005, Rubrik Mutiara Kata, Hal. 76-78. Dinukil untuk http://akhwat.web.id. Silakan mengcopy dan memperbanyak dengan menyertakan sumbernya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;http://anakmuslim.wordpress.com/2010/11/22/anak-pun-perlu-dijaga-ketika-petang-menjelang/#more-160&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-2508718343218791782?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/2508718343218791782/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/12/matahari-senja-baru-saja-tenggelam-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/2508718343218791782'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/2508718343218791782'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/12/matahari-senja-baru-saja-tenggelam-di.html' title='Anak Pun Perlu Dijaga Ketika Petang Menjelang'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_taMajVQWOio/THW6WQ3QMpI/AAAAAAAAAoI/l5bIXm5grWE/s72-c/akatsuki-langit-petang1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-8133615768955777050</id><published>2010-12-02T04:27:00.000-08:00</published><updated>2010-12-02T04:32:26.019-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download Kajian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akhlaq'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dauroh'/><title type='text'>(Download) Wasiat Berharga Dari Akhlak Salaf</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/.jpg" target="_blank"&gt;&lt;img style="width: 395px; height: 558px;" class="alignnone" src="http://www.salafybpp.com/images/pamflet-daurah-sehari.nop-2.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;Berikut ini link download Rekaman dauroh "Wasiat Berharga dari Akhlak Salaf" dengan pemateri Ustadz Dzulqarnain.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/file/8l-yc3cQ/Wasiat_berharga_dari_akhlak_Sa.html" target="_blank"&gt;Download 1&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/file/OL8zOgJJ/Wasiat_berharga_dari_akhlak_Sa.html" target="_blank"&gt;Download 2&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/file/OPzH590x/Wasiat_berharga_dari_akhlak_Sa.html" target="_blank"&gt;Download 3&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/file/riGuIZbY/Wasiat_berharga_dari_akhlak_Sa.html" target="_blank"&gt;Download 4&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/file/riGuIZbY/Wasiat_berharga_dari_akhlak_Sa.html" target="_blank"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber: http://inhaidir.wordpress.com/&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/file/riGuIZbY/Wasiat_berharga_dari_akhlak_Sa.html" target="_blank"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-8133615768955777050?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/8133615768955777050/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/12/download-wasiat-berharga-dari-akhlak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/8133615768955777050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/8133615768955777050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/12/download-wasiat-berharga-dari-akhlak.html' title='(Download) Wasiat Berharga Dari Akhlak Salaf'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-6915633767186315808</id><published>2010-11-28T03:59:00.000-08:00</published><updated>2010-11-28T04:28:26.180-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa Ulama'/><title type='text'>Hukum Menggunakan Kalender Masehi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href=""&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 277px; height: 236px;" src="http://w13.itrademarket.com/pdimage/53/1448453_kalender.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pergantian tahun masehi tak lama lagi, sebagaimana kaum muslimin yang tinggal di negeri non Arab lainnya  kalender atau penanggalan yang digunakan tentu saja adalah kalender masehi. Bagaimana hukumnya? Berikut ini beberapa fatwa Ulama berkaitan dengan penggunakan kalender Masehi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;FATWA AL-LAJNAH AD-DÂ`IMAH LIL BUHÛTSIL ‘ILMIYYAH WAL IFTÂ`&lt;br /&gt;[KOMISI TETAP UNTUK PEMBAHASAN ILMIAH DAN FATWA - ( SAUDI ‘ARABIA)]&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pertanyaan Ke-2 dari fatwa nomor 2072&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pertanyaaan : &lt;/span&gt;Bolehkah berinteraksi dengan kalender masehi dengan  orang-orang tidak mengetahui kalender hijriyah, seperti kaum muslimin  non arab atau atau orang-orang kafir mitra kerja?&lt;span id="more-707"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawaban :&lt;/span&gt; Tidak boleh bagi kaum muslimin menggunakan kalender masehi  karena sesungguhnya hal tersebut merupakan bentu tasyabbuh (menyerupai)  [1] orang-orang nashara dan termasuk syiar agama mereka. Sebenarnya kaum  muslimin, walhamdulillâh telah memiliki kalender yang telah mencukupi  diri mereka yang mengaitkan mereka dengan Nabi mereka Muhammad  Shalallahu ‘alaihi wasallam sekaligus ini merupakan kemuliaan yang  besar. Namun apabila ada suatu kebutuhan yang sangat terdesak maka boleh  menggabung kedua kalender tersebut.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Wabillahit Taufiq. Washallallâhu ‘ala Nabiyinâ Muhammad wa Âlihi wa Shabihi wa sallam&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;Al-Lajnah Ad-Dâ`imah Lil Buhûtsil ‘Ilmiyah Wal Iftâ`&lt;br /&gt;Anggota : Bakr Abû Zaid&lt;br /&gt;Shâlih Al-Fauzân&lt;br /&gt;‘Abdullâh bin Ghudayyân&lt;br /&gt;Wakil Ketua : ‘Abdul ‘Azîz Âlusy Syaikh&lt;br /&gt;Ketua : ‘Abdul Azîz Bin ‘Abdillâh bin Bâz&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;FATWA ASY-SYAIKH MUHAMMAD BIN SHÂLIH AL-’UTSAIMÎN&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pertanyaan:&lt;/span&gt; Fadhîlatusy Syaikh, pertanyaanku ini ada 2 hal. Yang pertama  bahwa sebagian orang mengatakan kita tidak boleh mengedepankan kalender  masehi daripada kalender hijriyyah, dasarnya adalah karena  dikhawatirkan terjadinya loyalitas kepada orang-orang kafir. Akan tetapi  kalender masehi lebih tepat dari pada kalender hijriyyah dari sisi yang  lain. Mereka mengatakan sesungguhnya mayoritas negeri-negeri  menggunakan kalender masehi ini sehingga kita tidak bisa untuk  menyelisihi mereka.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawaban: &lt;/span&gt;Bahwa realita penentuan waktu berdasarkan pada hilâl  merupakan asal bagi setiap manusia, sebagaimana firman Allah subhanahu  wa Ta’ala :&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;يَسْأَلونَكَ عَنِ الأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Mereka bertanya kepadamu tentang hilâl. Katakanlah: “Hilâl itu adalah  tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji; &lt;/span&gt;[Al Baqarah: 189]&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ini berlaku untuk semua manusia&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dan bacalah firman Allah ‘Azza wa Jalla :&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;ِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي  كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ  حُرُمٌ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan,  dalam ketetapan Allah ketika Dia menciptakan langit dan bumi, di  antaranya empat bulan haram.”&lt;/span&gt; [At Taubah: 36]&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bulan-bulan apakah itu? Maka tidak lain adalah bulan-bulan yang  berdasarkan hilâl. Oleh karena itu Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam  menafsirkan bahwasannya empat bulan tersebut adalah : Rajab, Dzulqa’dah,  Dzulhijjah, dan Muharram. Inilah yang merupakan pokok asal.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Adapun bulan-bulan yang ada di tengah-tengah manusia sekarang ini  adalah bulan-bulan yang bersifat perkiraan dan tidak dibangun di atas  dasar yang tepat. Kalau seandainya hal itu berdasarkan bintang niscaya  hal itu ada dasarnya karena bintang sangat jelas keberadaannya di atas  langit dan waktu-waktunya. Akan tetapi bulan-bulan yang didasarkan atas  prasangka tersebut tidaklah memiliki dasar. Sebagai bukti, di antara  bulan tersebut ada yang 28 hari dan sebagiannya 31 hari yang semua itu  tidak ada dasarnya sama sekali. Akan tetapi apabila kita dihadapkan pada  dilema berupa kondisi harus menyebutkan kalender masehi ini, maka  kenapa kita harus berpaling dari kalender hijriyyah kemudian lebih  memilih kalender yang sifatnya prasangka dan tidak memiliki dasar  tersebut?! Suatu hal yang sangat mungkin sekali bagi kita untuk  menggunakan penanggalan hijriyyah ini kemudian kita mengatakan bahwa  tanggal hijriyyah sekian bertepatan dengan tanggal masehi sekian. Karena  melihat kebanyakan dari negeri-negeri Islam yang telah dikuasai oleh  orang-orang kafir kemudian mereka merubah kalender hijriyyah tersebut  kepada kelender masehi yang hakekatnya itu adalah dalam rangka untuk  menjauhkan mereka dari perkara tersebut dan dalam rangka menghinakan  mereka.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Maka kita katakan, apabila kita dihadapkan pada musibah yang seperti  ini sehingga kita harus menyebutkan kalender masehi juga, maka  jadikanlah yang pertama kali disebut adalah kalender hijriyyah terlebih  dahulu kemudian kita katakan bahwa tanggal hijriyyah sekian bertepatan  dengan tanggal masehi sekian.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kemudian si penanya tadi mengatakan bahwa sisi yang kedua dari  pertanyaan tersebut bahwa beberapa perusahaan mereka mengatakan bahwa  kami tidak menggunakan kalender masehi ini untuk maksud berloyalitas  kepada orang-orang kafir, akan tetapi karena keadaan  perusahaan-perusahaan yang ada di dunia ini yang kita menjalin hubungan  perdagangan bersamanya, menggunakan kalender masehi juga sehingga  akhirnya kita pun mau tidak mau menggunakan kalender masehi juga. Kalau  tidak maka disana ada suatu hal yang bisa memudharatkan diri kami baik  dari hal-hal yang berkaitan dengan transaksi dagang dan sebagainya. Maka  apa hukum permasalahan ini?&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jawabanya: Bahwa hukumnya adalah suatu yang mudah. Sebenarnya kita  bisa menggabung antara keduanya. Misalnya engkau mengatakan bahwa aku  dan fulan bersepakat dalam kesepakatan dagang pada hari ahad misalnya,  yang hari tersebut bertepatan dengan bulan hijriyyah sekian, kemudian  setelah itu baru kita sebutkan penanggalan masehinya, kira-kira mungkin  tidak?&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Penanya menjawab: Tentu, sesuatu yang mungkin.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;(Liqâ`âtul Bâbil Maftûh)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;FATWA FADHÎLATUSY SYAIKH SHÂLIH BIN FAUZÂN AL-FAUZÂN&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pertanyaan :&lt;/span&gt; Apakah menggunakan kalender masehi termasuk sebagai bentuk wala’ (loyalitas) terhadap Nashara?&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawab :&lt;/span&gt; Tidak termasuk sebagai bentuk loyalitas tetapi termasuk  bentuk tasyabbuh (penyerupaan) dengan mereka (Nashara). Para shahabat  pun tidak menggunakannya, padahal kalender masehi telah ada pada zaman  tersebut. Bahkan mereka berpaling darinya dan menggunakan kalender  hijriyyah. Ini sebagai bukti bahwa kaum muslimin hendaknya melepaskan  diri dari adat kebiasaan orang-orang kafir dan tidak membebek kepada  mereka. Terlebih lagi kalender masehi merupakan simbol agama mereka,  sebagai bentuk pengagungan atas kelahiran Al-Masîh dan perayaan atas  kelahiran tersebut yang biasa dilakukan pada setiap penghujung tahun  (masehi). Ini adalah bid’ah yang diada-adakan oleh Nashara (dalam agama  mereka).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Maka kita tidak ikut andil dengan mereka dan tidak menganjurkan hal  tersebut sama sekali. Apabila kita menggunakan kalender mereka, berarti  kita menyerupai mereka. Padahal kita -dan segala pujian bagi Allah  semata- telah memiliki kalender hijriyyah yang telah ditetapkan oleh  Amîrul Mu`minîn ‘Umar bin Al-Khaththâb bagi kita di hadapan para sahabat  Muhajirin dan Anshar ketika itu. Maka ini sudah cukup bagi kita.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Al-Muntaqâ min Fatâwa Al-Fauzân XVII / 5, fatwa no. 153 )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;[1] Perbuatan tasyabbuh terhadap orang-orang kafir dilarang dalam Islam. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;« مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ »&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk kaum tersebut.”&lt;/span&gt;  [HR. Ahmad II/50 dan Abû Dâwud no. 4031. dishahihkan oleh Asy-Syaikh  Al-Albâni dalam Al-Irwâ` no. 1269]&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber: (Dikutip dari tulisan berjudul “HUKUM MENGGUNAKAN KALENDER MASEHI”. URL Sumber http://www.assalafy.org/mahad/?p=292#more-292)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-6915633767186315808?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/6915633767186315808/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/hukum-menggunakan-kalender-masehi.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/6915633767186315808'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/6915633767186315808'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/hukum-menggunakan-kalender-masehi.html' title='Hukum Menggunakan Kalender Masehi'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-6924559598366905028</id><published>2010-11-28T02:37:00.000-08:00</published><updated>2010-11-28T02:49:48.420-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download Kajian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Musibah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasihat'/><title type='text'>(Download) Hikmah Dibalik Musibah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TPIzacmNE4I/AAAAAAAAAo0/g78Li1l6quk/s1600/INDONESIA-VOLCANO-410603-01-02-20101108-034000.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 146px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TPIzacmNE4I/AAAAAAAAAo0/g78Li1l6quk/s200/INDONESIA-VOLCANO-410603-01-02-20101108-034000.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5544550620692550530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Berikut ini link download rekaman kajian Hikmah dibalik musibah oleh Ust. Dzulqarnain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/problemamuslim/Audio/HikmahDibalikMusibah%26Bencana_UstDzulqarnain.wma"&gt;Hikmah dibalik Musibah-Ust. Dzulqarnain.wma&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber: www.ilmoe.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-6924559598366905028?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/6924559598366905028/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/download-hikmah-dibalik-musibah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/6924559598366905028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/6924559598366905028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/download-hikmah-dibalik-musibah.html' title='(Download) Hikmah Dibalik Musibah'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TPIzacmNE4I/AAAAAAAAAo0/g78Li1l6quk/s72-c/INDONESIA-VOLCANO-410603-01-02-20101108-034000.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-4097896110169281315</id><published>2010-11-26T09:27:00.000-08:00</published><updated>2010-11-26T10:01:31.986-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wudhu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa Ulama'/><title type='text'>Berwudhu Di Kamar Mandi/WC</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href=""&gt;&lt;img style=""float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 222px; height: 186px;" src="http://b.cdn.tendaweb.com/fckfiles/image/Aria-Heryantha/kamar_mandi_1.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div  style="overflow: hidden; border: medium none;color:transparent;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Oleh : Syaikh Bin Baz rahimahullah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;Tanya&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Apakah sah wudhu di kamar mandi / WC ? karena harus melafadzkan ‘bismillah’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Jawab :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Tidak mengapa berwudhu' di dalam kamar mandi, jika  diperlukan, dan mambaca basmalah di awal wudhu'nya. Karena membaca  basmalah adalah wajib menurut sebagian ahli ilmu, dan merupakan sunnat  muakad (ditegaskan) menurut kebanyakan ulama. Maka orang tadi membaca  basmalah disebabkan keperluan, hukum makruh pun hilang. Karena hukum  makruh bisa hilang saat ditemukan keperluan untuk membaca basmalah. Dan  manusia diperintahkan untuk membaca basmalah di awal wudhu'nya, maka  orang tadi membaca basmalah dan lalu menyempurnakan wudhu'nya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a style="color: rgb(0, 0, 0);" name="more"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Adapun tasyahud (doa setelah wudhu')  maka dibaca setelah keluar dari kamar mandi (WC). Maka kalau orang tadi  telah selesai dari wudhu'nya, lalu keluar dan membaca tasyahud (doa  setelah wudhu') di luar kamar mandi. Adapun jika kamar mandi hanya  diperuntukkan untuk wudhu', bukan untuk buang air kecil dan buang air  besar, maka ini tidak mengapa ia membaca doa wudhu' di tempat itu, sebab  tempat itu bukanlah tempat untuk buang hajat (BAK dan BAB).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;[Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, dalam “Majmu’ fatawa wa maqolaat “ jilid 11.]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a style="color: rgb(0, 51, 153);" href="http://www.abuayaz.co.cc/2010/11/hukum-berwudhu-di-wc.html#ixzz16PVqASRd"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-4097896110169281315?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/4097896110169281315/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/berwudhu-di-kamar-mandiwc.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/4097896110169281315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/4097896110169281315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/berwudhu-di-kamar-mandiwc.html' title='Berwudhu Di Kamar Mandi/WC'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-52873184545004714</id><published>2010-11-26T09:10:00.000-08:00</published><updated>2010-11-26T09:18:50.141-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Shalat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa Ulama'/><title type='text'>Bolehkah Membatalkan Sholat Ketika Anak Menangis?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="overflow: hidden; color: rgb(0, 0, 0); background-color: transparent; text-decoration: none; border: medium none;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh : Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rohimahulloh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pertanyaan:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Bolehkah aku membatalkan sholat jika anakku berteriak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jawaban:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tidak boleh jika semata-mata karena ia berteriak, janganlah engkau  batalkan sholatmu, akan tetapi engkau boleh mundur ataupun maju lalu  menggendongnya, dan boleh pula engkau susui ia, karena Nabi shollallohu  alaihi wa ala aalihi wa sallam pernah sholat sambil menggendong Umamah,  cucu beliau[1]. Dan tidak mengapa jika engkau mempercepat sholat, karena  Rosululloh shollallohu alaihi wa ala aalihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya aku memulai sholat dan aku ingin memanjangkannya, namun  aku mengurungkannya (dengan memperpendek sholat, pent) ketika aku  mendengar tangis seorang bayi, karena kasihan terhadap ibunya.”[2] Atau  yang semakna dengan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan janganlah engkau membatalkan sholat kecuali jika ada ular di  depannya, atau ia terjatuh dan memecahkan sesuatu, atau ia jadi  kesakitan, maka tidak mengapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallohul Musta’aan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; As`ilah Nisaa` li Hajj&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;______________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan Kaki:&lt;br /&gt;[1] HR. al-Bukhori (516) dan Muslim (543) dari Qotadah rodhiyallohu anhu.&lt;br /&gt;[2] HR. al-Bukhori (709 &amp;amp; 710) dan Muslim kitab ash-Sholat (192) dari Anas rodhiyallohu anhu.&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a style="color: rgb(0, 51, 153);" href="http://www.abuayaz.co.cc/2010/06/ketika-anak-menangis-bolehkah.html#ixzz16PRdLyCz"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-52873184545004714?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/52873184545004714/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/bolehkah-membatalkan-sholat-ketika-anak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/52873184545004714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/52873184545004714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/bolehkah-membatalkan-sholat-ketika-anak.html' title='Bolehkah Membatalkan Sholat Ketika Anak Menangis?'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-6821956496388278712</id><published>2010-11-26T04:35:00.000-08:00</published><updated>2010-11-26T04:51:27.432-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Al-Qur&apos;an'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download Kajian'/><title type='text'>(Download) Al Quran Sebagai Obat Dari Segala Penyakit</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_oLeOGlRzLsE/TAk46nzUZOI/AAAAAAAAAVM/SwBb2DBZzPs/s1600/gal_Quran.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 167px; height: 120px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_oLeOGlRzLsE/TAk46nzUZOI/AAAAAAAAAVM/SwBb2DBZzPs/s1600/gal_Quran.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;Berikut ini adalah rekaman  Kajian &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Al Quran Sebagai Obat Dari Segala Penyakit  &lt;/span&gt;oleh Ust. Ali Basuki.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="ymp-media-c4b50d1993ad9b3c852c9d5a0ca20064 ymp-btn-page-play" href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/problemamuslim/Audio/AlQuranSebagaiObatDrSgalaPenyakit_UstAliBasuki.mp3" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Al Qur'an Sebagai Obat dari Segala Penyakit-Ust. Ali Basuki.mp3&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-6821956496388278712?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/6821956496388278712/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/al-quran-sebagai-obat-dari-segala.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/6821956496388278712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/6821956496388278712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/al-quran-sebagai-obat-dari-segala.html' title='(Download) Al Quran Sebagai Obat Dari Segala Penyakit'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_oLeOGlRzLsE/TAk46nzUZOI/AAAAAAAAAVM/SwBb2DBZzPs/s72-c/gal_Quran.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-8903088430532174952</id><published>2010-11-25T03:52:00.000-08:00</published><updated>2010-11-25T04:04:52.339-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bank'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muamalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Riba'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa Ulama'/><title type='text'>Hukum Bekerja di Bank</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.eramuslim.com/fckfiles/image/islamic_finance.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 206px; height: 136px;" src="http://www.eramuslim.com/fckfiles/image/islamic_finance.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Afifuddin hafizhahullah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu&lt;/span&gt; menjawab: “…Tidak diperbolehkan bekerja di bank seperti ini (bank riba), sebab termasuk ta’awun di atas dosa dan permusuhan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”&lt;/span&gt; (Al-Ma`idah: 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan dalam Ash-Shahih dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;لَعَنَ آكِلَ الرِّبَا وَمُوْكِلَهُ وَكاَتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Melaknat pelaku riba, yang memberi riba, penulis dan kedua saksinya. Beliau berkata: ‘Mereka semua sama’.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun gaji yang telah anda terima, maka itu halal bagi anda bila anda tidak tahu hukumnya secara syar’i, dengan dasar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ يَمْحَقُ اللهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللهُ لاَ يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيْمٍ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.”&lt;/span&gt; (Al-Baqarah: 275-276)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun bila anda tahu bahwa pekerjaan tersebut tidak diperbolehkan, maka wajib bagi anda untuk menyalurkan gaji yang telah anda terima untuk kepentingan-kepentingan kebaikan dan menyantuni fakir miskin, disertai dengan taubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan taubat nasuha niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima taubatnya dan mengampuni kesalahannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا تُوْبُوْا إِلَى اللهِ تَوْبَةً نَصُوْحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kalian akan menghapus kesalahankesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”&lt;/span&gt; (At-Tahrim: 8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman pula:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ جَمِيْعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung.” &lt;/span&gt;(An-Nur: 31) [Fatawa Ibn Baz, 2/195-196]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa senada juga disampaikan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah, sebagaimana dalam Fatawa Buyu’ (hal 128-132), juga Fatawa Al-Lajnah (13/344-345).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :  http://asysyariah.com/print.php?id_online=421 &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-8903088430532174952?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/8903088430532174952/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/hukum-bekerja-di-bank.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/8903088430532174952'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/8903088430532174952'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/hukum-bekerja-di-bank.html' title='Hukum Bekerja di Bank'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-5119800098725590210</id><published>2010-11-25T02:58:00.000-08:00</published><updated>2010-11-25T03:26:13.864-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muamalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TKI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasihat'/><title type='text'>Fenomena TKI di Arab Saudi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://nasihatonline.files.wordpress.com/2010/11/baitullah.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 252px; height: 189px;" src="http://nasihatonline.files.wordpress.com/2010/11/baitullah.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah  pemerintahan Islam atau masyarakat Islam bukanlah sebuah kumpulan  orang-orang yang tidak pernah berbuat dosa sama sekali, sehingga kita  bisa menuduh para ulama yang membimbing masyarakat tersebut telah gagal  atau tidak becus dalam membina negaranya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bahkan di masa kepemimpinan Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu’alaihi wa sallam&lt;/em&gt; yang masyarakatnya adalah generasi terbaik ummat ini, ada orang yang didera karena minum khamar&lt;a href="http://nasihatonline.wordpress.com/2010/11/22/fenomena-tki-di-arab-saudi/#_edn1"&gt;[1]&lt;/a&gt;, ada yang dirajam karena berzina&lt;a href="http://nasihatonline.wordpress.com/2010/11/22/fenomena-tki-di-arab-saudi/#_edn2"&gt;[2]&lt;/a&gt;, bahkan ada yang murtad keluar dari Islam&lt;a href="http://nasihatonline.wordpress.com/2010/11/22/fenomena-tki-di-arab-saudi/#_edn3"&gt;[3]&lt;/a&gt;. Namun tidak ada satupun yang menuduh Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu’alaihi wa sallam &lt;/em&gt;telah gagal mendidik para sahabatnya. &lt;span id="more-563"&gt;&lt;/span&gt;Karena memang, tidak ada satupun manusia yang terjaga dari kesalahan selain para Nabi dan Rasul &lt;em&gt;‘alaihimussalam&lt;/em&gt;, olehnya Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu’alaihi wa sallam&lt;/em&gt; bersabda:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;كُلُّ بنِي آدَمَ خَطَّاءٌ ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;“Setiap anak adam senantiasa berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang senantiasa bertaubat.”&lt;/em&gt; (&lt;strong&gt;HR. At-Tirmidzi&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;Ibnu Majah&lt;/strong&gt;, dihasankan &lt;strong&gt;Asy-Syaikh Al-Albani&lt;/strong&gt; dalam &lt;strong&gt;Shohihut Targhib&lt;/strong&gt;, no. 3139)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pengalaman belajar di Saudi, bergaul  dengan sebagian pekerja Indonesia yang kebetulan ketemu di masjid, di  jalan, di toko, di majelis-majelis ilmu dan dalam suatu bimbingan ibadah  haji tahun 1431 H atas permintaan sebuah travel yang pesertanya lebih  dari 90 % pekerja Indonesia, sisanya India, Maroko dan Philipina. Semua  itu menyisakan banyak cerita yang mungkin sebagiannya bisa dijadikan  pelajaran, terutama yang berkaitan dengan &lt;strong&gt;hubungan antara pekerja dan majikan&lt;/strong&gt;,  yang oleh musuh-musuh Dakwah Tauhid dijadikan senjata untuk menjatuhkan  ulama Ahlus Sunnah di negeri ini. Insya Allah akan kami sarikan dalam  beberapa poin berikut:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;1.      Para majikan tidak semuanya  memahami agama dengan baik, banyak yang awam, tidak mau belajar agama  dan banyak yang zalim terhadap pekerjanya&lt;a href="http://nasihatonline.wordpress.com/2010/11/22/fenomena-tki-di-arab-saudi/#_edn4"&gt;[4]&lt;/a&gt;. Kepada mereka para ulama di negeri ini telah menasihati, baik secara pribadi maupun terang-terangan, seperti nasihat &lt;strong&gt;Asy-Syaikh Muhammad bin Ahmad Al-Fiyfiy&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;hafizhahullah&lt;/em&gt; yang sangat menyentuh di &lt;a href="http://www.sahab.net/"&gt;www.sahab.net&lt;/a&gt;&lt;a href="http://nasihatonline.wordpress.com/2010/11/22/fenomena-tki-di-arab-saudi/#_edn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; yang berjudul &lt;strong&gt;&lt;em&gt;At-Tahdzir min Zhulmil Khudam wal ‘Ummal &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;(&lt;strong&gt;Peringatan Keras dari Perbuatan Zalim kepada para Pembantu dan Pekerja&lt;/strong&gt;). Demikian pula para khatib dan imam masjid terkadang menyampaikan khutbah tentang bahaya perbuatan zalim terhadap para pekerja&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;2.      Oleh karena itu, seharusnya TKI  diberikan informasi tentang keadaan calon majikannya sebelum dia  memutuskan bekerja kepada majikan tersebut, semoga hal ini bisa menjadi  catatan untuk semua pihak yang terkait dalam pemberangkatan TKI&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;3.      Alhamdulillah tidak semua majikan yang zalim, masih banyak yang baik insya Allah, meskipun bukan dari kalangan &lt;em&gt;mutawwa’&lt;a href="http://nasihatonline.wordpress.com/2010/11/22/fenomena-tki-di-arab-saudi/#_edn6"&gt;&lt;strong&gt;[6]&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;, atau penuntut ilmu, apalagi masyaikh. Bentuk-bentuk kebaikan mereka yang bisa saya ceritakan di sini:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Dari 100 orang yang ikut haji dalam bimbingan kami hampir semuanya  dibiayai oleh majikannya, biayanya sekitar 3500 riyal atau senilai  kurang lebih 7,5 juta rupiah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perhatian majikan kepada pekerjanya selama melaksanakan ibadah haji  dalam bentuk menelepon dan menanyakan kabar serta bagaimana pelayanan  travel terhadap mereka. Jika pekerjanya mengadukan pelayanan travel yang  kurang bagus, tidak lama kemudian majikan akan menelepon pengurus  travel ini dan memarahinya habis-habisan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sampai-sampai ada majikan yang berkata kepada pekerjanya, “Sampaikan  kepada pengurus travel, berapa saja biaya yang dia minta akan saya  berikan, asalkan kamu mendapat pelayanan yang baik”.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Seorang Ikhwan dibebaskan oleh majikannya dari seluruh pekerjaannya  demi untuk menuntut ilmu, masih ditambah dengan uang saku per bulan  dikirim secara rutin oleh majikannya. Bahkan Ikhwan yang lain, sampai  pulang ke Indonesia masih dikirimi uang secara rutin oleh majikannya,  demi untuk membiayai kegiatan-kegiatan dakwah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Seorang pekerja asal Sumbawa, apabila dia cuti pulang kampung  majikannya biasa menitipkan uang untuk dibagi-bagikan kepada keluarga  dan tetangganya yang miskin&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pekerja asal Jawa Barat, mengabarkan tentang pembangunan masjid di  kampungnya yang belum selesai, langsung dikucurkan dana oleh majikannya  tanpa mengecek langsung ke lokasi apakah dananya sampai atau tidak&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Seorang pekerja asal Jawa Barat, majikannya biasa mengantarnya untuk  menghadiri pengajian yang diadakan oleh Kantor Dakwah untuk Orang-orang  Asing&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Seorang Ikhwan menceritakan, saudarinya bekerja pada seorang  masyaikh, bertahun-tahun bekerja kepada keluarga masyaikh tersebut tidak  pernah sekalipun dia berada dalam satu ruangan bersama majikannya yang  laki-laki&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Seorang Ustadz menceritakan, bahwa seorang majikan meminta  bantuannya untuk menasihati pembantu wanitanya yang sering menggodanya  untuk berzina, akhirnya sang Ustadz menelepon dan menasihati pembantu  ini&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Banyak majikan yang mensyaratkan supirnya harus disertai istrinya  untuk mengantar anak-anak puteri mereka ke sekolah. Demikian pula  sebaliknya, pembantu wanita harus datang bersama mahramnya&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Para masyaikh banyak sekali membebaskan pekerja mereka dari semua pekerjaan jika para pekerja ini benar-benar mau menuntut ilmu&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;4.      Sebenarnya aturan-aturan  pemerintah Saudi sangat menjamin para pekerja asing, diantaranya  kewajiban majikan untuk membuatkan asuransi kesehatan bagi para  pekerjanya dan hukuman yang setimpal bagi para majikan yang zalim  terhadap pekerjanya, berikut beberapa kasus yang kami dengarkan:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Seorang majikan memukul supirnya, sang supir ini ditemukan oleh  seorang Ikhwan Saudi dan membawanya ke kantor polisi, saat itu juga  majikannya langsung dijemput dan ditahan oleh polisi dan wajib di&lt;em&gt;qishah&lt;/em&gt; atau membayar sejumlah uang kepada pekerjanya yang dizalimi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Cerita seorang Ustadz, ada majikan yang dituntut oleh pengadilan  untuk membayar berapapun yang diminta oleh seorang pembantu wanita yang  dizalimi oleh si majikan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Seorang majikan yang membunuh pekerjanya terancam hukuman mati,  namun pihak keluarga di Indonesia lebih memilih untuk memaafkan dan  menerima ganti rugi (&lt;em&gt;diyah&lt;/em&gt;), akhirnya uang milyaran rupiah dititipkan melalui kedutaan Indonesia&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;5.      Ketika majikan berbuat zalim,  masalah terbesar para pekerja Indonesia adalah tidak mampu melapor ke  kantor polisi, diantaranya karena kendala bahasa, tidak mengerti dengan  aturan-aturan yang ada dan tidak adanya pendamping mereka yang siap  siaga ketika dibutuhkan. Adapun pemerintah Philipina, sangat terkenal  pendampingan dan pembelaannya kepada pekerjanya, jika ada masalah yang  terjadi pada pekerjanya mereka akan langsung turun ke lokasi dan  menggunakan kekuatan diplomasinya untuk menekan pemerintah Saudi agar  memproses menurut hukum yang berlaku. Sehingga jarang terdengar ada  masalah antara majikan dan pekerja Philipina, padahal jumlah mereka (di  luar kota suci Makkah dan Madinah) tidak kalah banyak dengan pekerja  Indonesia&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;6.      Masalah terbesar dari sisi  syari’at adalah datangnya para pekerja wanita (TKW) tanpa disertai  mahram atau suami. Hampir semua masalah terjadi pada TKW yang tidak  bersama suami atau mahramnya, sehingga dengan mudah mereka dizalimi  tanpa ada yang membela mereka atau melaporkan ke kantor polisi. Padahal  Nabi &lt;em&gt;shallallahu’alaihi wa sallam&lt;/em&gt; telah melarang safar wanita tanpa mahram dalam sabda beliau:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;لا تسافر المرأة إلا مع ذي محرم ولا يدخل عليها رجل إلا ومعها محرم&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;“Janganlah wanita melakukan safar  (bepergian jauh) kecuali bersama mahramnya, dan janganlah seorang  laki-laki asing menemuinya melainkan wanita itu disertai mahramnya.” &lt;/em&gt;(&lt;strong&gt;HR. Al-Bukhari&lt;/strong&gt; dari &lt;strong&gt;Abdullah bin Abbas&lt;/strong&gt; radhiyallahu’anhuma)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;7.      Alhamdulillah, dengan sebab  kerja di Saudi banyak sekali pekerja yang mendapatkan kebaikan yang  sangat besar, diantara bentuknya:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Banyak pekerja yang tadinya beraqidah &lt;em&gt;sufiyah quburiyah&lt;/em&gt; dan  aqidah kesyirikan lainnya dengan berbagai macam bid’ahnya, tidak  melaksanakan sholat lima waktu dan tidak memahami adab-adab Islami.  Setelah tinggal di Saudi mereka tersentuh dakwah tauhid, meninggalkan  semua bentuk syirik dan bid’ah, rajin melaksanakan sholat lima waktu dan  mulai berhias dengan adab-adab Islami&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pekerja-pekerja Philipina, Nepal dan Sri Lanka yang tadinya beragama  Nasrani, Hindu dan Budha juga banyak sekali (sampai puluhan ribu orang)  yang masuk Islam dengan sebab da’i-da’i dan buku-buku yang dicetak  dengan bahasa mereka oleh Kantor-kantor Dakwah untuk Orang-orang Asing  di bawah naungan Kementrian Wakaf, Dakwah dan Bimbingan Saudi Arabia&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bisa menghadiri majelis-majelis ilmu para ulama&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bisa melaksanakan ibadah haji dan umroh&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;8.      Sayang sekali, banyak Kantor Dakwah untuk Orang-orang Asing disusupi oleh &lt;em&gt;hizbiyyun&lt;/em&gt; dari sebuah partai Islam di Indonesia dengan hanya bermodalkan ijazah LC dari LIPIA&lt;a href="http://nasihatonline.wordpress.com/2010/11/22/fenomena-tki-di-arab-saudi/#_edn7"&gt;[7]&lt;/a&gt;, diantara kerusakan yang mereka lakukan:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Fasilitas dakwah digunakan untuk mendakwahkan kebatilan manhaj mereka&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengajak kepada perpecahan dengan menjajakan partai mereka di musim Pemilu&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Beberapa orang TKI yang ana temui, telah ikut kajian mereka  bertahun-tahun namun tidak nampak adanya perubahan dalam aqidah dan  ibadahnya menjadi lebih baik. Berbeda dengan TKI yang mengikuti kajian  da’i-da’i Ahlus Sunnah, &lt;em&gt;alhamdulillah&lt;/em&gt; banyak yang berubah menjadi lebih baik, seperti yang ana singgung di atas&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hal itu karena memang tidak ada perhatian mereka terhadap dakwah  tauhid dan sunnah kecuali sedikit, malah mereka lebih banyak  memanfaatkan para TKI untuk bisnis pengiriman barang dan travel haji,  dengan bimbingan haji yang tidak mengikuti petunjuk Nabi &lt;em&gt;shallallahu’alaihi wa sallam&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;9.      Kezaliman yang diderita sebagian  TKI bukan hanya oleh majikan di Saudi tapi juga oleh PJTKI maupun  calo-calonya di Indonesia. Ana pernah menyaksikan sendiri bagaimana para  TKI ini dibentak-bentak dan diperlakukan tidak seperti manusia di  tempat penampungan TKI di Jakarta. Bahkan ketika sudah bekerja di Saudi  sebagian TKI masih diwajibkan mengirim sejumlah uang setiap bulan kepada  calo-calo ini di Indonesia&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;10.  Kami menghimbau kepada semua pihak  yang terkait dalam pemberangkatan TKI (termasuk keluarga para TKI)  ataupun yang diberi amanah oleh pemerintah untuk mengurus TKI di Saudi  maupun di negara lainnya; hendaklah bertakwa kepada Allah Ta’ala,  janganlah mengirim TKW tanpa disertai suami atau mahramnya dan hendaklah  melaksanakan tugas pembelaan dan pengurusan TKI sesuai amanah  pemerintah. Ingatlah pertanggungjawabannya kelak di hari kiamat!&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Inilah catatan ringan kami, hasil dari  dialog dengan beberapa TKI, semoga bisa diambil pelajarannya baik oleh  TKI, calon TKI maupun semua pihak yang terkait dalam pengurusan TKI.  Semoga Allah Ta’ala memperbaiki keadaan kaum muslimin dan pemerintah  mereka.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Wallahu A’la wa A’lam wa Huwal Musta’an.&lt;/em&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Footnote:&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://nasihatonline.wordpress.com/2010/11/22/fenomena-tki-di-arab-saudi/#_ednref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; &lt;strong&gt;Al-Imam Al-Bukhari&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt; meriwayatkan dalam &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Shahih&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;nya (6391):   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;عن أنس بن مالك رضي الله عنه : أن النبي صلى الله عليه و سلم ضرب في الخمر بالجريد والنعال وجلد أبو بكر أربعين&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://nasihatonline.wordpress.com/2010/11/22/fenomena-tki-di-arab-saudi/#_ednref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Seperti kisah &lt;strong&gt;Ma’iz bin Malik&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;radhiyallahu’anhu&lt;/em&gt; dalam riwayat &lt;strong&gt;Al-Bukhari&lt;/strong&gt; (6438) dan &lt;strong&gt;Muslim &lt;/strong&gt;(4520)&lt;/p&gt;   &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://nasihatonline.wordpress.com/2010/11/22/fenomena-tki-di-arab-saudi/#_ednref3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Seperti kisah suami &lt;strong&gt;Ummu Habibah&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;radhiyallahu’anha&lt;/em&gt; yang murtad di negeri Habasyah&lt;/p&gt;   &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://nasihatonline.wordpress.com/2010/11/22/fenomena-tki-di-arab-saudi/#_ednref4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Ada juga majikan atau orang Saudi yang Sufi (murid-muridnya &lt;strong&gt;Alwi Al-Maliki&lt;/strong&gt;),  Syi’ah dan Hizbi Ikhwani. Salah seorang Ustadz kita, ketika diketahui  oleh majikannya yang Ikhwani bahwa Ustadz kita ini pernah belajar di &lt;strong&gt;Darul Hadits Dammaj&lt;/strong&gt;,  majikannya mulai mempersulit ruang gerak beliau, sampai saat ini beliau  dipaksa pulang ke Indonesia dengan membayar ganti rugi kepada  majikannya sebesar 6000 riyal. Adakah yang mau membantu?&lt;/p&gt;   &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://nasihatonline.wordpress.com/2010/11/22/fenomena-tki-di-arab-saudi/#_ednref5"&gt;[5]&lt;/a&gt; http://www.sahab.net/home/index.php?Site=News&amp;amp;Show=829&lt;/p&gt;   &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://nasihatonline.wordpress.com/2010/11/22/fenomena-tki-di-arab-saudi/#_ednref6"&gt;[6]&lt;/a&gt; &lt;em&gt;Mutawwa’&lt;/em&gt;  adalah istilah orang-orang awam di Saudi untuk menyebut orang yang  nampak keshalihannya dan menjalankan sunnah seperti jenggot dan  memendekkan pakaian (tidak sampai menutupi mata kaki)&lt;/p&gt;   &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://nasihatonline.wordpress.com/2010/11/22/fenomena-tki-di-arab-saudi/#_ednref7"&gt;[7]&lt;/a&gt; Lebih disayangkan lagi, ada seorang Ustadz terkenal, penerjemah buku &lt;strong&gt;Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt;  yang dicetak oleh Kantor Kerjasama Dakwah dan Bimbingan Islam di  Riyadh, yang memberikan jalan kepada da’i-da’i hizbi ini untuk masuk  menjadi pembina-pembina TKI di Kantor-kantor Dakwah untuk Orang-orang  Asing di Saudi&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber: http://nasihatonline.wordpress.com/2010/11/22/fenomena-tki-di-arab-saudi/#_ednref3&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-5119800098725590210?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/5119800098725590210/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/fenomena-tki-di-arab-saudi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/5119800098725590210'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/5119800098725590210'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/fenomena-tki-di-arab-saudi.html' title='Fenomena TKI di Arab Saudi'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-988103911846870618</id><published>2010-11-24T09:43:00.000-08:00</published><updated>2010-11-24T09:53:04.688-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hari Raya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa Ulama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasihat'/><title type='text'>Hukum menyambut dan merayakan hari Raya non Muslim (Natal/Tahun Baru/Imlek, dll)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://hudzai.files.wordpress.com/2009/03/new-years-fire-works-1024x768_20080124.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 193px; height: 145px;" src="http://hudzai.files.wordpress.com/2009/03/new-years-fire-works-1024x768_20080124.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sesungguhnya di antara konsekwensi terpenting dari sikap membenci orang-orang kafir ialah menjauhi syi'ar dan ibadah mereka. Sedangkan syi'ar mereka yang paling besar adalah hari raya mereka, baik yang berkaitan dengan tempat maupun waktu. Maka orang Islam berkewajiban menjauhi dan meninggalkannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang lelaki yang datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk meminta fatwa karena ia telah bernadzar memotong hewan di Buwanah (nama sebuah tempat), maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menanyakan kepadanya (yang artinya) : " Apakah disana ada berhala, dari berhala-berhala orang Jahiliyah yang disembah ?" Dia menjawab, "Tidak". Beliau bertanya, "Apakah di sana tempat dilaksanakannya hari raya dari hari raya mereka ?" Dia menjawab, "Tidak". Maka Nabi bersabda, "Tepatillah nadzarmu, karena sesungguhnya tidak boleh melaksanakan nadzar dalam maksiat terhadap Allah dalam hal yang tidak dimiliki oleh anak Adam"&lt;br /&gt;[Hadits Riwayat Abu Daud dengan sanad yang sesuai dengan syarat Al-Bukhari dan Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits diatas menunjukkan,&lt;br /&gt;tidak bolehnya menyembelih untuk Allah di bertepatan dengan tempat yang digunakan menyembelih untuk selain Allah ; atau di tempat orang-orang kafir merayakan pesta atau hari raya. Sebab hal itu berarti mengikuti mereka dan menolong mereka di dalam mengagungkan syi'ar-syi'ar mereka, dan juga karena menyerupai mereka atau menjadi wasilah yang mengantarkan kepada syirik. Begitu pula ikut merayakan hari raya (hari besar) mereka mengandung wala' (loyalitas) kepada mereka dan mendukung mereka dalam menghidupkan syi'ar-syi'ar mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara yang dilarang adalah menampakkan rasa gembira pada hari raya mereka, meliburkan pekerjaan (sekolah), memasak makanan-makanan sehubungan dengan hari raya mereka (kini kebanyakan berpesiar, berlibur ke tempat wisata, konser, acara musik, diakhiri mabuk-mabukan atau perzinaan, red).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan diantaranya lagi ialah mempergunakan kalender Masehi, karena hal itu menghidupkan kenangan terhadap hari raya Natal bagi mereka. Karena itu para shahabat menggunakan kalender Hijriyah sebagai gantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Ikut merayakan hari-hari besar mereka tidak diperbolehkan karena dua alasan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;. Bersifat umum, seperti yang telah dikemukakan di atas bahwa hal tersebut berarti mengikuti ahli Kitab, yang tidak ada dalam ajaran kita dan tidak ada dalam kebiaasaan Salaf. Mengikutinya berarti mengandung kerusakan dan meninggalkannya terdapat maslahat menyelisihi mereka. Bahkan seandainya kesamaan yang kita lakukan merupakan sesuatu ketetapan semata, bukan karena&lt;br /&gt;mengambilnya dari mereka, tentu yang disyari'atkan adalah menyelisihiya karena dengan menyelisihinya terdapat maslahat seperti yang telah diisyaratkan di atas. Maka barangsiapa mengikuti mereka, dia telah kehilangan maslahat ini sekali pun tidak melakukan mafsadah (kerusakan) apapun, terlebih lagi kalau dia melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Alasan Kedua&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Karena hal itu adalah bid'ah yang diada adakan. Alasan ini jelas menunjukkan bahwa sangat dibenci hukumnya menyerupai mereka dalam hal itu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga mengatakan, "Tidak halal bagi kaum muslimin ber-Tasyabuh (menyerupai) mereka dalam hal-hal yang khusus bagi hari raya mereka ; seperti, makanan, pakaian, mandi, menyalakan lilin, meliburkan kebiasaan seperti bekerja dan beribadah ataupun yang lainnya. Tidak halal mengadakan kenduri atau memberi hadiah atau menjual barang-barang yang diperlukan untuk hari raya tersebut. Tidak halal mengizinkan anak-anak ataupun yang lainnya melakukan permainan pada hari itu, juga tidak boleh menampakkan perhiasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasnya, tidak boleh melakukan sesuatu yang menjadi ciri khas dari syi'ar mereka pada hari itu. (Dalam Iqtidha Shirathal Mustaqim, pentahqiq Dr Nashir Al-'Aql 1/425-426).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari raya mereka bagi umat Islam haruslah seperti hari-hari biasanya, tidak ada hal istimewa atau khusus yang dilakukan umat Islam. Adapun jika dilakukan hal-hal tersebut oleh umat Islam dengan sengaja [1] maka berbagai golongan dari kaum salaf dan khalaf menganggapnya makruh. Sedangkan pengkhususan seperti yang tersebut di atas maka tidak ada perbedaan di antara ulama, bahkan sebagian ulama menganggap kafir orang yang melakukan hal tersebut, karena dia telah mengagungkan syi'ar-syi'ar kekufuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segolongan ulama mengatakan. "Siapa yang menyembelih kambing pada hari raya mereka (demi merayakannya), maka seolah-olah dia menyembelih babi". Abdullah bin Amr bin Ash berkata, "Siapa yang mengikuti negera-negara 'ajam (non Islam) dan melakukan perayaan Nairuz [2] dan Mihrajan [3] serta menyerupai mereka sampai ia meninggal dunia dan dia belum bertobat, maka dia akan dikumpulkan bersama mereka pada Hari Kiamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Footnote :&lt;br /&gt;[1] Mungkin yang dimaksud (yang benar) adalah 'tanpa sengaja'.&lt;br /&gt;[2] Nairuz atau Nauruz (bahasa Persia) hari baru, pesta tahun baru Iran yang&lt;br /&gt;bertepatan dengan tanggal 21 Maret -pent.&lt;br /&gt;[3] Mihrajan, gabungan dari kata mihr (matahari) dan jan (kehidupan atau&lt;br /&gt;ruh), yaitu perayaan pada pertengahan musim gugur, di mana udara tidak panas&lt;br /&gt;dan tidak dingin. Atau juga merupakan istilah bagi pesta yang diadakan untuk&lt;br /&gt;hari bahagia -pent.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Dinukil dari tulisan Dr Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, dalam kitab At-Tauhid Lish-Shaffil Awwal Al-Aliy[Edisi Indonesia, Kitab Tauhid 1])&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&amp;amp;id_artikel=384&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-988103911846870618?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/988103911846870618/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/hukum-menyambut-dan-merayakan-hari-raya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/988103911846870618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/988103911846870618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/hukum-menyambut-dan-merayakan-hari-raya.html' title='Hukum menyambut dan merayakan hari Raya non Muslim (Natal/Tahun Baru/Imlek, dll)'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-6753890355190943493</id><published>2010-11-24T05:44:00.000-08:00</published><updated>2010-11-24T06:18:55.089-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Haji'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa Ulama'/><title type='text'>Hukum Mengganti Nama Sepulang Ibadah Haji</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di antara kebiasaan jama’ah haji Indonesia sepulang dari haji adalah mengganti nama yang menurut mereka lebih Islami. Bagaimana sebenarnya hukum permasalahan ini? Simak fatwa dari &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiyyah Wal Ifta’&lt;/span&gt; berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tanya:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apa hukum mengganti nama sepulang dari haji sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan jama’ah haji Indonesia? Mereka mengganti nama-nama mereka ketika di Makkah Al-Mukarramah atau di Madinah Al-Munawwarah, apakah amalan seperti ini sunnah atau bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawab:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dahulu Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- mengganti nama-nama yang buruk dengan nama-nama yang baik. Jika penggantian nama yang dilakukan oleh jama’ah haji Indonesia itu karena faktor tersebut (mencontoh seperti yang dilakukan Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-), bukan karena selesainya mereka dari ibadah haji ataupun ziarah ke masjid Nabawi untuk shalat di dalamnya, maka ini boleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun jika mereka mengganti nama-nama mereka itu disebabkan karena mereka sedang di Makkah atau Madinah, atau karena selesai dari pelaksanaan ibadah haji misalnya, maka ini termasuk bid’ah, bukan sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wabillahit taufiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وصلى الله على نبينا محمد، وآله وصحبه وسلم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber: http://www.sahab.net/forums/showthread.php?p=800007&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;(Sumber http://www.assalafy.org/mahad/?p=553) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-6753890355190943493?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/6753890355190943493/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/hukum-mengganti-nama-sepulang-ibadah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/6753890355190943493'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/6753890355190943493'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/hukum-mengganti-nama-sepulang-ibadah.html' title='Hukum Mengganti Nama Sepulang Ibadah Haji'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-3833206479915383778</id><published>2010-11-24T05:23:00.000-08:00</published><updated>2010-11-24T05:35:35.161-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ulang Tahun'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa Ulama'/><title type='text'>Hukum Merayakan Hari Lahir dan Ulang Tahun</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.oldmarketlimo.com/special_photos/22birthday.gif"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 159px; height: 176px;" src="http://www.oldmarketlimo.com/special_photos/22birthday.gif" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penulis: Syaikh Muhammad bin As-Saalih Al-’Utsaimin Rahimahullah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tanya :&lt;/span&gt; Bagaimana hukum yang berkaitan dengan perayaan hari ulang tahun perkawinan dan hari lahir anak-anak ?&lt;/div&gt;&lt;plain style=""&gt; &lt;/plain&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;plain style=""&gt;&lt;p style=""&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawaban :&lt;/span&gt; Tidak pernah ada (dalam syar’iat tentang) perayaan  dalam Islam kecuali hari Jum’at yang merupakan Ied (hari Raya) setiap  pekan, dan hari pertama bulan Syawaal yang disebut hari Ied al-Fitr dan  hari kesepuluh Dzulhijjah atau disebut Ied Al-Adhaa – atau sering  disebut hari ‘ Ied Arafah – untuk orang yang berhaji di ‘Arafah dan hari  Tasyriq (tanggal ke 11, 12, 13 bulan Dzul-Hijjah) yang merupakan hari  ‘Ied yang menyertai hari Iedhul ‘Adhaa.&lt;/p&gt;&lt;/plain&gt;&lt;/div&gt;&lt;plain style=""&gt; &lt;/plain&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;plain style=""&gt;&lt;p&gt;Perihal hari lahir orang-orang atau anak-anak atau hari ultah  perkawinan dan semacamnya, semua ini tidak disyariatkan dalam (Islam)  dan merupakan bid’ah yang sesat. (Syaikh Muhammad Salih Al ‘ Utsaimin)&lt;/p&gt;&lt;/plain&gt;&lt;/div&gt;&lt;plain style=""&gt; &lt;/plain&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;plain style=""&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;Sumber :&lt;/p&gt;&lt;/plain&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Al-Bid’u wal-Muhdatsaat wa maa laa Asla Lahu- Halaman 224; Fataawa  fadhilatusy-Syaikh Muhammad As-Saalih Al-’Utsaimin- Jilid 2, Halaman  302.&lt;/span&gt;&lt;plain style=""&gt; &lt;p&gt;(Diterjemahkan  dari tulisan Syaikh Muhammad As-Saalih Al-’Utsaimin, url sumber  http://www.fatwa-online.com/fataawa/innovations/celebrations/cel003/0010428_1.htm  oleh tim Salafy.or.id)&lt;/p&gt;&lt;/plain&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-3833206479915383778?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/3833206479915383778/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/penulis-syaikh-muhammad-bin-as-saalih.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/3833206479915383778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/3833206479915383778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/penulis-syaikh-muhammad-bin-as-saalih.html' title='Hukum Merayakan Hari Lahir dan Ulang Tahun'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-6496399223376902274</id><published>2010-11-24T04:02:00.000-08:00</published><updated>2010-11-24T05:22:12.007-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download Kajian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fitnah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akhlaq'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasihat'/><title type='text'>Nasihat Untuk Mass Media dan Kaum Muslimin</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=3204167414929986941&amp;amp;postID=6496399223376902274"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 186px; height: 214px;" src="http://madcaponline.com/wp-content/uploads/2009/09/ADVERTISING-MEDIA.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Berikut adalah rekaman kajian bersama &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Al Ustadz Syafi’i (Pengasuh Ma’had Ta’zhimus Sunnah Ngawi) &lt;/span&gt;membahas kitab &lt;span style="font-style: italic;"&gt;At Tanbiihul Hasan fi Mauqifil Muslim minal Fitan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Pedoman Seorang Muslim dalam menghadapi Fitnah“,&lt;/span&gt; karya Asy Syaikh Muhammad bin ‘Abdillah Al Imam pada Pasal 10 yaitu “Haramnya Mencari-cari Aib Kaum Muslimin“.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut link untuk mendowload kajiannya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a class="ymp-btn-page-play ymp-media-e44e260396580cccab69e0b6282a3ee8" href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/atstsurayya/Pedoman%20dalam%20Menghadapi%20Fitnah/Haramnya-Mencari-cari-Aib-Manusia---Ust-Syafi_%27i.mp3"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Verdana;"  lang="NL"&gt;Haramnya Mencari-cari Aib Kaum Muslimin&lt;/span&gt;&lt;em class="ymp-skin"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Verdana;"  lang="IN"&gt;&lt;strong&gt;|&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Verdana;"  lang="IN"&gt;6,71MB&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut link untuk mendowload kitabnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/atstsurayya/Ebook/At%20Tanbiihul%20Hasan%20fi%20Mauqifil%20Muslim%20minal%20Fitan.rar"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Verdana;"  lang="NL"&gt;At Tanbiihul Hasan fi Mauqifil Muslim minal Fitan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://atstsurayya.wordpress.com/2010/10/24/nasihat-untuk-para-wartawan-dan-kaum-muslimin-pada-umumnya/&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-6496399223376902274?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/6496399223376902274/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/pedoman-seorang-muslim-dalam-menghadapi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/6496399223376902274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/6496399223376902274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/pedoman-seorang-muslim-dalam-menghadapi.html' title='Nasihat Untuk Mass Media dan Kaum Muslimin'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-6230906123283884498</id><published>2010-11-23T05:01:00.000-08:00</published><updated>2010-11-24T03:59:31.124-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Asuransi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muamalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa Ulama'/><title type='text'>Asuransi dalam Pandangan Islam</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href=""&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 316px; height: 153px;" src="http://www.pengusahamuslim.com/images/upload/puzzle2_4.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Muhadharah  : “Ma’ali Al – Allaamah anggota Lajnah Ad – Da’imah  As – Syaikh dokter Sa’ad Bin Naashir As – Syitry&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="entry-content"&gt; &lt;p&gt;Sebelum  saya memulai pembicaran tentang asuransi, saya ingin  menetapkan  beberapa kaidah Syar’iyyah yang bisa dibilang kaidah ini  sebagai  pembukaan judul ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1.Sesungguhnya Syari’at Islam ditetapkan  untuk maslahat makhluknya  dan sesungguhnya kita jika ingin memperbaiki  keadaan manusia di dunia  dan akheratnya maka harus berpegang teguh  dengan hukum – hukum Syari’at  yang suci yang baik untuk kebaikan di  setiap zaman dan di setiap  tempat dan dalil ini adalah firman Allah  Subhanahu Wata’ala&lt;span id="more-1038"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ (الأنبياء : 107).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artinya &lt;em&gt;:”Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;( Qs.Al – Anbiya :107)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan rahmat terjadi karena dengan berpegang teguh kepada syari’at ini dan dalilnya adalah Firman Allah Subhanahu Wata’ala&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;الْيَوْمَ  أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ  نِعْمَتِي وَرَضِيتُ  لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا فَمَنِ اضْطُرَّ فِي  مَخْمَصَةٍ غَيْرَ  مُتَجَانِفٍ لإثْمٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (  المائدة : ٣ ).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artinya : &lt;em&gt;“Pada  hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama  kalian, dan telah  Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah  Ku-ridhai Islam itu Jadi  agama kalian,Maka barang siapa terpaksa (  yakni makan – makanan yang  dilarang oleh ayat ini seperti bangkai,  darah, daging babi, daging hewan  yang disembelih atas nama selain  Allah, yang tercekik, yang terpukul,  yang jatuh, yang ditanduk, dan  diterkam binatang buas, kecuali yang  sempat kalian menyembelihnya, dan  yang disembelih untuk berhala. Dan  mengundi nasib dengan anak panah),  karena kelaparan tanpa sengaja  berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha  Pengampun lagi Maha Penyayang.”&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;( QS. Al – Ma’idah : 3 ).&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan  sempurnanya nikmat itu di dapatkan dengan Syari’at ini yaitu  Syari’at  Islam dan untuk itu Allah Subhanahu Wata’ala telah berjanji  kepada wali –  waliNya dari orang yang beriman jika mereka melakukan apa  – apa yang  ada di Syari’at Rabb semesta alam ini untuk mempermudah  mereka perkara –  perkara dunianya dan perkara – perkara akheratnya  seperti yang  difirmankan Allah Subhanahu Wata’ala&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;وَمَنْ يَتَّقِ  اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (  ) وَيَرْزُقْهُ  مِنْ حَيْثُ لا  يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ  حَسْبُهُ إِنَّ  اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ  شَيْءٍ قَدْرًا (  الطلاق : 2 – 3 ).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artinya : &lt;em&gt;“Barangsiapa yang bertakwa  kepada Allah niscaya Dia  akan Memberikan baginya jalan keluar ) # ) Dan  memberinya rezki dari  arah yang tiada disangka-sangka, dan Barangsiapa  yang bertawakkal  kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan  (keperluan)nya.  Sesungguhnya Allah melaksanakan perkara yang  (dikehendaki)Nya.  Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi  tiap-tiap sesuatu.”&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;( Qs. Al – tholaq : 2 – 3).&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2.Sesungguhnya  Syari’at Islam itu tidaklah hanya sebatas  ketergantungan hamba dengan  Rabbnya saja, atau dengan ibadahnya  seseorang kepada Rabbnya, atau  akhlak saja tetapi Syari’at Islam itu  Syari’at yang umum ( menyeluruh  –pent ) tidaklah sesuatu yang ada di  dalam hidup manusia ini kecuali  sudah di hukumi oleh Syari’at ini dan  diterangkan hukum Allah Subhanahu  Wata’ala di dalamnya dan untuk itu  telah datang nash dengan menerangkan  sesungguhnya Syari’at ini umum  untuk seluruh keadaan manusia Allah  Subhanahu Wata’ala berfirman&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ( المائدة : 162 ).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artinya : &lt;em&gt;“Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.”&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;( Qs. Al – Ma’idah : 162 ).&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;3.Sesungguhnya  sisi maslahat di dalam hukum – hukum Allah Subhanahu  Wata’ala kadang  tampak oleh beberapa hamba Allah Subhanahu Wata’ala dan  kadang  tersembunyi terhadapnya, dan beberapa hukum kadang tampak jelas  kepada  manusia seluruhnya sisi kemaslahatanya dan kadang tersembunyi  terhadap  manusia dan tidak mengetahui sisi adanya maslahat itu sendiri  dan tidak  mengetahui kebahagian yang dia dapatkan dengan hukum itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;4.Sesungguhnya  kembalinya hukum – hukum mu’amalahnya manusia di  dalam berjual –  belinya dan yang berbentuk materi itu kepada Al –  Qur’an dan Sunnah,  sesungguhnya telah datang nash dengan menerangkan  bahwansanya iman itu  terjadi dikarenakan berhukum kepada kedua asal ini  yaitu Al – Qur’an dan  Sunnah Allah Subhanahu Wata’ala  berfirman&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;فَلا وَرَبِّكَ  لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ  بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا  يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ  وَيُسَلِّمُوا  تَسْلِيمًا ( النساء : 65 ).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artinya : &lt;em&gt;“Maka demi  Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak  beriman hingga mereka menjadikan  kamu hakim terhadap perkara yang  mereka perselisihkan, kemudian mereka  tidak merasa dalam hati mereka  sesuatu keberatan terhadap putusan yang  kamu berikan, dan mereka  menerima dengan sepenuhnya.”&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;( Qs. An – Nisa’I : 65&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;(&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;dan Allah Subhanahu Wata’ala berfirman&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;وَمَا  كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ  وَرَسُولُهُ  أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ  وَمَنْ يَعْصِ  اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا مُبِينًا (  الأحزاب : 36 ).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artinya : &lt;em&gt;“Dan  tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan  tidak (pula) bagi  perempuan yang mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya  telah menetapkan  suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang  lain) tentang urusan  mereka. dan Barangsiapa yang durhaka kepada  Allah  dan Rasul-Nya Maka  sungguh Dia telah tersesat, dengan kesesatan yang  nyata.”&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;( Qs . Al – Ahzab : 36 ). &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan  ketika itu maka ketika terjadi suatu perselisihan atau apa – apa  yang  akan kita dapatkan dari kejadian – kejadian manusia maka  sesungguhnya  kita kembali kepada Al – Qur’an dan Sunnah karena Al –  Qur’an dan Sunnah  mengandung segala sesuatu dan Allah Subhanahu  Wata’ala berfirman&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ ( النحل : ٨٩ ).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artinya : &lt;em&gt;“Dan  Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk  menjelaskan segala  sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira  bagi orang-orang  yang berserah diri.”&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;( Qs. An – Nahl : 89 ).&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan Allah Subhanahu Wata’ala berfirman&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;يَا  أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا  الرَّسُولَ  وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ  فَرُدُّوهُ  إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ  بِاللَّهِ  وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا (  النساء : 59 ).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artinya : &lt;em&gt;“Hai  orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan  taatilah Rasul (Nya), dan  pemimpin – pemimpin kalian . kemudian jika  kamu berlainan Pendapat  tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada  Allah (Al Quran) dan Rasul  (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman  kepada Allah dan hari  kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu)  dan lebih baik  akibatnya.”&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;( Qs. An – Nisa’I : 59 )&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maka  perkataannya شَيْء nakirah ( tidak ada alif laam ) di dalam  penyebutan  Syarath maka menjadi umum di dalam segala Sesuatu yang  dibutuhkan oleh  manusia baik itu dalam perbuatannya mereka, ibadahnya  mereka, nikah –  nikahnya mereka, perseteruan mereka, makanan –  makanannya mereka, atau  selain dari itu, jika telah tetap seperti ini  maka sesungguhnya dari  ketetapan – ketetapan  yang ada yang Syari’at  datang dengan menerangkan  hukum – hukumnya ketetapan – ketetapan yang  ada di dalam masalah  asuransi, dan asuransi adalah suatu ketetapan  harta yang karena itu maka  haruslah bagi kita agar memahami asuransi  ini sebelum kita berpindah ke  permasalahan mengetahui hukum – hukum  Allah Subhanahu Wata’ala  di  dalamnya, apakah asuransi ini, asuransi  adalah membayarnya seseorang  dengan mengangsur dengan waktu yang  berbeda, untuk sesuatu yang jika  terjadi baginya kecelakaan maka wajib  bagi orang yang telah dibayar uang  angsuran yang telah lalu untuk  membayar harta kepada orang yang terjadi  baginya kecelakaan ini dan  asuransi  masuk kepada ummat  kurang lebih  dua abad terakhir dan ketika  itu para ulama Syari’ah membahas  permasalahan akad yang baru ini dan  mereka menerangkan hukumnya  dan  berkumpullah perkumpulan ulama – ulama  fiqh dan ulama – ulama ilmu  pengetahuan yang mulia di dalamnya dan  jika manusia telah melihat di  dalam perkataan – perkataan ulama  Syari’at mereka mendapatkan  sesungguhnya ulama – ulama membagi asuransi  menjadi dua, asuransi At –  Tijari ( komersial ) dan asuransi At –  Ta’awuni ( yang atas dasar tolong  menolong )&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(1).Yang dimaksud dengan asuransi At – Tijari (  komersial ) adalah  adanya suatu serikat atau lembaga yang mana tugasnya  serikat ini  mengambil pembayaran angsuran dari seseorang maka jika  terjadi suatu  kecelakaan serikat itu membayar kepadanya uang tersebut  sebagai ganti  dari pembayaran yang diangsur tersebut, seperti apa yang   telah serikat  itu sepakati kepadanya, dan Asuransi At – Tijari (  komersial ) telah  keluar ketetapan – ketetapan  dan fatwa – fatwa dari  perkumpulan ulama  dengan pelarangannya dan kebanyakan dari ulama – ulama  ummat ini  mengharamkannya dan tidak membolehkannya dan untuk itu dari  pertama  orang yang mengeluarkan ketetapan ini dengan pelarangan dan   keharamannya ulama – ulama besar negeri ini ( Saudi Arabia ) dan di   ikuti beberapa perkumpulan ulama – ulama fiqh seperti Majma’il Fiqh Bi   Robithotil ‘Aalamil Islami dan Majma’il Fiqhil Islami yang bagian dari   Al – Munadzdzomul Mu’tamaratil Islami, dan sebab dari pengharaman   asuransi At – Tijari ( komersial ) ada beberapa perkara&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1.Sesungguhnya  akad ini mengandung riba dan sisi kandungannya  terhadap riba adalah  bahwasanya seseorang yang anggota Asuransi  membayar dengan angsuran,  kemudian setelah itu mengambil uang itu  darinya pengganti uang itu  dengan uang yang lainnya, tidak ada kesamaan  disana, tetapi seringnya  keduanya lebih dari pada yang lainnya, dan  riba adalah membayar uang  yang lebih  dengan ganti uang yang lebih pula  dengan cara  salah satunya  lebih dari pada yang lain dan ini pasti ada  di dalam asuransi dan tidak  diragukan lagi ini haram hukumnya Allah  Subhanahu Wata’ala berfirman&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ( البقرة : 275 ).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artinya : &lt;em&gt;“Allah Subhanahu Wata’ala telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;( Qs. Al – Baqarah : 275 ).&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan Allah Subhanahu Wata’ala berfirman&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (البقرة : 278).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artinya : &lt;em&gt;”Hai  orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada  Allah dan tinggalkan sisa  Riba (yang belum dipungut) jika kamu  orang-orang yang beriman.” &lt;/em&gt;&lt;strong&gt;( Qs. Al – Baqarah : 278 ).&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2.Mengandung  perjudian di dalamnya dan sisi kandungannya adalah  sesungguhnya  seseorang membayar dalam keadaan yakin dan dia tidak tahu  apakah dia  akan mendapatkan ganti dari uang tersebut atau tidak ? dan  perjudian itu  adalah kerugian yang diketahui dengan yakin ( yakni  seseorang  membayarkan uang itu dalam keadaan yakin ) sebagai ganti  kerugian yang  mungkin akan terjadi atau tidak terjadi dan hasilnya dan  yang akan  kembail kepadanya sebagai ganti dari harta yang pertama,  mungkin dia  akan di bayar dan mungkin dia tidak di bayar dan ini pasti  di dalam  Asuransi At – Tijari ( komersial ), maka kamu membayarkan uang  dan kamu  tidak mengetahui apa kamu akan kecelakaan dan mendapatkan hak  kamu  sebagai gantinya atau tidak terjadi sesuatu, dan ketika itu dia  masuk  keumuman dalil tentang pelarangan berjudi Allah Subhanahu  Wata’ala  berfirman&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا  الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ  وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ  الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ  لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ( المائدة : 90 ).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artinya : &lt;em&gt;“Hai  orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum)  khamar, berjudi,  (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan  panah, adalah Termasuk  perbuatan syaitan. Maka jauhilah  perbuatan-perbuatan itu agar kamu  mendapat keberuntungan.”&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;( Qs. Al – Ma’idah : 90 ).&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;3.Mengandung  penipuan dan sisi kandungannya adalah seseorang  membayar uang dan dia  tidak tahu apakah dia akan mendapatkan ganti  uangnya itu atau dia tidak  mendapatkannya, dan ini adalah penipuan,  Syari’at telah datang  mengharamkan penipuan di dalam mu’amalah dan di  riwayatkan di shohih  Muslim sesungguhnya Nabi Salallahu ‘Alaihi  Wasallam :” &lt;em&gt;melarang jual beli yang di dalamnya ada unsur penipuan.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;4.Di  dalamnya terdapat memakan harta seseorang, karena serikat  asuransi  mengambil harta dari manusia dan menahannya dan tidak  membayarkanya  gantinya itu ( seperti semula ) kecuali sedikit dan tidak  berarti, dan  memakan harta orang lain tanpa alasan yang Syar’I itu  adalah termasuk  sesuatu yang haram seperti yang difirmankan Allah  Subhanahu Wata’ala&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;يَا  أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ  بَيْنَكُمْ  بِالْبَاطِلِ إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ  مِنْكُمْ وَلا  تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ  رَحِيمًا (النساء :٢٩  ).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artinya : &lt;em&gt;“Hai orang-orang yang beriman, janganlah  kamu saling  memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali  dengan jalan  perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara  kamu. dan  janganlah kamu membunuh dirimu, Sesungguhnya Allah adalah Maha   Penyayang kepadamu.”&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;( Qs. An – Nisa’I : 29 ).&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan ini bukanlah dari bentuk perniagaan maka ketika itu menjadi dilarang darinya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;5.Di  dalamnya juga terdapat jual beli dalam bentuk hutang – piutang,   sesungguhnya orang yang mengasuransikan diri membayar uang dengan   mengangsur dan sebagiannya di akhirkan  yang gantinya dibayarkan ketika   terjadi kecelakaan, maka ketika itu terjadi jual beli dalam bentuk   hutang – piutang dan sebagian ahlul Ilmi mengharamkan jula beli dalam   bentuk hutang – piutang dan telah ada hadits Rasulallah Salallahu   ‘Alaihi Wasallam melarang jual beli yang tidak ada dengan yang tidak ada   ( hutang piutang ).tetapi haditsnya dhoif, dan  yang menjadikan  patokan  adalah telah adanya ijma’.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(2).Asuransi At – Ta’awuni ( yang di  dasarkan tolong menolong ) atau  disebut dengan Asuransi Al – Badali (   yang diganti )dan ringkasan  dari asuransi ini adalah berkumpulnya suatu  perkumpulan manusia yang  mereka membayarkan uang – uang mereka dan jika  terjadi dari mereka  sesuatu yang membahayakan maka sesungguhnya orang  itu mengambil ganti  dari sesuatu yang membahayakan itu dari apa  yang  telah mereka  kumpulkan seperti berkumpulnya pekerja ( pegawai )suatu  daerah kemudian  mereka membayar 100 riyal seluruhnya, mereka membayar  100 riyal untuk  kotak yang ada di antara mereka maka jika terjadi di  antar mereka  sesuatu yang membahayakan atau terlibat kesulitan akan  diganti dari  kotak tersebut  dan ini terjadi di zaman kita kotak untuk  kebaikan yang  ditujukan untuk kekeluargaan atau kepunyaan beberapa  daerah  pemerintahan dan ini semua masuk di dalam Asuransi At – Ta’awuni (  yang  di dasarkan tolong menolong )telah keluar fatwa – fatwa dari   perkumpulan ulama dan ulama – ulama besar dalam membolehkan yang semacam   ini dari asuransi ini dan mereka berdalilkan untuk itu dari beberapa   nash dan darinya adalah firman Allah Subhanahu Wata’ala&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;وَتَعَاوَنُوا  عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى  الإثْمِ  وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ  الْعِقَابِ (   المائدة : ٢ ).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artinya : “ &lt;em&gt;Dan tolong-menolonglah  kalian  dalam (mengerjakan)  kebajikan dan takwa dan jangan kalian   tolong-menolong dalam berbuat  dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu  kepada Allah, Sesungguhnya  Allah Amat berat siksa-Nya.”&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;( Qs. Al – Ma’idah : 2 ).&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mereka  berkata dan ini dalam rangka tolong – menolong dalam kebaikan  maka  masuklah di dalam ayat ini, dan juga mereka berdalilkan hadits  Nabi  Salallahu ‘Alaihi Wasallam :” &lt;em&gt;Permisalan seorang mu’min di  dalam  kecintaannya, kasih sayangnya dan lemah lembutnya seperti tubuh  yang  satu jika salah satu anggota tubuhnya sakit maka seluruh tubuhnya  akan  merasakannya dengan demam dan tidak bisa tidur (begadang ).”&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;( HR. Shohihan ).&lt;/strong&gt;dan  hadits Abu Musa Al – Asy’ari Radhiyallahu ‘Anhu Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam besabda : “ &lt;em&gt;permisalan seorang mu’min dengan mu’min lainnya seperti bangunan yang menguatkan sebagian dengan bagian yang lainnya.”&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;( HR.Shohihain ).&lt;/strong&gt;dan   perkataan menguatkan sebagian dengan bagian yang lain masuk darinya   jika bertolong – menolong dalang mewujudkan kotak di antara mereka agar   nanti jika di alih dana itu kepada orang yang terkena sesuatu yang   bahaya dan mereka juga berdalilkan hadits Abu Musa Al – Asy’ari   Radhiyallahu ‘Anhu  berkata Rasulallah Salallahu ‘Alaihi Wasallam   bersabda :”&lt;em&gt;Sesungguhnya orang – orang Asy’ari ( disandarkan kepada   Isy’ar qobilah di yaman ) jika kehabisan bekal – bekal mereka ketika   peperangan atau jika tinggal sedikitnya makanan keluarganya dikota   Madinah mereka mengumpulkan apa – apa yang ada pada mereka di satu   pakaian kemudian mereka membagi – bagikan di antara mereka di dalam satu   bejana dengan sama rata maka mereka adalah bagian dariku dan aku  adalah  bagian dari mereka.” &lt;/em&gt;&lt;strong&gt;( HR. Shohihain ).&lt;/strong&gt;dan  mereka  juga berdalil dengan anjuran agar menyantuni muslim di antara  mereka  dari bahaya yang menimpa dan Syari’at telah datang dengan sifat –  sifat  penyantunan di dalam islam tentang keprihatinannya terhadap  orang islam  sebagian dengan sebagian lainnya di dalam kebutuhannya.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-weight: bold;"&gt;PERBEDAAN ANTARA ASURANSI AT – TIJARI ( KOMERSIAL ) DENGAN ASURANSI AT – TA’AWUNI ( ATAS DASAR TOLONG – MENOLONG )&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1.Di  dalam permasalahan niat dan tujuannya dari keduanya, Asuransi  At –  Tijari ( komersial ) ditujukan untuk perniagaan dan keuntungan  dari  harta yang akan di dapatkan, adapun Asuransi At – Ta’awuni, mereka   bertujuan tolong menolong diantara mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2.Sesungguhnya angsuran  yang di bayarkan di dalam Asuransi At –  Tijari ( komersial ) tergantung  apa yang telah disepakati di antara  mereka maka wajib bagi angota  asuransi  tersebut untuk membayar kepada  mereka untuk itu beberapa  manusia mereka sama atas uang yang akan  diberikan kepada mereka tetapi  mereka berselisih dalam nominal uang  yang akan di bayarkannya kepada  serikat asuransi misal dari itu ada dua  orang yang mempunyai dua mobil  yang mirip dari jenis yang sama dari  model yang sama dan dua sopir  derajat kemampuannya sama dan dengan itu  mereka berselisih dalam masalah  pembayaran angsuran diantara mereka  yang dibayarkan kepada serikat  asuransi, maka berbeda dengan Asuransi  At – Ta’awuni ( atas dasar tolong  – menolong ) sesungguhnya angsuran  yang akan di bayarkannya sama maka  jika di dapatkan satu dengan sifat  yang sama dan cara yang sama dan ciri  – ciri yang sama maka  sesungguhnya mereka membayarkan angsurannya juga  sama.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;3.Sesungguhnya Asuransi At – Ta’awuni ( atas dasar tolong –  menolong  )uang yang akan di bayarkan di dalamnya yang dihasilkan ketika   kecelakaan terhadap seseorang dari segi penggantian saja maka tidak   dibayarkan kepada dia kecuali ganti dari kerugian yang di dapatkannya,   berbeda dengan Asuransi At – Tijari ( komersial )maka sesungguhnya ganti   yang akan di bayarkan tidak berkaitan dengan bahaya yang tertimpa   manusia tersebut tetapi sekedar kesepakatan, yang seperti itu jika   terjadi kecelakaan terhadap mobilnya maka asuransi At – Tijari (   komersial )sesungguhnya ganti yang akan di bayarkan adalah sekedar apa   yang disepakati kepadanya kadang mereka bersepakat dengan uang yang   sangat besar yang di bayarkan kepadanya jika terjadi kecelakaan terhadap   mobil ini, berbeda dengan Asuransi At – Ta’awuni ( atas dasar tolong –   menolong ) maka sesungguhnya ganti yang di bayarkan adalah di lihat  dari  bahayanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;4.Asuransi At – Ta’awun ( atas dasar tolong – menolong  )tidak  mendapatkan jaminan kecuali yang terkena mara bahaya, berbeda  dengan  Asuransi At – Tijari ( komersial )maka sesungguhnya itu terkadang   mendapatkan berita yang menggembirakan atau dari perkara – perkara yang   bukan di dalamnya terdapat sesuatu yang membahayakan misalnya anggota   Asuransi At – Tijari ( komersial )mendapatkan kemenangan untuk kelompok   yang membayar angsuran tiap bulannya maka jika menang suatu kelompok   maka dia akan berhak mendapatkan harta yang banyak tergantung dengan apa   yang disepakatinya, berbeda dengan Asuransi At – Ta’awuni ( atas dasar   tolong – menolong )maka sesungguhnya dia tidak berhak mendapatkan   gantinya kecuali jika dia tertimpa bahaya dan tidak melebihi biaya   kecelakaan tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;5.Sesungguhnya Asuransi At – Tijari (  komersial ) apa – apa yang  lebih dari uang di dalamnya maka di ambil  oleh serikat Asuransi At –  Tijari ( komersial ) dan tidak akan kembali  kepada angota asuransi,  berbeda dengan Asuransi At – Ta’awuni ( atas  dasar tolong – menolong )  maka sesungguhnya diambil darinya uang – uang  pengganti yang di  bayarkan untuk beberapa orang yang mereka tertimpa  bahaya adapun  sisanya akan di bayarkan atau kembali kepada anggota  auransi tersebut  atau kepada anggota – anggota asuransi yang telah  membayar angsuran –  angsuran  tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-style: italic;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;&lt;strong&gt;Abu Bakr Fahmi Abu Bakar jawwas&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-style: italic;"&gt;Yang mengharapkan rahmat dan ridho Rabbnya&lt;/p&gt; &lt;p style="font-style: italic;"&gt;Daarul Hadiits Syiher Hadramaut 1 Dzulqo’dah 1430 H / 20 Oktober 2009&lt;/p&gt;              &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-6230906123283884498?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/6230906123283884498/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/asuransi-dalam-pandangan-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/6230906123283884498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/6230906123283884498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/asuransi-dalam-pandangan-islam.html' title='Asuransi dalam Pandangan Islam'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-5004229861005926543</id><published>2010-11-22T09:40:00.000-08:00</published><updated>2010-11-22T09:46:05.188-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download Kajian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Musibah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dauroh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasihat'/><title type='text'>Sikap Seorang Muslim Ketika Terkena Musibah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                                                                                                                                                                                                                                                                                          &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;img class="alignleft size-full wp-image-797" title="bantul21112010" src="http://mediasalaf.com/wp-content/uploads/2010/11/bantul21112010.jpg" alt="" height="212" width="150" /&gt;Berikut  adalah rekaman dauroh bersama &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Al Ustadz Abu Bakr ‘Abdurrahman Wonosari&lt;/span&gt; pada  hari Ahad, 21 November 2010 di Masjid Agung Manunggal Bantul dengan tema “&lt;em style="font-weight: bold;"&gt;Sikap Seorang Muslim Ketika Terkena Musibah&lt;/em&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Berikut Link Downloadnya:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;· &lt;a class="ymp-btn-page-play ymp-media-14a87e00e642338bea4568e8b69cd59e" href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/atstsurayya/Nasihat-Berkaitan-dg-Musibah/Sikap-Seorang-Muslim-Ketika-Terkena-Musibah_01---Ust-_%27Abdurrahman-Wonosari.mp3"&gt;Sikap Seorang Muslim Ketika Terkena Musibah_01&lt;em class="ymp-skin"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;|10,2MB&lt;/li&gt;&lt;li&gt;· &lt;a class="ymp-btn-page-play ymp-media-16a01c41b17968a2c8cc772d5c7d08b5" href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/atstsurayya/Nasihat-Berkaitan-dg-Musibah/Sikap-Seorang-Muslim-Ketika-Terkena-Musibah_02---Ust-_%27Abdurrahman-Wonosari.mp3"&gt;Sikap Seorang Muslim Ketika Terkena Musibah_02&lt;em class="ymp-skin"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;|6,12MB&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Semoga Bermanfaat.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber: &lt;a href="http://atstsurayya.wordpress.com/2010/11/21/sikap-seorang-muslim-ketika-terkena-musibah/"&gt;Atstsurayya&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-5004229861005926543?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/5004229861005926543/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/sikap-seorang-muslim-ketika-terkena.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/5004229861005926543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/5004229861005926543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/sikap-seorang-muslim-ketika-terkena.html' title='Sikap Seorang Muslim Ketika Terkena Musibah'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-2136625319551085548</id><published>2010-11-22T06:22:00.000-08:00</published><updated>2010-11-22T06:37:14.055-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Al-Qur&apos;an'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download Kajian'/><title type='text'>Berbagai Macam Tujuan Orang Ketika Membaca Al Qur’an</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://pusdai.com/wp-content/uploads/2010/08/quran.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 147px; height: 136px;" src="http://pusdai.com/wp-content/uploads/2010/08/quran.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berikut adalah kajian bersama &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Al Ustadz ‘Abdul Mu’thi Al Maidany&lt;/span&gt; membahas kitab Kitabulloh wa Makanatuhu Al ‘Azhimah “Al Qur’an dan Kedudukannya yang Mulia” karya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Asy Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut link untuk mendowload kajiannya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="ymp-media-dc900e900752a257206cc48195ab805e ymp-btn-page-play" href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/atstsurayya/kitabulloh/Berbagai-Macam-Tujuan-Orang-Ketika-Membaca-Al-Qur_%27an---Ust-_%27Abdul-Mu_%27thi.mp3"&gt;Berbagai Macam Tujuan Orang Ketika Membaca Al Qur’an&lt;/a&gt;|5,94MB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber: http://atstsurayya.wordpress.com/2010/11/21/berbagai-macam-tujuan-orang-ketika-membaca-al-quran/&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-2136625319551085548?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/2136625319551085548/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/berbagai-macam-tujuan-orang-ketika.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/2136625319551085548'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/2136625319551085548'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/berbagai-macam-tujuan-orang-ketika.html' title='Berbagai Macam Tujuan Orang Ketika Membaca Al Qur’an'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-7738335800340985963</id><published>2010-11-22T06:13:00.000-08:00</published><updated>2010-11-22T06:38:43.386-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download Kajian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jimat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syirik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tauhid'/><title type='text'>Termasuk Syirik Menggunakan Jimat-Jimat Untuk Menolak Bala</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;Rekaman Kajian KitabTauhid,  &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Termasuk Syirik Menggunakan Jimat-Jimat Untuk Menolak Bala&lt;/span&gt; Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ust. Hammad&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="ymp-media-1ea063cd9e5ac9292b940c3212d25b3e ymp-btn-page-play" href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/problemamuslim/Audio/Kajian-DaaReLSalam/KitabTauhid-TermasukSyirikMenggunakanJimat2UtkMenolakBala_UstHammad.mp3" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Jimat-Jimat Menolak Bala'-Kitab Tauhid (Ust. Hammad)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Sumber: iLmoe.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-7738335800340985963?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/7738335800340985963/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/termasuk-syirik-menggunakan-jimat-jimat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/7738335800340985963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/7738335800340985963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/termasuk-syirik-menggunakan-jimat-jimat.html' title='Termasuk Syirik Menggunakan Jimat-Jimat Untuk Menolak Bala'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-5312506487402091179</id><published>2010-11-22T05:48:00.000-08:00</published><updated>2010-11-22T05:54:22.359-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Facebook'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download Kajian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Internet'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasihat'/><title type='text'>Nasihat Untuk Ibu Terhadap Anak Yang Punya Facebook</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_uRPVdXnVyK8/TElHygfWs7I/AAAAAAAAAE4/faQJjcz536c/s1600/facebook-256.png"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 138px; height: 138px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_uRPVdXnVyK8/TElHygfWs7I/AAAAAAAAAE4/faQJjcz536c/s1600/facebook-256.png" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;Berikut ini rekaman Kajian&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Nasihat Untuk Ibu Terhadap Anak Yang Punya Facebook&lt;/span&gt;, oleh  &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ust. Dzulqarnain&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="ymp-btn-page-play ymp-media-483633ee64aada6711884dbc31d46e23" href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/problemamuslim/Audio/Nasihat-Facebook/NasihatUtkIbuThdAnakYgPunyaFacebook_UstDzulqarnain.mp3" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Nasehat untuk ibu Terhadap Anak yg Punya FB-Ust.Dzulqarnain&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-5312506487402091179?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/5312506487402091179/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/nasihat-untuk-ibu-terhadap-anak-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/5312506487402091179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/5312506487402091179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/nasihat-untuk-ibu-terhadap-anak-yang.html' title='Nasihat Untuk Ibu Terhadap Anak Yang Punya Facebook'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_uRPVdXnVyK8/TElHygfWs7I/AAAAAAAAAE4/faQJjcz536c/s72-c/facebook-256.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-7376008473420863984</id><published>2010-11-22T05:37:00.000-08:00</published><updated>2010-11-22T05:44:51.710-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download Kajian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dauroh'/><title type='text'>Sikap Muslim Terhadap Ahlul Ilmi (Dauroh Surabaya)</title><content type='html'>&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;Berikut ini adalah rekaman  Kajian &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sikap Muslim Terhadap Ahlul Ilmi&lt;/span&gt; (Daurah Surabaya) Oleh  &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ust. Usamah Mahri Lc .&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a class="ymp-btn-page-play ymp-media-43625dd2b4dba1b970485db01098b5b2" href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/surabaya/Daurah/dzulhijjah-1431/Sikap-Muslim-Thd-Ahlul-Ilmi-%28Daurah-Surabaya%29-1---Ust-Usamah-Mahri-Lc-.mp3" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Sikap Muslim Terhadap Ahlul Ilmi 1&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/surabaya/Daurah/dzulhijjah-1431/Sikap-Muslim-Thd-Ahlul-Ilmi-%28Daurah-Surabaya%29-2%C3%A2%C2%80%C2%94Ust-Usamah-Mahri-Lc-.mp3"&gt;Sikap Muslim Terhadap Ahlul Ilmi 2&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-7376008473420863984?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/7376008473420863984/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/sikap-muslim-terhadap-ahlul-ilmi-dauroh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/7376008473420863984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/7376008473420863984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/sikap-muslim-terhadap-ahlul-ilmi-dauroh.html' title='Sikap Muslim Terhadap Ahlul Ilmi (Dauroh Surabaya)'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-5796613587548543726</id><published>2010-11-18T08:36:00.000-08:00</published><updated>2010-11-18T08:41:22.990-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manhaj'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasihat'/><title type='text'>Perbedaan Antara Bantahan Terhadap Ahlul Bida’ Dan Bantahan Terhadap Ahlus Sunnah</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah &lt;/strong&gt;berkata dalam kitab   “Al-Ibanah ‘An Kaifiyah At-ta’amul Ma’ Al-Khilaf Baina Ahli As-Sunnah Wa   Al-Jama’ah” halaman 47-49:&lt;/p&gt; &lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Perbedaan Antara Bantahan Terhadap Ahlul Bida’ Dan Bantahan Terhadap Ahlus Sunnah&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Diperbolehkan bagi seorang ulama ahlus  sunnah untuk membantah ulama   sunnah yang lain jika ada maslahat yang  menuntutnya, akan tetapi   bantahan terhadapnya berbeda dengan bantahan  tehadap ahlul bida’ dan   kesesatan.&lt;span id="more-743"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata  sebagaimana dalam “Majmu’   Al-Fatawa” (28/233-234): “Oleh karena itu  wajib menjelaskan keadaan   orang yang keliru dalam hadits dan riwayat,  orang yang keliru dalam   pandangan dan fatwa dan orang yang keliru  dalam hal zuhud dan ibadah.   Jika orang yang keliru itu seorang  mujtahid maka kekeliruannya dimapuni   dan dia mendapat pahala atas  ijtihadnya. Maka menjelaskan ucapan dan   amalan yang ditunjukkan oleh  al-kitab dan as-sunnah adalah wajib,   meskipun kenyataan kitab dan  sunnah itu berbeda dengan ucapan dan   amalannya. Siapa yang diketahui  darinya ijtihad yang diperbolehkan maka   tidak boleh dia disebutkan  saat mengkritik dalam bentuk mencelanya dan   mendosakannya.  Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengampuni  kekeliruannya.  Bahkan dia  harus dicintai dikarenakan apa yang dia  miliki berupa  keimanan,  ketakwaan, loyalitasnya, kecintaannya dan  penunaiannya akan  apa yang  Allah Ta’ala wajibkan dari hak-hak-Nya  berupa pujian dan do’a  dan  selain itu.”.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Yang menjadi inti pendalilan adalah  ucapan  beliau: ” maka tidak  boleh dia disebutkan saat mengkritik dalam  bentuk  mencelanya dan  mendosakannya”. Dan juga tidak selayaknya  manusia diajak  untuk  meghajrnya dan menghentikan pelajarannya,  ceramahnya, dan menimba  ilmu  darinya. Dan tidak menghukumi dia itu  hizby atau jatuh pada bid’ah   selama dia masih di dalam lingkaran  sunnah.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Adapun jika bantahan itu datang dari  penuntut ilmu, maka   kebanyakannya mereka itu bukanlah orang-orang yang  pantas membantah.   Oleh karenanya engkau temukan pada  bantahan-bantahan mereka adanya sikap   melampaui batas, keserampangan  dan kezhaliman. Bahkan sebagian mereka   berusaha menampakkan bahwa dia  adalah orang yang mampu untuk mengkritik   ulama. Sampai-sampai sebagian  mereka menempuh jalan dengan mencela   aqidah seorang ‘alim sunny,  padahal belum ada seorangpun dari para ulama   yang mendahuluinya dalam  hal itu. Lihatlah perlombaan ini yang pada   hakekatnya adalah  kelancangan terhadap ulama.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dan aku mengatakan kepada orang jenis  ini: Jika kau terus dalam   menuntut ilmu dan bisa mengambil manfaat  darinya, akan nampak bagimu   pada waktu yang akan datang kesalahanmu  ini dan ketergesa-gesaanmu. Maka   hati-hati dari sikap tergesa-gesa  pada suatu perkara yang padanya  harus  dihadapi dengan pelan-pelan.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Perkara-perkara yang bisa membantu untuk  berlaku seimbang dan   menggapai sikap adil adalah mengetahui perbedaan  antara bantahan tehadap   ahlus sunnah dan ahlul bid’ah. Berikut ini  penyebutan sebagian   perbedaan:&lt;/p&gt; &lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Bantahan tehadap ahlul bid’ah dan hizbiyah adalah      wajib    kifayah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyaah berkata sebagaimana dalam         “Majmu’ Al-Fatawa” (28/231-232): “Dan seperti imam-imam      bid’ah dari    para pemilik ucapan yang menyimpang dari kitab dan sunnah,      atau    pelaku ibadah yang menyimpang dari kitab dan sunnah, sesungguhnya         menjelaskan keadaan mereka dan memperingatkan umat dari mereka adalah         wajib berdasarkan kesepakatan kaum muslimin…. Dimana pembersihan    jalan      Allah Ta’ala, agama-Nya, manhaj-Nya, syari’at-Nya dan  menolak   kezhaliman      mereka serta permusuhan mereka atas hal itu  adalah   wajib kifayh      berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.  Kalaulah bukan   karena Allah Ta’ala      menjadikan adanya orang yang  menepis gangguan   mereka niscaya rusaklah      agama ini. Dan niscaya  kerusakannya lebih   besar dibanding kerusakan      pendudukan musuh  dari pelaku peperangan.   Sesungguhnya mereka jika      menduduki  tidaklah akan merusak kalbu  dan  apa yang pada padanya berupa       agama kecuali hanya sebagai imbas   saja. Adapun mereka, merusak kalbu  pada      permulaan.”. Berbeda  dengan  seorang sunny yang keliru maka  dia      memiliki kesempatan yang  luas,  beruapa nasehat baginya, atau  usaha untuk      memperbaiki apa  yang  nampak darinya berupa kekeliruan  akan hak orang lain,      jika  bagi  perbaikan tersebut ada ijin  syar’i, jika maslahat menuntut untuk        adanya bantahan maka  dibantah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bantahan terhadap ahlul bid’ah dan hizbiyah tidak      perlu    disebutkan padanya kebaikan mereka. Karena hikmah dari bantahan ini         selain menjelaskan kebenaran dan menampakkan bathilnya suatu   kebathilan       adalah memperingatkan manusia dari mereka dan   menjauhkan dari  mereka.      Berbeda dengan bantahan terhadap seorang   ‘alim dan sunny  maka      diperingatkan dari kekeliruannya bersamaan   tidak  memperingatkan manusia      atau menjauhkan mereka darinya. Dan   dijaga  kedudukannya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Para penyeru      bid’ah dan hizbiyah diperingatkan dalam bantahan    terhadap mereka dari      mengambil ilmu dari mereka, dan dari    menghadiri khutbah mereka serta      ceramah mereka. Berbeda jika yang    dibantah adalah seorang ahlus sunnah      maka disebutkan dalam  bantahan   bahwa dia tidak ikuti dalam kekeliruannya,      dan dia  adalah tempat   yang masih bisa dipercaya dan diterima, maka ilmu       ditimba darinya   dan dihadiri majelisnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menghajr pera penyeru bid’ah dan hizbiyah      berdasarkan maslahat.    Berbeda dengan seorang ‘alim dan sunny maka manusia      tidak diajak    untuk menghajrnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mencerca penyeru kebathilan dan menjelaskan      kondisi mereka    terhadap umat adalah tuntutan syar’i sesuai dengan      kemampuan dan    maslahat, dan sesuai dengan kebid’ahan mereka. Berbeda      dengan    bantahan terhadap sunny maka dilakukan dengan kelembutan dan kasih         sayang. Ini adalah asalnya, jika ada tuntutan maslahat untuk keluar   dari       asal ini Perbedaan Antara Bantahan Terhadap Ahlul Bida’ Dan Bantahan maka dilakukan dan diukur dengan kadar yang   diperlukan.  Dan      tidaklah dipahami dari ucapanku bahwa orang yang   berbicara  tentang ahlul      bid’ah dan hizbiyah berbicara dengan   zhalim dan  melampaui batas, karena      hal ini adalah haram pada   siapapun. Yang  dimaksud dengan mencerca di sini      adalah menjelaskan   bahaya bid’ah  mereka terhadap muslimin dan menjelaskan      tentang   lancangnya mereka  untuk menyebarkannya dan terfitnahnya manusia        karenanya.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;Diterjemahkan oleh ‘Umar Al-Indunisy&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;Darul Hadits – Ma’bar, Yaman&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sumber:&lt;a href="http://thalibmakbar.wordpress.com/2010/08/05/perbedaan-antara-bantahan-terhadap-ahlul-bida-dan-bantahan-terhadap-ahlus-sunnah/"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;http://thalibmakbar.wordpress.com/2010/08/05/perbedaan-antara-bantahan-terhadap-ahlul-bida-dan-bantahan-terhadap-ahlus-sunnah/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-5796613587548543726?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/5796613587548543726/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/perbedaan-antara-bantahan-terhadap.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/5796613587548543726'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/5796613587548543726'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/perbedaan-antara-bantahan-terhadap.html' title='Perbedaan Antara Bantahan Terhadap Ahlul Bida’ Dan Bantahan Terhadap Ahlus Sunnah'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-4010640130860835753</id><published>2010-11-18T08:13:00.000-08:00</published><updated>2010-11-18T08:31:39.000-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syaitan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jin'/><title type='text'>Sebab-sebab Jin Dan Syaithan Mengganggu Manusia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://berandasalafy.files.wordpress.com/2010/03/api.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 233px; height: 177px;" src="http://berandasalafy.files.wordpress.com/2010/03/api.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam حفظه الله berkata dalam kitab “Al-Inqadz”&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Sebab-sebab Yang Dengannya Syaithan Dari Bangsa Jin Mempengaruhi Kaum Muslimin&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebab-sebab yang melaluinya jin dan syaithan mengganggu kaum muslimin  sangatlah banyak, dan cukup bagi kita menyebutkan sebagiannya saja,  diantaranya:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Sebab Pertama: Jin bisa melihat kita dan secara umum kita tidak bisa melihat mereka.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Allah تعالى berfirman tentang Iblis dan anak turunnya,&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ&lt;/strong&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya ia dan para pengikutnya melihat kalian di mana kalian tidak melihat mereka.”&lt;/em&gt; (Al-A’raf: 27)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Yang dipandang oleh para pakar tafsir adalah bahwa kata ganti pada firman-Nya &lt;em&gt;“Sesungguhnya dia”&lt;/em&gt; itu kembali kepada Iblis, dan kata &lt;em&gt;“para pengikutnya”&lt;/em&gt;  maksudnya adalah keturunan dan anak-anaknya. Syaikhul Islam رحمه الله  pernah ditanya sebagaimana daam “Majmu’ Al-Fatawa” (15/7) tentang firman  Allah تعالى,&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ&lt;/strong&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya ia dan para pengikutnya melihat kalian di mana kalian tidak melihat mereka.”&lt;/em&gt; (Al-A’raf: 27)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Apakah hal itu umum, tidak ada seorangpun yang melihat mereka, ataukah ada sebagian yang melihat mereka dan sebagian tidak?&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span id="more-509"&gt;&lt;/span&gt;Maka Syaikhul Islam رحمه الله menjawab  dengan berkata: “Yang ada dalam Al-Qur’an adalah bahwa mereka (jin)  melihat manusia dimana manusia tidak melihat mereka, dan ini benar,  mengharuskan bahwa mereka melihat manusia pada saat manusia tidak  melihat mereka. Dan bukan maksudnya bahwa tiada seorangpun dari manusia  yang melihat mereka, bahkan terkadang orang-orang shalih dan yang tidak  shalih bisa melihat mereka, hanya saja mereka tidak melihat mereka pada  setiap saat.”.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Maka dengan sebab bisanya mereka melihat kita dan kita tidak melihat  mereka, mereka lancang untuk mengganggu kita dan mudah bagi mereka. Dan  orang yang terjaga dari gaangguan mereka adalaah orang yang dijaga oleh  Allah.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Sebab Kedua: Banyak syubhat (kerancuan) dan syahwat (hawa nafsu).&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jika makin banyak syubhat dan syahwat pada diri kaum muslimin maka  makan banyak pula mereka mengkuti waswas syaithan, dan menerima tipu  daya syaithan pada mereka. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله  berkata: “Sesungguhnya banyaknya waswas itu sesuai dengan banyaknya  syubhat dan syahwat, dan penggantungan kalbu kepada yang dicintai yang  kalbu bermaksud untuk mengejarnya, serta kepada yang dibenci yang kalbu  bermaksud untuk menolaknya”. Maka wajib bagi setiap muslim dan muslimah  untuk berbekal dengan pemahaman terhadap agama ini, sehingga akalnya  mendapatkan cahaya, jiwanya tersucikan, dadanya telapangkan kepada  kebenaran, dan kalbunya tertenangkan. Kalau tidak maka apakah engkau  menyangka akan selamat dari banyaknya syubhat dan syahwat yang merupakan  tempat gembalaan yang subur bagi syaithan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Sebab Ketiga: Lalainya kalbu dari berdzikir kepada Allah &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;تعالى.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Allah تعالى berfirman,&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ  الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ ** وَإِنَّهُمْ  لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُم مُّهْتَدُونَ&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;“Dan barangsiapa berpaling dari ajaran Rabb Yang Maha Pemurah,  Kami adakan syaithan (yang menyesatkan), maka syaithan itu menjadi teman  yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya syaithan-syaithan itu  benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka  menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.”&lt;/em&gt; (Az-Zukhruf: 36-37)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata sebagaimana dalam  “Majmu’ Al-Fatawa” (4/34): “Dan syaithan itu memberikan bisikan dan  menghindar. Jika seorang hamba mengingat Rabbnya maka syaithan itu  mundur, dan jika ia lalai dari mengingat-Nya maka syaithan menggodanya.  Oleh karenanya meninggalkan mengingat Allah تعالى menjadi sebab dan  permulaan akan munculnya keyakinan yang bathil dan keinginnan yang rusak  dalam kalbu. Dan termasuk mengingat Allah U adalah membaca Al-Qur’an  dan memahaminya.”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dan beliau juga berkata dalam sumber yang sama (10/399):  “Sesungguhnya yang mencegah syaithan untuk masuk ke dalam kalbu anak  Adam عليه السلام adalah karena padanya ada dzikir kepada Allah تعالى  yang Allah تعالى mengutus para rasul-Nya dengan dzikir tersebut. Jika  kalbu itu kosong dari dzikir kepada Allah maka syaithan akan  menguasainya.”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Sebab Keempat: Gangguan manusia terhadap jin dan menyakiti mereka, entah secara sengaja atau tanpa sengaja.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Termasuk yang menyebabkan kelancangan jin mengganggu kaum muslimin  adalah adanya gangguan kaum muslimin terhadap mereka. Syaikhul Islam  Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata dalam “At-Tafsir Al-Kabir” (4/265)  dimana beliau berbicara tentang sebab masuknya jin ke dalam diri  manusia: “Dan terkadang manusia itu menyakiti mereka jika dia kencing  dan mengenai mereka, atau menyiramkan air panas pada mereka atau manusia  membunuh sebagian jin atau selain itu semua yang merupakan  bentuk-bentuk gangguan. Ini merupakan jenis kerasukan yang paling keras  dan betapa banyak orang yang kerasukan ini mereka bunuh.”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dan betapa banyak kaum jin itu yeng memulai menzhalimi kaum muslimin  dalam hal ini. Karena mereka menyamar dalm bentuk yang bisa dilihat oleh  manusia seperti menjadi ular, ular besar, anjing, kucing dan sebagainya  sehingga seorang muslim takut darinya, dan menyangkanya ia adalah  makhluk yang ia kenal lalu ia bersegera untuk memukulnya atau  membunuhnya sesuai dengan apa yang ia lihat, bukan karena ia ingin  menyakiti jin. Dan syari’at islam telah mengijinkan untuk membunuh  makhluk yang mengganggu dari sekian makhluk yang disebutkan dan makhluk  yang memiliki hukum yang sama dengannya tanpa harus memberi peringatan  terlebih dahulu, kecuali ular yang berada dalam rumah maka harus  dingatkan dahulu tiga kali atau tiga hari.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dan juga sebagian jin itu tinggal di tempat sampah dan belakang rumah  dan manusia tidak melihatnya, lalu mereka melemparkan segala sesuatu  yang lalu mengenai jin sehingga jin melakukan balas dendam.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Intinya: Tidak boleh bagi seorang muslim untuk sengaja mengganggu dan  menyakiti jin. Dan hendaknya ia meminta tolong kepada Allah untuk  mengatasi mereka jika mereka mengganggunya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Sebab Kelima: Terjadi dari jalan jatuh cintanya jin laki-laki atau wanita terhadap manusia.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata dalam “An-Nubuwat”  (399): “Jin itu terkadang jatuh cinta pada manusia sebagaimana manusia  jatuh cinta pada manusia, dan sebagaimana seorang pria mencintai wanita,  dan wanita mencintai pria. Maka ia merasa cemburu padanya dan ia  mendukung cemburunya itu dengan segala sesuatu. Dan jika yang dia cintai  bersama yang lain maka terkadang dia menghukumnya dengan membunuhnya  dan selainnya. Dan semua ini nyata terjadi.”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dan beliau juga berkata dalam “At-Tafsir Al-Kabir” (4/265): “Demikian  juga wanita kaum jin. Di antara mereka ada yang menginginkan dari  manusia yang ia bantu sesuatu yang diinginkan wanita kaum manusia dari  para lelaki. Dan ini banyak terjadi pada lelaki dan wanitanya kaum jin.  Banyak lelaki kaum in mendapatkan dari wanita kaum manusia perkara yang  didapatkan manusia, dan terkadang perkara itu dilakukan pada kaum  lelakinya.”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Maka wajib bagi setiap muslim dan muslimah untuk selalu berusaha  menekuni dzikir syar’i, terkhusu yang terkait dengan dzikir masuk kamar  mandi dan dzikir ketika berhubungan badan. Karena bertelanjang tanpa  diawali dengan dzikir kepada Allah merupakan sebab jatuh cintanya jin  kepada manusia.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Sebab Keenam: Terjadi sebagai bentuk mempermainkan manusia.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata dalam “At-Tafsir  Al-Kabir” (4/265) dimana beliau berbicara tentang kelakuan jin  mempermainkan manusia: “Dan terkadang pengaruh gangguan jin itu terjadi  sebagai bentuk memperamainkan manusia sebagaimana orang-orang bodohnya  manusia mempermainkan (orang asing) yang sedang menempuh perjalanan.”  Semoga Allah mencukupi par hamba-Nya dari kejelekan orang-orang bodoh  tersebut dengan mengembalikan mereka pada jalan-Nya, berdoanya mereka  kepada-Nya dan ibadah mereka kepada-Nya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Sebab Ketujuh: Sebagian jin mengganggu manusia untuk memberi  pelajaran pada mereka akibat mereka melakukan maksiat dan kebid’ahan.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Terjadi bahwa sebagian jin yang menyamar jadi manusia yang muslim  mengabarkan bahwa sebabnya dia merasuki seorang muslim adalah karena  muslim ini pelaku maksiat dan kebid’ahan. Dan makna dari hal ini adalah  bahwa kaum jin itu terdorong rasa cemburu mereka terhadap islam maka  mereka melakukan gangguan terhadap pelaku maksiat dan bid’ah dari kaum  muslimin.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dan sebenarnya hal ini tidaklah dibenarkan dari dua sisi:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Dari sisi bahwa      masuknya jin ke tubuh seorang muslim itu haram.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dari sisi bahwa      para jin itu memperlakukan para pelaku maksiat dan kebid’ahan bukan dengan      perlakuan&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Maka tidak boleh bagi mereka memukul pelaku maksiat dan kebid’ahan  tidak pula mengganggu mereka dengan jenis apapun, bahkan tidaklah jin  berhak untuk menasehati kaum muslimin, karena nasehat mereka kepada kaum  muslimin bisa membuat mereka ketakutan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Secara garis besar: kebanyakannya terjadinya perlakuan ini terhadap  kaum muslimin adalah berasal dari kaum jin yang bodoh meskipun mereka  itu muslim.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Sebab Kedelapan: Terjadi sebagai bentuk ujian dan cobaan.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Allah memiliki hikmah dalam perkara yang Dia takdirkan dan tentukan  atas seorang hamba yang shalih berupa pengaruh jin padanya, sebagaimana  pengaruh syaithan kepada nabi Allah Ayyub عليه السلام.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;Diterjemahkan oleh ‘Umar Al-Indunisy&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;Darul Hadits – Ma’bar, Yaman&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber:&lt;a href="http://thalibmakbar.wordpress.com/2010/11/11/sebab-sebab-jin-dan-syaithan-mengganggu-manusia/"&gt;http://thalibmakbar.wordpress.com/2010/11/11/sebab-sebab-jin-dan-syaithan-mengganggu-manusia/&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-4010640130860835753?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/4010640130860835753/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/sebab-sebab-jin-dan-syaithan-mengganggu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/4010640130860835753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/4010640130860835753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/sebab-sebab-jin-dan-syaithan-mengganggu.html' title='Sebab-sebab Jin Dan Syaithan Mengganggu Manusia'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-2937322016077036067</id><published>2010-11-18T04:52:00.000-08:00</published><updated>2010-11-18T06:45:53.425-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mizan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hadits'/><title type='text'>Ringan di Lisan, Berat di Timbangan, Amat dicintai Ar-Rahman</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.muhajirlawfirm.com/images/timbangan.gif"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 182px; height: 182px;" src="http://www.muhajirlawfirm.com/images/timbangan.gif" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Dari&lt;/span&gt; Abu Hurairah Radhiyallohu 'Anhu&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;, ia berkata Nabi shallallahu 'slaihi wasallam bersabda:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;كلمتان خفيفتان على اللسان ثقيلتان في الميزان حبيبتان إلىالرحمن سبحان الله وبحمده&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt; سبحناالله العظيم&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;"Dua kalimat dicintai oleh Ar-Rahman, ringan di lisan dan berat dalam timbangan; subhaanallaahu wa bihamdih subhaanallaahil 'adziim&lt;/span&gt;." (HR.Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, "Adanya penyebutan nama ar-Rahman secara khusus ditujukan untuk menjelaskan betapa luas rahmat Allah kepada hamba-Nya dengan membalas amalan yang sedikit dengan balasan yang banyak".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran dari Hadits diatas:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Anjuran untuk selalu berdzikir.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penetapan sifat mahabbah (cinta) Allah subhanahu wa ta'ala.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dalam dzikir tersebut terdapat penggabungan antara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tanzih&lt;/span&gt; (pensucian Dzat Allah dari segala aib dan kelemahan ) dan pujian bagi Allah.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penjelasan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam atas hal-hal yang mendekatkan kepada Allah subhanahu wa ta'ala dan memberatkan timbangan kebaikan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penetapan adanya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mizan&lt;/span&gt; (timbangan amal)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penetapan ditimbangnya amalan hamba.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Adanya isyarat terhadap luasnya rahmat Allah, membalas perbuatan ringan dengan pahala besar.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ringannya ucapan dzikir di atas pada lisan mengisyaratkan beratnya beban &lt;span style="font-style: italic;"&gt;taklif&lt;/span&gt;. Karena خفت الجنة با لمكاره وخفت النار بالشهوات &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Surga dikelilingi dengan hal-hal yang tidak disukai. Sementara neraka dikelilingi syahwat" (HR. Muslim, at-Tirmidzi, Ahmad dan ad-Darimi) &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pengamalan firman Allah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"wa sabbih bihamdi rabbik"&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-2937322016077036067?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/2937322016077036067/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/ringan-di-lisan-berat-di-timbangan-amat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/2937322016077036067'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/2937322016077036067'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/ringan-di-lisan-berat-di-timbangan-amat.html' title='Ringan di Lisan, Berat di Timbangan, Amat dicintai Ar-Rahman'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-7714596212132628230</id><published>2010-11-18T02:51:00.000-08:00</published><updated>2010-11-18T02:52:59.894-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info Dakwah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dauroh'/><title type='text'>Dauroh Ilmiyah Islamiyah Balikpapan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://salafybpp.com/images/pamflet-daurah-sehari.nop-2.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 564px; height: 800px;" src="http://salafybpp.com/images/pamflet-daurah-sehari.nop-2.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-7714596212132628230?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/7714596212132628230/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/dauroh-ilmiyah-islamiyah-balikpapan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/7714596212132628230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/7714596212132628230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/dauroh-ilmiyah-islamiyah-balikpapan.html' title='Dauroh Ilmiyah Islamiyah Balikpapan'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-7408105232404739744</id><published>2010-11-17T07:18:00.000-08:00</published><updated>2010-11-17T08:28:22.656-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download Kajian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sekolah Formal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ijazah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa Ulama'/><title type='text'>Hukum Sekolah Formal (Berijazah)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.sugarmamablog.com/wp-content/uploads/2009/01/istockphoto_1488672-graduation-vector.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 126px; height: 126px;" src="http://www.sugarmamablog.com/wp-content/uploads/2009/01/istockphoto_1488672-graduation-vector.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tanya:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bismillah, ana ingin bertanya bagaimana hukum menyekolahkan anak-anak  seperti (SD-SMU,Perguruan tinggi) jazakumullah khairan katsiro!&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Jawab:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Selama sekolah tersebut mengajarkan hal-hal yang tidak bertentangan  dengan syariat dan juga tidak ada maksiat dalam proses belajar  mengajarnya, maka tidak ada dalil yang melarang untuk bersekolah di  sekolah formal. Karenanya para ulama besar di zaman ini, seperti  Asy-Syaikh Ibnu Baz, Asy-Syaikh Al-Albani, Asy-Syaikh Muqbil, Asy-Syaikh  Abdul Muhsin, dan selainnya, mereka semua adalah para ulama yang  mengenyam pendidikan formal.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Masalah pengharaman sesuatu adalah masalah yang berat maka hendaknya  seorang muslim berhati-hati dalam mengharamkan sesuatu. Karena  mengharamkan sesuatu yang halal tidaklah lebih kecil dosanya  dibandingkan menghalalkan sesuatu yang haram. Karenanya Asy-Syaikh  Abdullah Al-Bukhari -hafizhahullah- telah memfatwakan -pada daurah JOGJA  tahun 2009 kemarin- bolehnya sekolah formal (berijazah) dengan  persyaratan yang tersebut di atas, ini sebagaimana yang sebagian asatidz  -yang mendengar langsung ucapan beliau- kabarkan kepada kami.&lt;span id="more-1820"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Adapun kritikan sebagian orang terhadap sekolah formal berbasis islam  dengan alasan adanya ijazah, maka berikut jawaban Al-Ustadz Zulqarnain  -hafizhahullah- dari milis An-Nasihah (5 april 2009):&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;Bismillah,&lt;br /&gt;Saya tidak mengerti dari mana sumber pegangan orang-orang yang  mensyaratkan bahwa sekolahan tidak boleh memakai ijazah, apalagi  menjatuhkan vonis hizbiyah terhadapnya. Kalau hal tersebut benar, maka  betapa banyak dari ulama kita yang menyandang gelar ilmiyah; doktor,  master, dan selainnya yang terkena vonis hizbiyah. Dan betapa banyak  ulama yang pernah mengajar di universitas islam yang terkemuka, seperti  syaikh Ibnu Baaz, Syaikh Albany, Syaikh Ibnu Utsaimin, Syaikh Rabi’ dan  selainnya yang akan dianggap mengajar di tempat hizbiyah lantaran  universitas tersebut memberi ijazah dan mensyaratkan ijazah untuk masuk.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;Masalah foto untuk masuk sekolah, itu adalah kebijaksanaan dan  kemashlahatan yang dipandang sesuai dengan kebutuhan dan keadaan, baik  dari sisi keamanan, pewajiban dari pemerintah atau selainnya. Hal ini  adalah hal yang dimaklumi dan masih difatwakan sejumlah ulama kita.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;Maka Ana sangat heran melihat sebagian ikhwah yang terlalu cepat  menjatuhkan vonis hizbiyah terhadap saudara-saudaranya sendiri yang  berjalan di atas manhaj salaf, apalagi ustadz-ustadz mereka sendiri.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hendaknya setiap orang menjaga lisannya dan mengetahui bahwa ucapan  seperti itu bisa memberi dampak negatif terhadap dakwah sehingga dia  harus menanggung dosa dari perbuatan yang dia lakukan.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt; Siapa yang ada nasehat untuk saudara hendaknya dia sampaikan dengan hujjah yang benar dan berbaik sangka kepada mereka.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt; Semoga Allah memberi taufiq-Nya kepada kita semua.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Wallahu A’lam&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Download MP3: &lt;a href="http://www.4shared.com/file/146939758/4f4081f3/ijazah.html"&gt;HUKUM IJAZAH&lt;/a&gt; (Ust. Dzulqarnain)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber: www.al-atsariyyah.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-7408105232404739744?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/7408105232404739744/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/hukum-sekolah-formal-berijazah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/7408105232404739744'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/7408105232404739744'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/hukum-sekolah-formal-berijazah.html' title='Hukum Sekolah Formal (Berijazah)'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-4491076948726107204</id><published>2010-11-15T05:37:00.000-08:00</published><updated>2010-11-17T02:26:10.901-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Idul Adha'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa Ulama'/><title type='text'>Puasa Arafah dan Idul Adha, Ikut Pemerintah atau Arab Saudi?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://harakatuna.files.wordpress.com/2009/11/iduladha2.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 193px; height: 151px;" src="http://harakatuna.files.wordpress.com/2009/11/iduladha2.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tahun ini, pemerintah Indonesia secara resmi menetapkan bahwa hari raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1431 Hijriyah bertepatan dengan tanggal 17 November 2010 Masehi, berbeda dengan pemerintah Arab Saudi yang menetapkan bahwa hari raya yang juga disebut hari haji akbar itu jatuh pada sehari sebelumnya, bertepatan 16 November 2010. Ini berarti bahwa jama’ah haji melakukan wukuf di Arafah pada tanggal 15 November 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sinilah kemudian muncul pertanyaan, kapan kita yang berada di Indonesia ini berpuasa Arafah dan berhari raya kurban? Apakah tetap mengikuti pemerintah kita atau mengikuti Arab Saudi? Dan apakah memungkinkan kalau puasa Arafahnya mengikuti waktu wukufnya jama’ah haji, sementara idul adhanya mengikuti pemerintah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami akan menyebutkan dua pendapat yang pernah dijelaskan oleh para ulama, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat pertama: puasa Arafah dan idul adha tetap mengikuti pemerintah walaupun berbeda dengan negara Arab Saudi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah pendapat yang disebutkan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah. Beliau pernah ditanya oleh para pekerja yang bertugas di kedutaan Arab Saudi  (di negara lain), ketika mereka menghadapi masalah terkait dengan puasa Ramadhan dan puasa Arafah. Mereka tepecah menjadi tiga kelompok:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok pertama mengatakan: “Kami akan berpuasa dan berbuka mengikuti kerajaan Arab Saudi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok kedua mengatakan: “Kami berbuka dan berpuasa mengikuti negara yang kami bertugas di sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kelompok ketiga mengatakan: “Kami akan berpuasa Ramadhan sesuai dengan negara tempat kami bertugas, namun untuk puasa Arafah, kami mengikuti kerajaan Arab Saudi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka beliau menjawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama rahimahumullah berbeda pendapat, apakah jika hilal telah tampak di suatu negeri,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kemudian mengharuskan kaum muslimin di seluruh negeri untuk mengikuti negeri tersebut,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- ataukah kewajiban itu hanya bagi yang melihat hilal saja dan juga bagi negeri yang satu mathla’ dengannya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- atau kewajiban itu juga berlaku bagi yang melihat hilal dan siapa saja yang berada di pemerintahan (negara) yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam permasalahan ini terdapat beberapa pendapat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang rajih (kuat) adalah bahwasannya permasalahan ini dikembalikan kepada ahlul ma’rifah. Jika dua negeri berada dalam satu mathla’ yang sama, maka keduanya terhitung seperti satu negeri, sehingga jika di salah satu negeri tersebut sudah terlihat hilal, maka hukum ini juga berlaku bagi negeri yang satunya tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun jika dua negeri tadi tidak berada pada satu mathla’, maka setiap negeri memiliki hukum tersendiri. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala. Dan inilah yang sesuai dengan zhahir Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta qiyas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil dari Al-Qur’an:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ &lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” [Al-Baqarah: 185]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipahami dari ayat ini adalah barangsiapa yang tidak melihat maka tidak diwajibkan baginya berpuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun dalil dari As-Sunnah adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;إذا رأيتموه فصوموا ، وإذا رأيتموه فأفطروا&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Apabila kalian melihat hilal (Ramadhan), maka berpuasalah, dan apabila melihat hilal (syawwal), maka berbukalah (beridul fithrilah.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipahami dari hadits ini adalah jika kita tidak melihat hilal, maka tidak wajib berpuasa ataupun berbuka (beridul fithri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun dalil qiyas adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena waktu mulainya berpuasa dan berbuka itu hanya berlaku untuk negeri itu sendiri dan negeri lain yang waktu terbit dan tenggelamnya matahari adalah sama. Ini adalah hal yang telah disepakati, sehingga anda saksikan bahwa kaum muslimin di Asia sebelah timur mulai berpuasa sebelum kaum muslimin yang berada di sebelah baratnya, demikian pula dengan waktu berbukanya. Hal ini terjadi karena fajar di belahan bumi timur terbit lebih dahulu daripada di belahan barat, begitu juga dengan tenggelamnya matahari. Jika perbedaan seperti ini bisa terjadi pada waktu mulainya berpuasa dan berbuka yang itu terjadi setiap hari, maka demikian juga hal itu bisa terjadi pada waktu mulainya berpuasa di awal bulan dan waktu mulainya berhari raya. Tidak ada bedanya antara keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jika ada dua negeri yang berada dalam satu pemerintahan, dan pemerintah negeri tersebut telah memerintahkan untuk berpuasa atau berbuka (berhari raya), maka wajib mengikuti perintah (keputusan) pemerintah tersebut. Masalah seperti ini adalah masalah khilafiyah, sehingga keputusan pemerintahlah yang akan menyelesaikan perselisihan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan ini semua, hendaklah kalian berpuasa dan berbuka (berhari raya) sebagaimana puasa dan berbuka (berhari raya) yang dilakukan di negeri kalian berada (yaitu mengikuti keputusan pemerintah). Sama saja apakah keputusan ini sesuai dengan negeri asal kalian atau berbeda. Begitu juga dengan hari (puasa) Arafah, hendaklah kalian mengikuti negeri yang kalian berada di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan yang lain, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu ta’ala juga ditanya:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Jika terdapat perbedaan tentang penetapan hari Arafah dari negeri-negeri yang berbeda disebabkan perbedaan mathla’, apakah kami berpuasa mengikuti ru’yah negeri yang kami berada padanya, ataukah mengikuti ru’yah Haramain (Arab Saudi)?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menjawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Permasalahan ini dibangun (muncul) dari perbedaan pendapat di kalangan ulama, apakah munculnya hilal (di suatu daerah) itu berlaku untuk seluruh dunia, ataukah berbeda-beda tergantung perbedaan mathla’nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat yang benar adalah berbeda-beda sesuai dengan perbedaan mathla’nya. Misalnya di Makkah terlihat hilal tanggal 9 Dzulhijjah, namun di negari lain, hilal tersebut sudah terlihat sehari sebelumnya, sehingga hari Arafah (di Makkah) menurut negeri itu adalah sudah memasuki tanggal 10 Dzulhijjah. Maka tidak boleh bagi penduduk negeri tersebut untuk berpuasa pada hari itu, karena hari itu adalah hari ‘Idul Adha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga jika munculnya hilal Dzulhijjah di negeri itu sehari setelah ru’yatul hilal di Makkah, maka tanggal 9 Dzulhijjah di Makkah itu adalah bertepatan dengan tanggal 8 Dzulhijjah di negeri tersebut. Sehingga penduduk negeri tersebut berpuasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah menurut mereka, yang bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijjah di Mekkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah pendapat yang kuat dalam permasalahan ini, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;إذا رأيتموه فصوموا وإذا رأيتموه فأفطروا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Jika kalian melihat hilal (Ramadhan) hendaklah kalian berpuasa, dan jika kalian melihat hilal (Syawwal) hendaknya kalian berbuka (berhari raya).”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduk di daerah yang tidak tampak oleh mereka hilal, maka mereka bukan termasuk orang yang melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana manusia bersepakat bahwa terbitnya fajar dan tenggelamnya matahari itu sesuai (mengikuti) daerahnya masing-masing yang berbeda-beda, maka demikian juga penetapan (awal) bulan itu, sebagaimana penetapan waktu harian (mengikuti daerahnya masing-masing).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat kedua: puasa Arafah mengikuti Arab Saudi, namun idul adha mengikuti pemerintah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sebagaimana yang disebutkan oleh Asy-Syaikh ‘Utsman bin ‘Abdillah As-Salimi hafizhahullah, salah seorang ulama besar di Yaman, dan termasuk murid senior Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimauhllah. Dalam salah satu pelajaran yang disampaikan ba’da zhuhur tanggal 3 Dzulhijjah yang lalu, beliau ditanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kita beridul Adha (yakni mulai menyembelih hewan kurban) dengan mengikuti Arab Saudi, sementara kami di Maroko, meskipun hal ini menyelisihi dan mendahului waliyul amr (pemerintah), dan hal ini juga bisa menimbulkan fitnah sebagaimana yang anda ketahui?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka beliau menjawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idul Adha wajib atas seluruh kaum muslimin untuk mengikuti negeri Al-Haramain (Arab Saudi), karena pelaksanaan ibadah haji berada di sana, sehingga yang dijadikan patokan adalah pelaksanaan ibadah haji dan hari Arafah (sesuai dengan yang di Arab Saudi), maka hendaknya kalian melaksanakan puasa hari Arafah ketika di negara Arab Saudi juga berpuasa, yaitu ketika para jama’ah haji melakukan wukuf di Arafah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun waliyul amr (pemerintah), baik di Maroko maupun negeri yang lain, tidak boleh bagi mereka untuk menyelisihi umat Islam (yang berpatokan pada pelaksanaan ibadah haji dan hari Arafah di Saudi tersebut).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun apabila kalian khawatir terjadinya fitnah, jika kalian sanggup, maka hendaknya kalian menyembelih hewan kurban pada hari nahrsecara sembunyi-sembunyi. Kalau tidak mampu, maka pada hari keduanya tidak mengapa. Hari-hari penyembelihan itu banyak, yaitu hari nahr (10 Dzulhijjah), tanggal 11, tanggal 12, dan menurut pendapat yang benar adalah juga tanggal 13 sebagaimana yang dikatakan Asy-Syafi’i dan sekelompok ulama yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga kalian boleh memilih, tidak mengapa bagi kalian untuk mengakhirkan dan mengikuti negeri kalian dalam menyembelih hewan kurban jika khawatir timbul fitnah. Wabillahit taufiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi hendaknya kalian tetap merasa bahwa hari Id (yang benar) adalah bersama dengan negeri Saudi Arabia. Semoga Allah memberikan taufik kepada kalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun untuk shalat id, maka dilakukan pada hari kedua (dari harinahr, yaitu tanggal 11 Dzulhijjah) selama di negeri tersebut semuanya melaksanakan id bersama dengan pemerintah setempat, sehingga jika khawatir terjadi fitnah, maka boleh mengakhirkan shalat id pada hari kedua.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kesimpulan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum muslimin di Indonesia -sebagaimana yang telah diumumkan sendiri oleh pemerintah-, diberi keleluasaan untuk memilih waktu puasa Arafah dan hari Id-nya, silakan mengikuti pemerintah atau boleh juga mengikuti Arab Saudi. Dari keterangan para ulama di atas, maka Insya Allah tidak mengapa bagi setiap muslim di negeri ini untuk menentukan waktu puasa dan hari rayanya sesuai dengan pendapat yang menurut dia lebih tepat (tentunya dalam memilih pendapatnya itu harus dengan didasari oleh ilmu, tanpa ada sikap taqlid, apalagi memilih pendapat yang sesuai dengan hawa nafsu diri dan kelompoknya), karena masing-masing pendapat tersebut berdasarkan ijtihad para ulama yang bersumber dari dalil-dalil yang syar’i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang mengikuti pendapat pertama, maka dia memiliki dasar:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; * Bahwa dari keterangan Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin tadi, dalam menentukan waktu masuknya bulan Dzulhijjah, insya Allah Pemerintah Indonesia sudah menempuh upaya-upaya yang sesuai dengan syar’i, yaitu ru’yatul hilal[1], yang kenyataannya pada 29 Dzulqa’dah petang, hilal bulan Dzulhijjah belum nampak, sehingga dilakukan ikmal(menyempurnakan/menggenapkan bulan Dzulqa’dah menjadi 30 hari). Ini semua adalah upaya yang sudah sesuai dengan bimbingan Nabishallallahu ‘alaihi wasallam.[2]&lt;br /&gt; * Dengan mengikuti pemerintah, syi’ar kebersamaan umat Islam di negeri ini akan lebih terjaga, sebagaimana yang diisyaratkan oleh Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;الصوم يوم تصومون ، و الفطر يوم تفطرون ، و الأضحى يوم تضحون&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Berpuasa (adalah dilakukan di) hari kalian semua berpuasa, beridul fithri (adalah dilakukan di) hari kalian beridul fithri, dan beridul adha (adalah dilakukan di) kalian beridul adha (melakukan penyembelihan).” [HR. At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani rahimahullah]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bagi yang mengikuti pendapat kedua, dia memiliki dasar:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; * Puasa Arafah disesuaikan waktunya dengan waktu wukufnya jama’ah haji di Arafah. Sesuai dengan namanya, bahwa puasa Arafah adalah puasa yang dilakukan ketika jama’ah haji melakukan wukuf di Arafah. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt; * Pemerintah memberikan keleluasaan kepada masyarakat untuk memilih waktu puasa dan hari rayanya, sehingga kalau dia berpuasa dan berhari raya tidak bersamaan waktunya dengan pemerintah, ini bukan termasuk bentuk ketidaktaatan kepada waliyul amr.&lt;br /&gt; * Adapun untuk shalat id-nya, boleh bagi dia untuk melakukannya bersamaan dengan pemerintah karena biasanya mayoritas umat Islam di negeri ini mengikuti pemerintah, sehingga jika dikhawatirkan timbul fitnah, tidak mengapa untuk melakukan shalat id sesuai dengan pemerintah negeri ini, berbeda dengan puasa yang itu merupakan amalan yang tidak nampak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a’lam bish shawab.&lt;br /&gt;[1] Walaupun pemerintah juga menggunakan metode hisab, namun metode ini tidak teranggap karena tidak sesuai dengan bimbingan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua dan kepada pemerintah negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Berbeda dengan yang dituduhkan oleh kelompok sempalan yang dalam pergerakannya banyak menyelisihi syari’at semisal Majelis Mujahidin (Indonesia) yang menyatakan bahwa penetapan awal Dzulhijjah oleh pemerintah RI adalah tidak sah sebagai pegangan Syar’i karena menyalahi penetapan wukuf Arafah. Demikian maklumat yang mereka keluarkan. Wallahu a’lam, sebagaimana yang biasa mereka lakukan, apakah keputusan ini lebih dominan didorong dari sikap kebencian mereka kepada pemerintah atau karena yang lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;sumber: http://www.assalafy.org/mahad/?p=556&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-4491076948726107204?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/4491076948726107204/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/puasa-arafah-dan-idul-adha-ikut.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/4491076948726107204'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/4491076948726107204'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/puasa-arafah-dan-idul-adha-ikut.html' title='Puasa Arafah dan Idul Adha, Ikut Pemerintah atau Arab Saudi?'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-6459412395734953233</id><published>2010-11-15T02:57:00.000-08:00</published><updated>2010-11-18T07:34:47.438-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ru&apos;yah Hilal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Idul Adha'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa Ulama'/><title type='text'>Bila Ru’yah Hilal Berbeda dengan Makkah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://tribunindonesia.files.wordpress.com/2009/08/hilal.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 181px; height: 136px;" src="http://tribunindonesia.files.wordpress.com/2009/08/hilal.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong style="font-weight: bold;"&gt;Oleh:&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Fadhilatus Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya,&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Apabila hari Arafah berbeda karena  perbedaan masing-masing wilayah  di dalam mathla’ (tempat terbit) hilal,  maka apakah kita berpuasa  mengikuti ru’yah negeri tempat kita berada  ataukah kita berpuasa  mengikuti ru’yah Al-Haramain (Makkah dan Madinah  –pent)?"&lt;br /&gt;&lt;span id="more-779"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Maka beliau menjawab&lt;/strong&gt;,&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Perkara ini dibangun di atas ikhtilaf  para ulama, apakah hilal itu  satu saja untuk seluruh dunia atau berbeda  sesuai mathla’nya (tempat  terbit bulan). Dan yang benar bahwa  penampakan hilal berbeda sesuai  dengan perbedaan mathla’.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebagai contoh: Apabila hilal telah  nampak di Kota Makkah, dan  sekarang adalah hari ke sembilan (di  Makkah), hilal juga terlihat di  negeri yang lain satu hari lebih cepat  daripada Makkah sehingga hari  Arafah (di Makkah) adalah hari kesepuluh  bagi mereka. Maka mereka tidak  boleh berpuasa karena hari tersebut  adalah hari raya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Demikian pula sebaliknya, jika di  suatu negeri ru’yahnya lebih lambat  daripada Makkah maka tanggal  sembilan di Makkah merupakan tanggal  delapan bagi mereka. Maka mereka  berpuasa pada hari ke sembilan (menurut  negeri mereka) bersamaan dengan  tanggal sepuluh di Makkah. Ini  merupakan pendapat yang kuat. Karena  Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;اذا رايتموه فصوموا و اذا رايتموه فافطروا&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Jika kalian melihatnya (hilal) maka  berpuasalah, dan apabila kalian  melihatnya maka berbukalah”  (Dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari Kitab  Ash-Shaum, Bab Hal Yuqal  Ramadhan (1900) dan Muslim di Kitab Ash-Shiyam,  Bab Wujubus Shaum  (20)(1081)).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Orang-orang yang hilal itu tidak  nampak dari arah (daerah) mereka  berarti mereka tidaklah melihat hilal  tersebut. Begitu juga manusia  telah sepakat bahwa mereka menganggap  terbitnya fajar dan terbenamnya  matahari pada setiap wilayah  disesuaikan dengan wilayah masing-masing.  Maka demikian pulalah  penetapan waktu bulan seperti penetapan waktu  harian.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;(Fatawa Ahkamis Shiam no. 405. Diterjemahkan oleh Abu Umar Al Bankawy, muraja’ah oleh Al Ustadz Abdul Mu’thi Al Maidani)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Sumber: &lt;a rel="nofollow" href="http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/02/17/kapankah-kita-puasa-arafah-jika-ru%E2%80%99yah-hilalnya-berbeda-dengan-makkah/" target="_blank"&gt;http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/02/17/kapankah-kita-puasa-arafah-jika-ru%E2%80%99yah-hilalnya-berbeda-dengan-makkah/&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-6459412395734953233?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/6459412395734953233/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/bila-ruyah-hilal-berbeda-dengan-makkah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/6459412395734953233'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/6459412395734953233'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/bila-ruyah-hilal-berbeda-dengan-makkah.html' title='Bila Ru’yah Hilal Berbeda dengan Makkah'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-7706834211920724705</id><published>2010-11-14T04:02:00.000-08:00</published><updated>2010-11-17T02:27:19.726-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kurban'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Zakat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa Ulama'/><title type='text'>Zakat Harta dan Daging Kurban bagi Orang Kafir</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TN_TBCUzXzI/AAAAAAAAAn4/9yNt96PeZEo/s1600/Picture%2B093-1.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 199px; height: 149px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TN_TBCUzXzI/AAAAAAAAAn4/9yNt96PeZEo/s400/Picture%2B093-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5539378081446453042" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oleh: Komisi Tetap untuk Pembahasan Ilmiyah dan Fatwa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Soal:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bolehkah memberikan zakat harta atau hewan kurban untuk tetangga kafir yang musyrik yang tidak memiliki hubungan kekerabatan?&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawab:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Allah telah menjelaskan siapa saja yang berhak menerima zakat harta pada sebuah ayat di Surat At Taubah,&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: right;"&gt;إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ  عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ  وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ  وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (٦٠)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir,  orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk  hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk  jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai  suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi  Maha Bijaksana. (At Taubah: 60)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Demikian juga sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika  beliau mengutus Mua’dz ke Yaman. Beliau mengabarkan bahwa Allah telah  mewajibkan kaum muslimin untuk membayar shadaqah (zakat) yang diambil  dari orang-orang kaya mereka lalu diserahkan kepada orang-orang fakir di  antara mereka. Hadits ini disepakati keshahihannya[1]. Sehingga, zakat  harta tidak boleh diserahkan kepada selain muslim kecuali bagi para  muallaf[2]. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Adapun daging kurban maka tidak mengapa diberikan kepada tetangga  atau karib kerabat yang kafir, karena daging tersebut adalah salah  bentuk shadaqah.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Wabillahit taufiq, semoga shalawat dan salam tercurah kepada nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabat beliau.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Komite Tetap untuk Penelitian Ilmiyah dan Fatwa&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Anggota:&lt;br /&gt;- Abdurrazzaq Afifi&lt;br /&gt;- Abdullah bin Ghudayan&lt;br /&gt;- Abdullah bin Qu’ud&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;(Diterjemahkan dari: Fatwa Al Lajnah Daimah No. 3635)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Catatan Kaki:&lt;br /&gt;(1) HR. Al Bukhari (6848) dan Muslim (1676)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(2) Syaikh Shalih Al Fauzan menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan  muallafatul qulub (muallaf) itu ada dua golongan: Kafir dan muslim.  Zakat harta diberikan kepada seorang yang kafir apabila diharapkan  keislamannya, untuk menguatkan niatnya untuk masuk ke dalam Islam dan  memperkokoh kecenderungannya, atau diharapkan pemberian zakat tersebut  bisa menahan kejahatannya terhadap kaum muslimin. Adapun zakat harta  diberikan kepada muallaf muslim untuk memperkuat keimanannya atau untuk  menarik orang dekatnya pula ke dalam Islam. (Al Mulakhas Al Fiqhi,  1/362)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber: Milis An-Nashihah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-7706834211920724705?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/7706834211920724705/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/zakat-harta-dan-daging-kurban-bagi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/7706834211920724705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/7706834211920724705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/zakat-harta-dan-daging-kurban-bagi.html' title='Zakat Harta dan Daging Kurban bagi Orang Kafir'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TN_TBCUzXzI/AAAAAAAAAn4/9yNt96PeZEo/s72-c/Picture%2B093-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-5559173803981931344</id><published>2010-11-12T03:50:00.000-08:00</published><updated>2010-11-17T02:27:56.348-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info Dakwah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dauroh'/><title type='text'>Dauroh dan Seminar Ilmiyah Pontianak</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TN0qyxZ9DUI/AAAAAAAAAnY/lO8xXlJToe4/s1600/seminar%2Bpontianak1.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 285px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TN0qyxZ9DUI/AAAAAAAAAnY/lO8xXlJToe4/s400/seminar%2Bpontianak1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538630168479599938" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TN0qyxZ9DUI/AAAAAAAAAnY/lO8xXlJToe4/s1600/seminar%2Bpontianak1.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 281px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TN0qzKw6t2I/AAAAAAAAAng/2-0wD2rRFo0/s400/seminar%2Bpontianak2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5538630175286802274" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Seminar Ilmiyah "Menyelami Keindahan Islam" &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;telaah kitab Durroh Mukhtasoroh karya Syaikh As-Sa'di&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pembicara: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ust. Ali BAsuki, Lc (Pengasuh majalah Akhwat, Jakarta&lt;br /&gt;Ust. Abdulbar Kaisenda (Pengasuh Ahlus Sunnah Jakarta&lt;br /&gt;Ust. Jabir (pengasuh Ma'had Manarus Sunnah, Pontianak)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Waktu:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ahad, 7 Dzulhijjah 1431H/Minggu, 14 Nopember 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pukul:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;09.00 - 11.30 wib&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tempat:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Masjid Mujahidin&lt;br /&gt;Jl. Ahmad Yani-Pontianak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kajian Islam Ahlussunnah Pontianak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bersama:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ust. Ali Basuki, Lc&lt;br /&gt;"Mewaspadai Jerat-Jerat Syirik"&lt;br /&gt;telaah kitab Al Qowaid Al Arba'ah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ust. Abdulbar Kaisenda&lt;br /&gt;"Fiqih Jual Beli dalam Islam"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Waktu:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jum'at - Ahad, 5-7 Dzulhijjah 1431 H/Jum'at - Minggu, 12-14 Nopember 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tempat:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Masjid Al-Muqorrobin&lt;br /&gt;Jl. Parit H.Husin 1 -Pontianak Tenggara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penyelenggara:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ma'had Manarus Sunnah Pontianak&lt;br /&gt;Yayasan Media Ilmu Pontianak&lt;br /&gt;Kerjasama Pengurus Masjid Darussalam Al-Arif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-5559173803981931344?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/5559173803981931344/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/dauroh-dan-seminar-ilmiyah-pontianak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/5559173803981931344'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/5559173803981931344'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/dauroh-dan-seminar-ilmiyah-pontianak.html' title='Dauroh dan Seminar Ilmiyah Pontianak'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TN0qyxZ9DUI/AAAAAAAAAnY/lO8xXlJToe4/s72-c/seminar%2Bpontianak1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-3343673336567571991</id><published>2010-11-12T02:30:00.000-08:00</published><updated>2010-11-17T02:28:16.312-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muslimah'/><title type='text'>Hukum Wanita Memakai Parfum</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://usa.hermes.com/wcsstore/ConsumerDirectStorefrontAssetStore/images/common/background/fragrances/fraglines/parfum-d-hermes.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 144px; height: 128px;" src="http://usa.hermes.com/wcsstore/ConsumerDirectStorefrontAssetStore/images/common/background/fragrances/fraglines/parfum-d-hermes.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Oleh Syaikh Muhammad Firkous hafizahullah &lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Telah disebutkan dalam hadits:&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;أيما امرأة استعطرت ثمّ خرجت، فمرت على قوم ليجدوا ريحها فهي زانية، وكل عين زانية&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Wanita mana saja yang berwangi-wangian lalu keluar, dan melewati  satu kaum sehingga mereka mencium baunya, maka wanita itu penzina,dan  setiap mata berbuat zina.”&lt;br /&gt;(HR.Nasaai, kitab Az-zinah bab: maa yukrahu linnisaa min at-thiib,  Abu Dawud kitab:At-Tarajjul, bab :ma jaa fil mar’ah tatathyyabu  lilkhuruj, Tirmidzi kitab: Al-Adab an rasulillah Shallallahu alaihi  wasallam bab: ma jaa fii karahiyati khuruujil mar’ah muta’aththirah,  Al-Hakim (2/396), Ahmad (4/400), dari hadits Abu Musa Al-Asy’ari  radhiallahu anhu. Dihasankan Al-Albani dalam jilbab al-mar’atil muslimah  (137))&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Telah shahih pula dari hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;أيما امرأة أصابت بخورا فلا تشهد معنا العشاء الآخرة&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Siapa saja wanita yang terkena dupa maka jangan menghadiri shalat isya bersama kami.” (HR.Muslim kitab Ash-shalaah,bab: khuruuj an-nisaa ilal masajid  idza lam yatarattab alaihi fitnah . Abu Dawud kitab: At-Tarajjul bab: ma  jaa fil mar’ah tatathayyabu lil khuruj, Al-Baihaqi (3/133), Al-Baghawi  dalam syarhus sunnah (816), Abu Awanah dalam musnadnya (2/17), Abu Ya’la  (545), dari hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu, lihat Silsilah  Ash-Shahihah Syaikh Al-Albani (3605)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam riwayat Ibnu Majah bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;أيما امرأة تطيبت ثم خرجت إلى المسجد، لم تقبل لها صلاة حتى تغتسل&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Siapa saja wanita yang menggunakan wangi-wangian, lalu dia keluar menuju masjid, tidak diterima shalatnya hingga dia mandi.”&lt;br /&gt;(HR.Ibnu Majah kitabul fitan bab: fitnatun nisaa, Abu Dawud kitab  At-tarajjul bab: ma jaa fil mar’ah tatathayyabu lil khuruj, Al-Baihaqi  dalam sunan Al-Kubra (3/133), dari hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu.  Lihat Silsilah Ash-shahihah (1031)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang wajib bagi seorang wanita jika dia keluar dari rumahnya karena  ada kebutuhan agar keluar dengan menjaga ketentuan- ketentuan syariat  dengan berhijab, menjaga kehormatan dan tidak berwangi-wangian.  Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;لا تمنعوا إماء الله مساجد الله وليخرجن تفلات&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Jangan kalian mencegah hamba wanita Allah untuk mendatangi masjid-masjid Allah, dan hendaknya mereka keluar dengan tafilaat.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(HR.Ahmad (2/439), Abu Dawud kitab Ash-sholaah, bab maa jaa fi  khuruujin nisaa ilal masjid, Ad-Darimi (1/293), Ibnul Jarud (169), dari  hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu.Dishahihkan Al-Albani dalam  Al-Irwa’ (2/293)no:515.)&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;Makna “Tafilaat” adalah tidak menggunakan wangi-wangian.&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;والعلم عند الله تعالى، وآخر دعوانا أن الحمد لله ربّ العالمين، وصلى الله على محمد وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-style: italic; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Dari fatawa Muhammad Firkous no:205) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-style: italic; text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Diterjemahkan oleh: Abu Karimah Askari bin Jamal&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber: http://www.salafybpp.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=122:hukum-wanita-memakai-parfum&amp;amp;catid=28:muslimah&amp;amp;Itemid=54&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.salafybpp.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=122:hukum-wanita-memakai-parfum&amp;amp;catid=28:muslimah&amp;amp;Itemid=54"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-3343673336567571991?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/3343673336567571991/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/hukum-wanita-memakai-parfum.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/3343673336567571991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/3343673336567571991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/hukum-wanita-memakai-parfum.html' title='Hukum Wanita Memakai Parfum'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-3919863772572231556</id><published>2010-11-11T04:48:00.000-08:00</published><updated>2010-11-21T05:56:32.445-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syaitan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruqyah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jin'/><title type='text'>Kesurupan dalam Timbangan Islam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://fc04.deviantart.net/fs20/f/2007/307/d/b/A_Dark_Starry_Night_Wallpaper_by_s3vendays.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 197px; height: 157px;" src="http://fc04.deviantart.net/fs20/f/2007/307/d/b/A_Dark_Starry_Night_Wallpaper_by_s3vendays.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penulis: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Lc&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena kesurupan masih mengundang perdebatan hingga saat ini. Kalangan yang menolak, (lagi-lagi) masih menggunakan alasan klasik yakni “tidak bisa diterima akal”. Semoga, kajian berikut bisa membuka kesadaran kita bahwa syariat Islam sejatinya dibangun di atas dalil, bukan penilaian pribadi atau logika orang per orang.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Muqaddimah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa masuknya jin ke dalam tubuh manusia masih menjadi teka-teki bagi sebagian orang. Peristiwa yang lebih dikenal dengan istilah kesurupan atau kerasukan jin (baca: setan) ini acap kali menjadi polemik di tengah masyarakat kita yang heterogen. Sehingga sekian persepsi bahkan kontroversi sikap pun meruak dan bermunculan ke permukaan. Ada yang membenarkan dan ada pula yang mengingkari. Bahkan ada pula yang menganggapnya sebagai perkara dusta dan termasuk dari kesyirikan.&lt;br /&gt;Para pembaca yang mulia, sebagai muslim sejati yang berupaya meniti jejak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya, tentunya prinsip ‘berpegang teguh dan merujuk kepada Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berbeda pendapat’ haruslah selalu dikedepankan. Sebagaimana bimbingan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kalam-Nya nan suci:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai.” (Ali ‘Imran: 103)&lt;br /&gt;Al-Imam Al-Qurthubi berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan kepada kita agar berpegang teguh dengan Kitab-Nya (Al-Qur`an) dan Sunnah Nabi-Nya, serta merujuk kepada keduanya ketika terjadi perselisihan. Ia (juga) memerintahkan kepada kita agar bersatu di atas Al-Qur`an dan As-Sunnah secara keyakinan dan amalan…” (Tafsir Al-Qurthubi, 4/105)&lt;br /&gt;Demikianlah timbangan adil yang dijunjung tinggi oleh Islam. Berangkat dari sini, maka kami bermaksud menyajikan –di tengah-tengah anda– beberapa sajian ilmiah berupa keterangan atau fatwa dari Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahu dan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu seputar permasalahan kesurupan atau kerasukan jin ini. Dengan harapan, ini bisa menjadi pelita dalam gelapnya permasalahan dan pembuka bagi cakrawala berpikir kita semua. Amiin ya Rabbal ‘Alamin…&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penjelasan Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahu berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Segala puji hanyalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Shalawat dan salam semoga tercurahkan keharibaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para shahabatnya, dan orang-orang yang haus akan petunjuknya. Amma ba’du:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bulan Sya’ban tahun 1407 H, sejumlah surat kabar lokal dan nasional telah memuat berita –ada yang ringkas dan ada yang detail– tentang masuk Islamnya sejumlah jin di hadapanku di kota Riyadh, yang sedang merasuki tubuh salah seorang wanita muslimah. Sebelumnya, jin tersebut telah mengumumkan keislamannya di hadapan saudara Abdullah bin Musyarraf Al-‘Amri, seorang penduduk kota Riyadh. Setelah dibacakan ayat-ayat Al-Qur`an kepada wanita yang kerasukan itu dan berdialog dengan jin itu serta mengingatkan bahwa perbuatannya itu merupakan dosa besar dan kedzaliman yang diharamkan, saudara Abdullah pun menyuruhnya agar keluar dari tubuh si wanita. Jin itu pun patuh, kemudian menyatakan keislamannya di hadapan saudara Abdullah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah dan para wali wanita itu ingin membawa si wanita kepadaku, agar aku turut menyaksikan keislaman jin tersebut. Mereka pun datang kepadaku.&lt;br /&gt;Aku menanyai jin tersebut tentang sebab-sebab dia masuk ke dalam tubuh si wanita. Dia pun menceritakan kepadaku beberapa faktor penyebabnya. Dia berbicara melalui mulut si wanita itu, akan tetapi suaranya adalah suara seorang laki-laki dan bukan suara wanita yang ketika itu sedang duduk di kursi bersama-sama dengan saudara laki-lakinya, saudara perempuannya, dan Abdullah bin Musyarraf yang tidak jauh dari tempat dudukku.&lt;br /&gt;Sebagian masyayikh (para ulama) pun menyaksikan kejadian ini dan mendengarkan secara langsung ucapan jin tersebut yang telah menyatakan keislamannya. Dia menjelaskan bahwa asalnya dari India dan beragama Budha. Aku pun menasehatinya dan berwasiat kepadanya agar bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan memintanya keluar dari tubuh si wanita serta tidak menzaliminya. Dia pun menyambut ajakanku itu seraya mengatakan: “Aku merasa puas dengan agama Islam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku wasiatkan pula kepadanya agar mengajak kaumnya untuk masuk Islam setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya hidayah. Dia menjanjikan hal itu, lalu ia pun keluar dari tubuh si wanita. Ucapan terakhir yang dia katakan ketika itu: “Assalamu’alaikum”. Setelah itu, barulah si wanita mulai berbicara dengan suara aslinya dan benar-benar merasakan kesembuhan serta kebugaran pada tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang sebulan atau lebih, si wanita ini datang kembali kepadaku bersama dua saudara laki-laki, paman, dan saudarinya. Dia mengabarkan bahwa keadaannya sehat wal afiat dan syukur alhamdulillah jin itu tidak mendatanginya lagi. Aku bertanya kepada wanita tersebut tentang kondisinya saat kemasukan jin. Dia menjawab bahwa saat itu merasa selalu dihantui oleh pikiran-pikiran kotor yang bertentangan dengan syariat. Pikirannya selalu condong kepada agama Budha serta antusias untuk mempelajari buku-buku agama tersebut. Kini, setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkannya dari gangguan jin tersebut, sirnalah berbagai pikiran yang menyimpang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian sampailah berita kepadaku bahwa Asy-Syaikh ‘Ali Ath-Thanthawi mengingkari peristiwa ini seraya menyatakan bahwa ini adalah penipuan dan kedustaan. Bisa jadi itu rekayasa rekaman yang dibawa oleh si wanita dan bukan dari ucapan jin sama sekali. (Seketika itu juga –pen.), kuminta kaset rekaman tentang dialogku dengan jin tersebut. Setelah kudengarkan secara seksama, aku pun yakin bahwa suara itu adalah suara jin. Sungguh aku sangat heran dengan pernyataan yang dilontarkan Asy-Syaikh ‘Ali Ath-Thanthawi, bahwa itu adalah rekayasa rekaman belaka. Karena aku berulang kali mengajukan pertanyaan kepada jin tersebut dan dia pun selalu menjawabnya. Bagaimana mungkin akal sehat bisa membenarkan adanya sebuah tape/alat rekam yang bisa ditanya dan bisa menjawab?! Sungguh ini merupakan kesalahan fatal dan statement yang sulit untuk diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh ‘Ali Ath-Thanthawi juga menyatakan bahwa masuk Islamnya seorang jin oleh seorang manusia bertentangan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang Nabi Sulaiman ‘alaihissalam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;وَهَبْ لِي مُلْكًا لاَ يَنْبَغِي لأَََحَدٍ مِنْ بَعْدِي&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki seorang pun sesudahku.” (Shad: 35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak diragukan lagi, pernyataan di atas merupakan kesalahan dan pemahaman yang keliru, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya hidayah.&lt;br /&gt;Masuk Islamnya seorang jin oleh manusia tidaklah menyelisihi doa Nabi Sulaiman (di atas). Karena sungguh telah banyak jin yang masuk Islam (dalam jumlah besar) melalui Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Al-Ahqaf dan Al-Jin. Demikian pula telah disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;إِنَّ الشَّيْطَانَ عَرَضَ لِي فَشَّدَ عَلَيَّ لِيَقْطَعَ الصَّلاَةَ عَلَيَّ فَأَمْكَنَنِيَ اللهُ مِنْهُ فَذَعَتُّهُ وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أُوْثِقَهُ إِلَى سَارِيَةٍ حَتَّى تُصْبِحُوا فَتَنْظُرُوا إِلَيْهِ فَذَكَرْتُ قَوْلَ سُلَيْمَانَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ {رَبِّ هَبْ لِيْ مُلْكًا لاَ يَنْبَغِي لأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي}، فَرَدَّهُ اللهُ خَاسِيًا. هَذَا لَفْظُ الْبُخَارِي&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya setan telah menampakkan diri di hadapanku untuk memutus shalatku. Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kekuatan kepadaku untuk menghadapinya (baca: mengalahkannya), sehingga aku dapat mendorongnya dengan kuat. Sungguh, sebenarnya aku ingin mengikatnya di sebuah tiang hingga kalian dapat menontonnya di pagi harinya. Tapi aku teringat akan ucapan saudaraku Nabi Sulaiman ‘alaihissalam: ‘Ya Rabbi, anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki seorang pun sesudahku’. Maka Allah mengusirnya dalam keadaan hina.” Demikianlah lafadz yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari. Adapun lafadz Al-Imam Muslim adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;إِنَّ عِفْرِيْتًا مِنَ الْجِنِّ جَعَلَ يَفْتِكُ عَلَيَّ الْبَارِحَةَ لِيَقْطَعَ عَلَيَّ الصَّلاَةَ وَإِنَّ اللهَ أَمْكَنَنِيْ مِنْهُ فَذَعَتُّهُ فَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَرْبِطَهُ إِلَى جَنْبِ سَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي الْمَسْجِدِ حَتَّى تُصْبِحُوا تَنْظُرُونَ إِلَيْهِ أَجْمَعُونَ أَوْ كُلُّكُمْ ثُمَّ ذَكَرْتُ قَوْلَ أَخِيْ سُلَيْمَانَ {رَبِّ هَبْ لِي مُلْكًا لاَ يَنْبَغِي لأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي} فَرَدَّهُ اللهُ خَاسِئًا.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya ‘Ifrit dari kalangan jin telah menampakkan diri di hadapanku tadi malam untuk memutus shalatku. Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kekuatan kepadaku untuk menghadapinya (baca: mengalahkannya), sehingga aku dapat mendorongnya dengan kuat. Sungguh, sebenarnya aku ingin mengikatnya di salah satu tiang masjid hingga kalian semua dapat menontonnya di pagi harinya. Tapi aku teringat akan ucapan saudaraku Nabi Sulaiman ‘alaihissalam: ‘Ya Rabbi, anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki seorang pun sesudahku’. Maka Allah mengusirnya dalam keadaan hina.”&lt;br /&gt;Para pembaca yang budiman, peristiwa masuknya jin ke dalam tubuh manusia hingga membuatnya kesurupan, telah ada keterangannya di dalam Kitabullah (Al-Qur`an), Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ijma’ (kesepakatan) umat ini. Maka tidak bisa dibenarkan bagi orang yang tergolong intelek (berpendidikan) untuk mengingkarinya tanpa berlandaskan ilmu dan petunjuk ilahi. Bahkan karena semata-mata taqlid kepada sebagian ahli bid’ah yang berseberangan dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Wallahul musta’an walaa haula walaa quwwata illa billah. Akan aku sajikan untuk anda –wahai pembaca– beberapa perkataan ahlul ilmi tentang masalah ini, insya Allah.&lt;br /&gt;Berikut ini pernyataan para mufassir (ahli tafsir) berkenaan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبَا لاَ يَقُوْمُوْنَ إِلاَّ كَمَا يَقُوْمُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang-orang yang makan riba itu tidaklah berdiri (bangkit dari kuburnya) melainkan seperti berdirinya orang yang kerasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (Al-Baqarah: 275)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt; Al-Imam Abu Ja’far Ibnu Jarir Ath-Thabari berkata: “Yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah orang yang kesurupan di dunia, yang mana setan merasukinya hingga menjadi gila (rusak akalnya).”&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Al-Imam Al-Baghawi berkata tentang makna al-massu: “Yaitu gila/hilang akal. Seseorang disebut مَمْسُوْسٌ (gila/hilang akal) jika dia menjadi gila atau rusak akalnya.”&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Al-Imam Ibnu Katsir berkata: “Orang-orang pemakan riba itu tidaklah dibangkitkan dari kubur mereka di hari kiamat melainkan seperti bangkitnya orang yang kesurupan saat setan merasukinya, yaitu berdiri dalam keadaan sempoyongan. Shahabat Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata: ‘Seorang pemakan riba akan dibangkitkan (dari kuburnya) di hari kiamat dalam keadaan gila (rusak akalnya).’ (Diriwayatkan oleh Al-Imam Ibnu Abi Hatim). Seperti itu pula yang diriwayatkannya dari Auf bin Malik, Sa’id bin Jubair, As-Suddi, Rabi’ bin Anas, Qatadah, dan Muqatil bin Hayyan (tentang ayat tersebut).”&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Al-Imam Al-Qurthubi berkata: “Di dalam ayat ini terdapat argumen tentang rusaknya pendapat orang yang mengingkari adanya kesurupan jin. Juga argumen tentang rusaknya anggapan bahwa itu hanyalah proses alamiah yang terjadi pada tubuh manusia, serta rusaknya anggapan bahwa setan tidak dapat merasuki tubuh manusia.”&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Perkataan para ahli tafsir yang semakna dengan ini cukup banyak. Barangsiapa yang mencari, insya Allah akan mendapatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu dalam kitabnya Idhah Ad-Dilalah Fi ‘Umumir Risalah Lits-tsaqalain yang terdapat dalam Majmu’ Fatawa (19/9-65), –setelah berbicara beberapa hal– berkata: “Oleh karena itu, sekelompok orang dari kalangan Mu’tazilah semacam Al-Jubba’i, Abu Bakr Ar-Razi, dan yang semisalnya, mengingkari peristiwa masuknya jin ke dalam tubuh orang yang kesurupan, namun tidak mengingkari adanya jin. Hal itu (menurut mereka) karena dalil dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang peristiwa masuknya jin ke dalam tubuh orang yang kesurupan tidak sejelas dalil yang menunjukkan tentang adanya jin, walaupun sesungguhnya (pendapat) mereka itu keliru. Karena itu, Al-Imam Abul Hasan Al-Asy’ari menyebutkan dalam Maqalat Ahlis Sunnah Wal Jama’ah bahwasanya mereka (yakni Ahlus Sunnah) menyatakan: “Sesungguhnya jin itu dapat masuk ke dalam tubuh orang yang kesurupan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبَا لاَ يَقُوْمُوْنَ إِلاَّ كَمَا يَقُوْمُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Orang-orang yang makan riba itu tidaklah berdiri (bangkit dari kuburnya) melainkan seperti berdirinya orang yang kerasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (Al-Baqarah: 275)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rahimahumallahu berkata: “Aku pernah berkata pada ayahku: ‘Sesungguhnya ada sekelompok orang yang mengatakan bahwa jin itu tidak dapat masuk ke dalam tubuh manusia.’ Maka ayahku berkata: ‘Wahai anakku, mereka itu berdusta. Bahkan jin dapat berbicara melalui mulut orang yang kesurupan.’ Permasalahan ini telah dijelaskan secara panjang lebar pada tempatnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu dalam Majmu’ Fatawa (24/276-277) juga mengatakan: “Keberadaan jin merupakan perkara yang benar menurut Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kesepakatan salaful ummah (para pendahulu umat ini) dan para ulamanya. Demikian pula masuknya jin ke dalam tubuh manusia, juga merupakan perkara yang benar sesuai dengan kesepakatan para imam Ahlus Sunnah wal Jamaah.&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبَا لاَ يَقُوْمُوْنَ إِلاَّ كَمَا يَقُوْمُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Orang-orang yang makan riba itu tidaklah dapat berdiri (bangkit dari kuburnya) melainkan seperti berdirinya orang yang kerasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (Al-Baqarah: 275)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kitab Ash-Shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya setan itu dapat berjalan pada tubuh anak cucu Adam melalui aliran darah.” (HR. Al-Bukhari, Kitab Al-Ahkam no. 7171 dan Muslim, Kitab As-Salam no. 2175)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rahimahumallahu berkata: “Aku pernah berkata pada ayahku: ‘Sesungguhnya ada sekelompok orang yang mengatakan bahwa jin itu tidak dapat masuk ke dalam tubuh manusia.’ Maka ayahku berkata: ‘Wahai anakku, mereka itu berdusta. Bahkan jin dapat berbicara melalui mulut orang yang kesurupan.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang Al-Imam Ahmad katakan ini adalah perkara yang masyhur. Sangat mungkin seseorang yang mengalami kesurupan berbicara dengan sesuatu yang tidak dipahaminya. Ketika tubuhnya dipukul dengan keras pun ia tidak merasakannya. Padahal bila pukulan itu ditimpakan kepada unta jantan, niscaya akan kesakitan. Sebagaimana ia tidak menyadari pula apa yang diucapkannya. Seorang yang kesurupan, terkadang dapat menarik tubuh orang lain yang sehat. Dia juga dapat menarik alas duduk yang didudukinya, serta dapat memindahkan berbagai macam benda dari satu tempat ke tempat yang lain, dan sebagainya. Siapa saja yang menyaksikannya, niscaya meyakini bahwa yang berbicara melalui mulut orang yang kesurupan itu dan yang menggerakkan benda-benda tadi bukanlah diri orang yang kesurupan tersebut. Tidak ada para imam yang mengingkari masuknya jin ke dalam tubuh orang yang kesurupan. Barangsiapa mengklaim bahwa syariat ini telah mendustakan peristiwa tersebut berarti dia telah berdusta atas nama syariat. Dan sesungguhnya tidak ada dalil-dalil syar’i yang menafikannya.”-sekian nukilan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Zadul Ma’ad Fi Hadyi Khairil ‘Ibad (4/66-69) berkata: “Kesurupan ada dua macam:&lt;br /&gt;1. Kesurupan yang disebabkan oleh gangguan roh jahat yang ada di muka bumi ini.&lt;br /&gt;2. Kesurupan yang disebabkan oleh gangguan fisik yang amat buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis kedua inilah yang dibahas oleh para dokter, berikut faktor penyebab dan cara pengobatannya.&lt;br /&gt;Adapun kesurupan yang disebabkan oleh gangguan roh jahat (di antaranya jin/setan, -pen), para pemuka dan ahli kedokteran juga mengakui eksistensinya. Menurut mereka, pengobatannya harus dengan roh-roh yang mulia lagi baik agar dapat melawan roh-roh yang jahat lagi jelek itu. Sehingga dapat mengatasi pengaruh-pengaruh buruknya, bahkan dapat membatalkan tindak kejahatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan semacam ini telah dinyatakan oleh Buqrath (Hipocrates) dalam beberapa bukunya, berikut beberapa jenis pengobatan untuk kesurupan. Buqrath mengatakan: ‘Pengobatan ini hanya berfungsi untuk kesurupan yang disebabkan oleh gangguan fisik dan masuknya zat-zat tertentu ke dalam tubuh. Sedangkan kesurupan yang disebabkan oleh gangguan roh-roh jahat (termasuk jin/setan), maka pengobatan di atas tidaklah bermanfaat.’&lt;br /&gt;Adapun sebagian dokter yang bodoh dan rendah –terlebih yang mengagungkan paham zandaqah (zindiq/kafir, tidak percaya pada Allah Subhanahu wa Ta’ala)– mengingkari kesurupan. Mereka juga tidak mengakui adanya efek buruk roh-roh tersebut terhadap tubuh orang yang kesurupan. Mereka sesungguhnya telah dikuasai oleh kebodohan. Sebab menurut ilmu kedokteran sendiri, jenis kesurupan semacam ini benar-benar ada dan tidak ada alasan untuk mengingkarinya. Terlebih bila keberadaannya dapat dibuktikan pula oleh panca indra dan realita.&lt;br /&gt;Berkenaan dengan klaim para dokter tersebut bahwa kesurupan itu diakibatkan oleh gangguan fisik, memang bisa dibenarkan. Namun hal ini berlaku pada sebagian jenis kesurupan saja dan tidak secara keseluruhan.” –Hingga perkataan beliau–: “Kemudian datanglah para dokter dari kalangan zanadiqah yang tidak mengakui adanya kesurupan kecuali yang diakibatkan oleh gangguan fisik saja. Orang yang berakal dan mengetahui (hal ihwal) roh berikut gangguannya, akan tertawa melihat kebodohan dan lemahnya akal mereka (para dokter) itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengobati kesurupan jenis ini, perlu memperhatikan dua hal:&lt;br /&gt;1. Berkaitan dengan diri orang yang kesurupan itu sendiri.&lt;br /&gt;2. Berkaitan dengan orang yang mengobatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun yang berkaitan dengan diri orang yang kesurupan itu sendiri, maka dengan kekuatan jiwanya dan kemantapannya dalam menghadap Pencipta roh-roh tersebut (yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala) serta kesungguhannya dalam meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang berpadu antara hati dan lisannya. Karena kondisinya ibarat pertempuran, yang mana seseorang tidak akan mampu menundukkan musuhnya dengan senjata yang dimilikinya kecuali bila terpenuhi dua hal: senjatanya benar-benar tajam, dan ayunan tangannya benar-benar kuat. Di saat kurang salah satunya, maka senjata itu pun kurang berfungsi. Lalu bagaimana jika tidak didapati kedua hal tersebut?! Di mana hatinya kosong dari tauhid, tawakkal, takwa, dan kemantapan dalam menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tentu lebih dari itu, yakni dia tidak memiliki senjata.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan yang berkaitan dengan orang yang mengobati, dia pun harus memiliki dua hal yang telah disebutkan di atas. Sampai-sampai (ketika kedua hal tersebut telah terpenuhi, -pent.) di antara orang yang mengobati itu ada yang cukup mengatakan (kepada jin/setan tersebut): ‘Keluarlah darinya!’ atau ‘Bismillah’ atau ‘Laa haula wala quwwata illa billah.’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah mengatakan: ‘Keluarlah wahai musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala! Aku adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku (Ibnul Qayyim, -pent.) pernah menyaksikan Syaikh kami (yakni Ibnu Taimiyyah, -pent.) mengutus seseorang kepada orang yang sedang kesurupan, untuk menyampaikan kepada roh (jin) yang ada pada diri orang yang kesurupan itu: “Syaikh menyuruhmu untuk keluar (dari tubuh orang ini), karena perbuatan itu tidak halal bagimu!” Seketika itu sadarlah orang yang kesurupan tersebut. Dan terkadang beliau menanganinya sendiri. Ada kalanya roh itu jahat, sehingga untuk mengusirnya pun harus dengan pukulan. Ketika orang yang kesurupan itu tersadar, dia tidak merasakan rasa sakit akibat pukulan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh kami dan yang lainnya sering kali menyaksikan beliau rahimahullahu melakukan pengobatan semacam itu.” –Hingga perkataan beliau–: “Secara garis besar, kesurupan jenis ini berikut pengobatannya tidaklah diingkari kecuali oleh orang yang minim ilmu, akal, dan pengetahuannya.&lt;br /&gt;Kebanyakan masuknya roh-roh jahat ini ke dalam tubuh seseorang disebabkan minimnya agama dan kosongnya hati serta lisan dari hakekat dzikir, permintaan perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta pembentengan keimanan yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga ketika ia tidak lagi memiliki senjata dan kosong sama sekali dari pembentengan diri, masuklah roh-roh jahat itu kepadanya.” -sekian nukilan dari Ibnul Qayyim-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa dalil syar’i yang telah kami sebutkan dan juga ijma’ ahlul ilmi dari kalangan Ahlus Sunnah Wal Jamaah tentang kemungkinan masuknya jin ke dalam tubuh manusia (kesurupan), maka menjadi jelaslah bagi para pembaca akan batilnya pernyataan orang-orang yang mengingkari permasalahan ini. Menjadi jelas pula kekeliruan Asy-Syaikh ‘Ali Ath-Thanthawi dalam pengingkarannya tersebut. Dia berjanji untuk rujuk kepada kebenaran kapan pun tampak baginya. Maka dari itu, hendaknya dia kembali kepada kebenaran setelah membaca keterangan kami. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaruniakan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua.” (Dikutip dan diterjemahkan dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah fil Masa`il Al-‘Ashriyyah min Fatawa ‘Ulama Al-Balad Al-Haram, hal. 1586-1595)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penjelasan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu ditanya: “Adakah dalil yang menunjukkan bahwa jin dapat masuk ke dalam tubuh manusia?”&lt;br /&gt;Beliau menjawab: “Ya. Ada dalil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah yang menunjukkan bahwa jin dapat masuk ke dalam tubuh manusia.&lt;br /&gt;Dari Al-Qur`anul Karim, adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبَا لاَ يَقُوْمُوْنَ إِلاَّ كَمَا يَقُوْمُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Orang-orang yang makan riba itu tidaklah dapat berdiri (bangkit dari kuburnya) melainkan seperti berdirinya orang yang kerasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (Al-Baqarah: 275)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Orang-orang pemakan riba itu tidaklah dibangkitkan dari kubur mereka di hari kiamat melainkan seperti bangkitnya orang yang kesurupan saat setan merasukinya.”&lt;br /&gt;Sedangkan dalil dari As-Sunnah adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya setan itu dapat berjalan pada tubuh anak cucu Adam melalui aliran darah.” (HR. Al-Bukhari, Kitab Al-Ahkam no.7171 dan Muslim, Kitab As-Salam no. 2175)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullahu dalam Maqalat Ahlis Sunnah Wal Jama’ah berkata: “Bahwasanya mereka –yakni Ahlus Sunnah– menyatakan: ‘Sesungguhnya jin dapat masuk ke dalam tubuh orang yang kesurupan’.” Beliau berdalil dengan ayat (275 dari surat Al-Baqarah) di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Al-Imam Ahmad rahimahumallahu berkata: “Aku pernah berkata pada ayahku: ‘Sesungguhnya ada sekelompok orang yang mengatakan bahwa jin itu tidak dapat masuk ke dalam tubuh manusia.’ Maka ayahku berkata: ‘Wahai anakku, mereka itu berdusta. Bahkan jin dapat berbicara melalui mulut orang yang kesurupan.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan Al-Imam Ahmad dan Al-Baihaqi: “Bahwasanya seorang bocah gila didatangkan di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata (kepada jin yang merasukinya, -pent) :Keluarlah wahai musuh Allah! Aku adalah Rasulullah.’ Maka sembuhlah bocah tersebut.” (Al-Musnad, no. 17098, 1713)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini engkau dapat mengetahui bahwa permasalahan masuknya jin ke dalam tubuh manusia ada dalilnya dari Al-Qur`anul Karim dan juga dua dalil dari As-Sunnah.&lt;br /&gt;Inilah sesungguhnya pendapat Ahlus Sunnah Wal Jamaah dan para imam dari kalangan as-salafush shalih. Realita pun membuktikannya. Walaupun demikian kami tidak mengingkari adanya penyebab lain bagi penyakit gila seperti lemahnya syaraf atau rusaknya jaringan otak, dll.” (Dikutip dan diterjemahkan dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah fil Masa`il Al-‘Ashriyyah Min Fatawa ‘Ulama Al-Balad Al-Haram, hal. 1563-1564)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang budiman, demikianlah sajian ilmu dari dua ulama besar Ahlus Sunnah Wal Jamaah jaman ini seputar permasalahan kesurupan atau kerasukan jin (baca: setan), yang berpijak di atas dalil dari Al-Qur`an, As-Sunnah, dan ijma’ para ulama terpercaya umat Islam. Adapun kesimpulannya, sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Keberadaan jin merupakan perkara yang benar menurut Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kesepakatan salaful ummah dan para ulamanya.&lt;br /&gt;2. Masuknya jin ke dalam tubuh manusia (kesurupan/ kerasukan setan), benar pula adanya menurut Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kesepakatan salaful ummah dan para ulamanya serta realita pun membuktikannya.&lt;br /&gt;3. Para pemuka dan ahli kedokteran pun mengakui adanya peristiwa kesurupan jin, sebagaimana keterangan Al-Imam Ibnul Qayyim di atas. Sehingga, barangsiapa mengklaim bahwasanya syariat ini telah mendustakan adanya kesurupan jin berarti dia telah berdusta atas nama syariat itu sendiri.&lt;br /&gt;4. Masuk Islamnya jin melalui seorang manusia, diperbolehkan dalam syariat Islam. Hal ini sama sekali tidak bertentangan dengan doa Nabi Sulaiman ‘alaihissalam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;وَهَبْ لِي مُلْكًا لاَ يَنْبَغِي لأَََحَدٍ مِنْ بَعْدِي&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki seorang pun sesudahku.”&lt;br /&gt;Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://www.majalahsyariah.com/print.php?id_online=357&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-3919863772572231556?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/3919863772572231556/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/kesurupan-dalam-timbangan-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/3919863772572231556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/3919863772572231556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/kesurupan-dalam-timbangan-islam.html' title='Kesurupan dalam Timbangan Islam'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-3941691677727300988</id><published>2010-11-11T04:25:00.000-08:00</published><updated>2010-11-21T05:59:41.166-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ruqyah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa Ulama'/><title type='text'>Klinik Ruqyah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/04/ruqyah.gif"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 204px;" src="http://suaraquran.com/wp-content/uploads/2010/04/ruqyah.gif" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="print-sub"&gt;Oleh: Asy-Syaikh Muhammad Bin Abdillah Al-Imam -Hafizhahullah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Soal 1:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Telah dibuka klinik-klinik ruqyah di berbagai tempat, banyak di antara orang-orang yang terjun di dalamnya, tujuan mereka hanyalah untuk mengumpulkan harta. Demikian pula telah terjadi di tempat-tempat ini penyelisihan terhadap syari’at, seperti: Orang yang meruqyah memasukkan perempuan yang akan di ruqyah ke dalam ruangan khusus untuk ruqyah sementara mahram dari perempuan tersebut tinggal di luar, mengurut leher wanita, menyentuh kepala dan sebagian dari tubuh mereka. Demikian pula terjadi pada sebagian dari orang-orang yang meruqyah, mereka menjual obat-obatan yang sebenarnya tidak dibutuhkan oleh pasien, tujuannya hanya sekedar untuk mengumpulkan harta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Soal 2:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah dibuka klinik-klinik ruqyah di berbagai tempat, banyak di antara orang-orang yang terjun di dalamnya, tujuan mereka hanyalah untuk mengumpulkan harta. Demikian pula telah terjadi di tempat-tempat ini penyelisihan terhadap syari’at, seperti: Orang yang meruqyah memasukkan perempuan yang akan di ruqyah ke dalam ruangan khusus untuk ruqyah sementara mahram dari perempuan tersebut tinggal di luar, mengurut leher wanita, menyentuh kepala dan sebagian dari tubuh mereka. Demikian pula terjadi pada sebagian dari orang-orang yang meruqyah, mereka menjual obat-obatan yang sebenarnya tidak dibutuhkan oleh pasien, tujuannya hanya sekedar untuk mengumpulkan harta.&lt;br /&gt;Kami mengharapkan dari syaikh kami -hafizhohullah- untuk menjawab soal ini dengan jawaban yang sempurna dan mencukupi, karena masalah ini termasuk perkara yang sudah tersebar luas. Dan kami juga mengharapkan tuntunan dan nasehat kepada mereka (para peruqyah), semoga Allah memberikan balasan pahala kepada anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawab:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, washshalatu wassalamu ala Rasulillah, wa ala alihi washahbihi. Amma ba’du:&lt;br /&gt;Hendaknya diketahui bahwa meruqyah orang-orang yang terkena gangguan jin atau sihir, jika dia mengharapkan (dengan amalannya) hanya wajah Allah, serta yang meruqyah adalah orang yang memiliki ilmu dan pengetahuan tentang amalan ini, maka ini termasuk dari amalan sholih yang terbesar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- berkata, ketika beliau berbicara seputar meruqyah orang yang terkena gangguan jin, "Ini termasuk amalan yang paling afdhol, dia adalah amalan para Nabi dan orang-orang yang sholih. Karena para Nabi dan orang-orang yang sholih masih senantiasa mencegah setan-setan dari (mengganggu) anak Adam, dengan cara yang Allah dan Rasul-Nya idzinkan. Sebagaimana yang dilakukan oleh Al-Masih (Isa -’alaihis salam-) dan sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi kita, Muhammad -Shallallahu ‘alaihi wasallam-." (Majmu’ Al-Fatawa: 19/56-57)&lt;br /&gt;Bagaimana mungkin amalan ini bukan merupakan amalan sholih, padahal orang yang meruqyah ini telah menjadi sebab dibebaskannya kaum muslimin dari terkuasai oleh setan jin dan manusia, dia menjadi sebab terjaganya agama orang yang terkena gangguan setan karena orang yang sakit itu tidak butuh untuk bergantung kepada praktek-praktek sihir, perdukunan, dan para pendusta lainnya. Karenanya, amalan ini sangat dibutuhkan oleh kaum muslimin. Kebutuhan mereka kepada ruqyah lebih besar daripada kebutuhan mereka kepada dokter, karena penyakit yang ditimbulkan oleh gangguan jin dan sihir bisa berpengaruh pada hati, akal, dan badan.&lt;br /&gt;Adapun orang-orang yang meruqyah orang yang terkena gangguan jin dan mereka memungut upah darinya, maka banyak dalil yang datang mencela mereka. Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam- bersabda, "Bacalah Al-Qur`an dan jangan kalian makan dengan (hasil)nya."&lt;br /&gt;Dan juga beliau -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, "Bacalah Al-Qur`an dan memintalah kalian kepada Allah dengannya, karena akan datang kelak sebuah kaum yang membaca Al-Qur`an lalu mereka meminta (harta) manusia dengan Al-Qur`an." (HR. Ahmad dari Imran bin Al-Hushain)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, manusia dalam memungut upah dari ruqyah syar’iyah ada dua jenis:&lt;br /&gt;Pertama: Dia menjadikan upah tersebut sebagai satu-satunya sumber rizkinya. Dia hanya mengkhususkan pekerjaannya untuk meruqyah dengan tujuan mendapat harta, maka orang seperti ini makan dengan (baca: dari hasil) agamanya. Sebagian ulama salaf ditanya tentang an-nadzl, maka beliau menjawab, "Dia adalah orang yang makan dari hasil agamanya". Maka mengkhususkan pekerjaan dengan meruqyah untuk mengumpulkan harta, ini tidaklah dibolehkan. Dan harta yang dihasilkan dari pekerjaan semacam inilah yang disinyalir dalam hadits-hadits yang telah berlalu. Allah Maha Mengatahui bahwa kami membenci jenis (pertama) ini, karena dalam amalan mereka tersebut terdapat kehinaan.&lt;br /&gt;Jenis lainnya: Ada orang yang mengambil upah, akan tetapi dia tidak menjadikannya satu-satunya jalan untuk mencari rizki. Ini letak perselisihan di kalangan para ulama, dan yang paling utama adalah tidak mengambil upah tapi hanya mengharapkan pahala di sisi Allah -Ta’ala-. Jika dia mengambil upah, tanpa ada niat untuk mengumpul-ngumpul harta maka ini adalah perkara yang dibolehkan. Sebagian orang yang meruqyah, ada yang sibuk dengan pekerjaan ruqyahnya guna mengumpulkan harta dengan metode lain, yaitu dengan menjual obat-obatan, ramuan-ramuan, madu, habbatus sauda (jintan hitam), dan minyak zaitun. Maka hendaknya diketahui oleh seluruhnya bahwa kebanyakan orang-orang yang terkena sihir dan gangguan jin, tidaklah membutuhkan sesuatu apa pun dari yang seperti itu. Akan tetapi orang semacam ini terlalu memudahkan masalah ini, sehingga terkadang dia memberikan (baca: menjual) minuman dan minyak ini kepada setiap orang yang datang kepadanya untuk diruqyah. Yang lebih mengherankan lagi, sebagian di antara mereka ada yang meruqyah air lalu menjual air itu. Maka bukan hal yang mengherankan jika mereka bisa mengumpulkan harta yang banyak hingga bisa bersaing dengan para pengusaha, sehingga sangat tepatlah sabda Rasul -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, "Jika kamu sudah tidak punya malu, maka kerjakanlah apa yang kamu inginkan." Riwayat Al-Bukhari dari Abu Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu-.&lt;br /&gt;Maka yang kami nasehatkan kepada orang-orang yang terkena penyakit seperti ini (gangguan jin dan sihir) adalah agar mereka mengambil satu atau dua buah kaset serta kitab Hishnul Muslim. Dan barangsiapa yang terkena sihir melalui minuman maka dianjurkan agar meminum &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sanah&lt;/span&gt;, karena ini adalah pengobatan yang bermanfaat bagi laki-laki dan perempuan, kecuali bagi perempuan yang hamil.&lt;br /&gt;Maka hendaknya setiap orang waspada dari sikap bergampangan dalam adab-adab serta batasan-batasan syari’at yang berkenaan dengan meruqyah dengan Al-Qur`an kepada kaum wanita. Tidak boleh meruqyah wanita yang bukan mahram, tidak boleh meruqyah mereka dalam keadaan wajah atau kedua mata mereka terbuka, tidak boleh bagi orang yang meruqyah untuk berkhalwat (berduaan) dengan wanita yang dia ruqyah, dan tidak boleh bagi dia untuk larut dalam pekerjaan meruqyah dengan maksud untuk menikah dengan satu wanita atau lebih.&lt;br /&gt;Akhirnya, saya menasehatkan kepada orang yang meruqyah agar bersemangat dalam menegakkan amalan ini secara sempurna, agar dia menjadikan amalannya itu sebagai dakwah ke jalan Allah, dan agar dia bisa meninggikan jiwanya dari hal-hal yang menguasai dirinya (berupa mengharap dunia, penj.). Kemudian saya mengajak kepada kaum muslimin secara umum dan ahlus sunnah secara khusus, hendaknya mereka menasehati orang-orang yang terkena penyakit di atas (gangguan jin dan sihir) agar mereka mendatangi peruqyah yang telah dikenal dengan kebaikan dan kesholehan, orang yang istiqomah agamanya, dan jauh dari semua kesalahan yang telah dipaparkan. Juga hendaknya mereka menasehati saudara-saudara mereka yang meruqyah agar mereka mau meninggalkan kesalahan-kesalahan mereka. Sebaliknya kepada para peruqyah, hendaknya mereka mau menerima nasehat dari saudara-saudara mereka, karena mukmin yang satu merupakan cermin bagi muslim lainnya. Hendaknya mereka waspada dari orang yang terus-menerus berada di atas penyelisihan-penyelisihan syari’at. Hanya kepada Allah saya meminta agar menjadikan kita sebagai pembuka kebaikan dan penutup (baca: pencegah) kejelekan, dan tidak ada serta upaya kami kecuali dengan pertolongan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Fatwa Asy-Syaikh Muhammad Bin Abdillah Al-Imam -Hafizhahullah- (Salah seorang ulama besar di negeri Yaman)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber: http://al-atsariyyah.com/?p=402#more-402&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-3941691677727300988?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/3941691677727300988/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/klinik-ruqyah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/3941691677727300988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/3941691677727300988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/klinik-ruqyah.html' title='Klinik Ruqyah'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-660389623367320375</id><published>2010-11-10T07:55:00.000-08:00</published><updated>2010-11-11T06:15:21.851-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download Kajian'/><title type='text'>[Download] Kajian Buku Mendulang Pahala di Bulan Dzulhijjah</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;img class="alignleft" title="makasar" src="http://an-nashihah.net/images/bedah-buku-almarkaz-m.jpg" alt="" width="150" height="194" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Alhamdulillah link download &lt;strong&gt;“&lt;a href="http://almakassari.com/dawah/dauroh-donasi-dll/kajian-buku-mendulang-pahala-di-bulan-dzulhijjah-fiqih-berqurban-sepuluh-hari-dzulhijjah-dan-hari-hari-tasyriq.html"&gt;Kajian Buku Mendulang Pahala di Bulan Dzulhijjah (Fiqih Berkurban, Idul Adha, dan Hari Tasyrik)&lt;/a&gt;” &lt;/strong&gt;yang  diadakan hari Jum’at, tanggal 25 Dzulqa’dah 1431 H / 05 Oktober 2010  saat ini sudah kami sediakan untuk didownload. Kajian ini diadakan di  Masjid Al-Markaz Al-Islamy Jend. M. Yusuf Makassar dengan moderator &lt;strong&gt;Prof. Ali Parman&lt;/strong&gt; dan pemateri &lt;strong&gt;Ustadz Dzulqarnain M. Sunusi&lt;/strong&gt;. Silahkan disebar tanpa tujuan komersil, semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Berikut Link Download nya:&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/makassar/an-nashihah/Bedah-Buku-Mendulang-Pahala-di-Bulan-Dzulhijjah/Muqaddimah%20Prof.%20Ali%20Parman%20%28Moderator%29.mp3"&gt;Muqodimah&lt;/a&gt; | 1 mb&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/makassar/an-nashihah/Bedah-Buku-Mendulang-Pahala-di-Bulan-Dzulhijjah/1.%20Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah%20-%20Ustadz%20Dzulqarnain.mp3"&gt;Mendulang Pahala Dibulan Dzulhijjah sesi 1&lt;/a&gt; | 11.3 mb&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/makassar/an-nashihah/Bedah-Buku-Mendulang-Pahala-di-Bulan-Dzulhijjah/2.%20Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah%20-%20Ustadz%20Dzulqarnain.mp3"&gt;Mendulang Pahala Dibulan Dzulhijjah sesi 2&lt;/a&gt; | 5.5 mb&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/makassar/an-nashihah/Bedah-Buku-Mendulang-Pahala-di-Bulan-Dzulhijjah/3.%20%28Tanya-Jawab%29%20Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah%20-%20Ustadz%20Dzulqarnain.mp3"&gt;Mendulang Pahala Dibulan Dzulhijjah Tanya Jawab&lt;/a&gt; | 2.4 mb&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sumber: &lt;a href="http://an-nashihah.com/?p=123"&gt;an-nashihah&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;                                                                                           &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-660389623367320375?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/660389623367320375/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/download-kajian-buku-mendulang-pahala.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/660389623367320375'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/660389623367320375'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/download-kajian-buku-mendulang-pahala.html' title='[Download] Kajian Buku Mendulang Pahala di Bulan Dzulhijjah'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-8149756738881225116</id><published>2010-11-10T07:01:00.000-08:00</published><updated>2010-11-21T06:10:19.209-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Majalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Koran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fotografi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gambar Makhluk Bernyawa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa Ulama'/><title type='text'>Fatwa-Fatwa Ulama Sekitar Masalah Gambar Makhluk Hidup</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hukum Fotografi dan Menonton Televisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Syaikh Abdullah Bin Abdul Aziz Bin Baz ditanya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan hukum fotografi, apakah sama seperti kalau kita  menggambar dengan tangan? Bagaimana dengan foto Syaikh (Bin Baz, red)  yang ada di majalah, apakah ini menunjukkan bolehnya gambar walaupun itu  di luar sepengetahuan syaikh tersebut? kalau foto tidak boleh,  bagaimana hukumnya membeli koran dan majalah yang penuh dengan foto,  walaupun yang kita cari adalah berita-berita penting bukan fotonya?  Apakah boleh boleh meletakkan koran dan majalah tersebut di mushalla  ataukah kita harus merusaknya setelah membaca? Lantas bagaimana pula  hukumnya menonton televisi ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawab :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Fotografi termasuk pembuatan gambar yang diharamkan dan hukumnya sama  seperti menggambar dengan tangan. Yang berbeda adalah cara pembuatannya.  Demikian juga alat ini tidaklah menunjukkan perbedaan dalam hukumnya.  Tidak ada bedanya orang itu harus bersusah payah dahulu untuk membuat  gambar atau tidak. Sedangkan mengenai gambar saya (Syaikh bin Baz  rahimahullah) yang dimuat di majalah, itu adalah di luar sepengetahuan  saya. Dan ini tidaklah menunjukkan bahwa saya mengizinkannya, saya pun  tidak meridhoinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang majalah dan surat kabar yang memuat berita penting dan masalah  keilmuan yang bermanfaat sendang di dalamnya ada gambar-gambar bernyawa,  maka boleh membelinya dan mengambil manfaat darinya berupa ilmu, dan  berita, sedangkan gambar-gambar itu hanya mengikuti saja. Hukum majalah  dan koran itu mengikuti asal tujuannya, yaitu tanpa gambar-gambar itu.  Tentu saja boleh meletakkannya di mushalla dengan menutupi gambarnya  atau menghapus kepalanya (kebanyakan orang menganggap cukup dgn  menghapus matanya, red).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai televisi, tidak boleh ditaruh di mushalla dan tidak boleh  menonton acara-acara yang mempertontonkan acara-acara yang  mempertontonkan perempuan telanjang atau perbuatan-perbuatan lain yang  tidak senonoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Soal :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bolehkah menyimpan gambar-gambar ukuran kecil (pasfoto) atau yang lebih  besar untuk disimpan di album foto saja tanpa maksud menggantungkannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawab :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tidak boleh menyimpan gambar kecuali untuk suatu kepentingan - misalnya  pasport, mata uang, atau lain-lainnya yang bersifat dharurat - karena  adanya sabda Nabi shallalahu alaihi wasallam agar jangan meninggalkan  satu gambar pun melainkan (kamu) hapuskan dia (HR Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Soal :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya hadits tentang laknat bagi tukang gambar, apakah laknat  itu mengenai juga yang digambar dan apakah ada dalil khusus tentang hal  ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Jawab :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dalil-dalilnya yang telah disebutkan, maka laknat dan  ancaman neraka bagi tukang gambar itu juga mengenai orang yang  menyediakan dirinya untuk digambar (minta digambar). Perhatikan lagi  firman Allah Ta'ala dalam surah An-Nisaa :140 dan firamna Allah tentang  kaum Tsamud (Asy-Syams 11-15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdul Wahid bin Zaid berkata : "Aku berkata kepada Al Hasan (Al-Bashri) :  "Hai Abu Sa'id, beritahukanlah kepadaku tentang orang yang tidak  menyaksikan (peristiwa) fitnahnya Ibnu Muhlab, hanya saja hatinya  meridhainya?' Katanya : "Hai anak saudaraku, berapa tangan yang  menyembelih unta betina itu? Saya katakan:'tentunya satu tangan.' Lantas  Al-Hasan berkata :'Bukankah Allah telah membinasakan kaum itu semua  karena mereka ridha dan cenderung untuk (berbuat) demikian?" (Ahmad  dalam Az-Zuhud hal 289)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua ayat di atas sudah cukup menjadi dalil bahwa menganjurkan  kemaksiatan sama hukuman dan ancamannya dengan yang melaksanakannya.  Akan tetapi, ini tidak termasuk menggambar sesuatu yang darurat seperto  KTP, paspor, mata uang dan sebagainya. Dan kita berharap hal ini tidak  menjadi penghalang masuknya malaikat karena dharurat bagi kita untuk  menyimpan dan membawanya. Wallahu a’lam&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;(Dinukil dari Majalah Salafy, Edisi V/Dzulhijjah/1416/1996 Judul asli  Fatwa Ulama tentang Hukum Gambar, oleh Syaikh Abdullah Bin Abdul Aziz  bin Baz, mufti Saudi Arabia. Diterjemahkan oleh Ustadz Idral Harits. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Hukum menjual koran dan majalah yang di dalamnya ada gambar-gambar telanjang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Soal:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apakah boleh toko buku menjual koran dan majalah yang di dalamnya ada  gambar-gambar telanjang (terbuka) dan berita-berita bohong serta  puji-pujian kepada orang-orang fasik dan munafik ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bolehkah menjual kitab-kitab yang berisi keyakinan (aqidah),  pemikiran-pemikiran dan hukum-hukum (fiqh) yang menyelisihi Salafus  Shalih yang bertujuan mengalahkan kitab-kitab Salafiyah ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawab:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Majalah-majalah yang didalamnya ada gambar-gambar terbuka dan telanjang  (porno) , janganlah bimbang untuk tidak menjualnya. Karena menjualnya  adalah haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kitab-kitab hukum yang lain, bagi orang yang tunduk pada  batas-batas syar'i, supaya mengenal yang terkandung dalam buku tersebut,  baik berupa  pendapat (ide) maupun hukum-hukum, maka pada saat itu,  hukumnya boleh atau tidak, berkaitan dengan isi yang dominan dalam buku tersebut. Jika yang  dominan itu adalah kebenaran maka boleh menjualnya. Jika tidak, maka  tidak boleh mengatakan secara mutlak (tanpa batasan-batasan syar'i)  tentang boleh menjualnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang tidak akan mendapatkan kitab yang lepas dari kesalahan selain  Kitabullah. Jadi apabila dikatakan tidak boleh menjual kitab yang  didalamnya ada kesalahan, maka ketika itu tidak boleh menjualnya (kitab  apapun). Jadi dalam memperhatikan masalah tersebut, harus dilihat dari  isi yang dominan dalam buku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, [Al-Ashalah 10/15 Syawal 1414H,  hal.38, Edisi Indonesia '25 Fatwa Fadhilatus Syaikh Muhammad Nashiruddin  Al-Albani', Optima Semarang, 1995)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Wanita melihat majalah yang ada gambarnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Soal:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Ifta ditanya : Apa hukum wanita-wanita yang  melihat majalah di dalamnya ada gambar-gambar dan makalah-makalah yang  haram secara syar'i ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawab:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Diharamkan bagi setiap mukallaf, baik lelaki maupun perempuan untuk  membaca buku-buku bid'ah yang sesat, majalah yang menyebarkan khurafat  dan menyebarkan cerita-cerita bohong serta mengajak kepada penyelewengan  dari akhlak yang baik, kecuali apabila tujuan membacanya untuk membalas  tulisan yang menyesatkan yang ada di dalamnya, mengingatkan penerbitnya  dan mengingatkan manusia dari bahayanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;(Dari Lajnah Da'imah Lil Ifta, Saudi Arabia, Majalatul Buhuts Al-Islmaiyah, 19/138)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Hukum menerbitkan majalah yang di dalamnya ada gambar wanita yang membuka wajah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Soal:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Apa hukum menerbitkan majalah yang  menampakkan gambar perempuan dalam keadaan terbuka wajahnya dengan cara  yang merangsang (vulgar / seronok), dan hanya mementingkan berita  tentang bintang film. Apa hukumnya bekerja di majalah ini atau membantu  memasarkannya dan hukum membelinya.?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tidak boleh menerbitkan majalah yang menampakkan gambar-gambar perempuan  yang mengundang pada perbuatan zina, kekejian, homoseks, minum-minuman  keras dan sebagainya, yang mengajak kepada kebatilan dan membantu  penerbitannya.&lt;br /&gt;Tidak boleh pula bekerja pada majalah semacam ini, tidak boleh menulis  makalah atau memasarkannya, karena perbuatan itu termasuk tolong  menolong dalam dosa dan pelanggaran serta menyebabkan kerusakan di muka  bumi, serta upaya merusak masyarakat dan menyebarkan kehinaan. Allah  Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman (yang artinya) : “ Dan  tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan  jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan  bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaNya"  [Al-Maidah : 2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : “  Barangsiapa mengajak kepada petunjuk, maka baginya pahal seperti pahala  yang mengikutinya tanpa sama sekali mengurangi pahala orang yang  mengerjakannya dan barangsiapa mengajak kepada kesesatan maka baginya  dosa  seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sama sekali dosa  yang mengerjakannya" [ Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahih-nya].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam (yang artinya) : “ Ada dua  golongan dari Ahli Neraka, belum pernah saya lihat sebelumnya ; para  lelaki di tanganya ada cambuk seperti ekor sapi dipakai untuk memukul  manusia dan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, sesat dan  menyesatkan, kepalanya seperti punuk unta yang bergoyang-goyang.  Mereka  tidak masuk Surga juga tidak mencium bau Surga. (Padahal) Sesungguhnya  bau Surga bisa dicium dari jarak sekian dan sekian" [Hadits Riwayat  Muslim dalam&lt;br /&gt;Shahih-nya].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat-ayat Al-Qur'an yang semakna dengan hal ini sangat banyak. Kita  berdo'a kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar memberikan taufikNya  kepada kaum muslimin untuk mengerjakan sesuatu yang didalamnya ada  maslahat buat mereka dan keselamatan mereka serta memberi petunjuk  kepada orang-orang yang bekerja di media massa, untuk berbuat sesuatu  yang menyelamatkan masyarakat, serta semoga Allah melindungi mereka dari  kesesatan nafsu mereka dan dari tipuan setan. Sesungguhnya Dia Maha  Baik dan Maha Mulia.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;('Al-Fatawa al-Jami'ah Lil Mar'atil Muslimah, Fatawa Mar'ah, 2/95, edisi Indonesia Fatwa-fatwa Tentang Wanita)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: www.salafy.or.id&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-8149756738881225116?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/8149756738881225116/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/fatwa-fatwa-ulama-sekitar-masalah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/8149756738881225116'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/8149756738881225116'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/fatwa-fatwa-ulama-sekitar-masalah.html' title='Fatwa-Fatwa Ulama Sekitar Masalah Gambar Makhluk Hidup'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-2023236525907642439</id><published>2010-11-10T02:44:00.000-08:00</published><updated>2010-11-19T02:48:58.059-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lailatul Qodri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download Kajian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ramadhan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dauroh'/><title type='text'>Rekaman Bedah Buku “Keajaiban Lailatul Qadr”</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a rel="attachment wp-att-471" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=3204167414929986941"&gt;&lt;img class="alignleft size-full wp-image-471" title="lailatul-qadr-full" src="http://mediasalaf.com/wp-content/uploads/2010/08/lailatul-qadr-full.jpg" alt="" height="174" width="125" /&gt;&lt;/a&gt;Berikut ini adalah hasil rekaman Bedah Buku “&lt;strong&gt;Keajaiban Lailatul Qadr&lt;/strong&gt;” yang diadakan pada tanggal 19 Ramadhan 1431 H / 29 Agustus 2010 yang bertempat di &lt;strong&gt;Masjid Al-Markaz Al-Islamy Kab. Maros&lt;/strong&gt; yang disampaikan oleh &lt;strong&gt;Ustadz Dzulqarnain&lt;/strong&gt; selaku penulis buku. Silahkan didownload dan disebarkan, semoga bermanfaat.&lt;/div&gt;&lt;div style="width: 608px; text-align: justify;" class="roktabs-tab7"&gt;&lt;div class="wrapper"&gt; &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 153, 102);"&gt;Berikut Link Download nya:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Bedah Buku Keajaiban Lailatul Qadr |  13 mb  &lt;strong&gt;&lt;a class="ymp-btn-page-play ymp-media-cc067bc5a313750dc46d8617287cda82" href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/makassar/an-nashihah/Bedah-Buku-Keajaiban-Malam-Seribu-Bulan-Lailatul-Qadr/1.-Bedah-Buku-Keajaiban-Lailatul-Qadr---Ustadz-Dzulqarnain---www.an-nashihah.net.mp3"&gt;[Download]&lt;em class="ymp-skin"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tanya Jawab Bedah Buku Keajaiban Lailatul Qadr | 2.8 mb &lt;a class="ymp-btn-page-play ymp-media-36ad5e354877a6162e4060b697950749" href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/makassar/an-nashihah/Bedah-Buku-Keajaiban-Malam-Seribu-Bulan-Lailatul-Qadr/2.-_Tanya-Jawab_-Bedah-Buku-Keajaiban-Lailatul-Qadr---Ustadz-Dzulqarnain---www.an-nashihah.net.mp3"&gt;&lt;strong&gt;[Download]&lt;/strong&gt;&lt;em class="ymp-skin"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p&gt;Barokallahu Fiikum&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber: &lt;a href="http://an-nashihah.com/"&gt;www.an-nashihah.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                                                      &lt;/div&gt;            &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-2023236525907642439?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/2023236525907642439/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/rekaman-bedah-buku-keajaiban-lailatul.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/2023236525907642439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/2023236525907642439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/rekaman-bedah-buku-keajaiban-lailatul.html' title='Rekaman Bedah Buku “Keajaiban Lailatul Qadr”'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-1588290357816128179</id><published>2010-11-10T02:39:00.000-08:00</published><updated>2010-11-19T02:50:47.628-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download Kajian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Idul Adha'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dauroh'/><title type='text'>Rekaman Bedah Buku “Mendulang Pahala Di Bulan Dzulhijjah”, Jakarta</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a rel="attachment wp-att-649" href=""&gt;&lt;img class="alignleft size-full wp-image-649" title="bedah+buku" src="http://mediasalaf.com/wp-content/uploads/2010/10/bedah+buku.jpg" alt="" height="210" width="150" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Rekaman   Bedah Buku&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; “Mendulang Pahala Di Bulan Dzulhijjah”,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="width: 608px; font-weight: bold; text-align: justify;" class="roktabs-tab6"&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="wrapper"&gt;&lt;h3 style="visibility: visible; font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; bersama Al-Ustadz   Dzulqarnain hari sabtu, tgl 22 Dzulqaida 1431H / 30 Oktober 2010 di   Masjid Baiturrahman, Perumahan Billy Moon, Kalimalang, Jakarta Timur.&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Berikut Link Download nya:&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a class="ymp-btn-page-play ymp-media-e4ab81328593d573164b2951513776a4" href="http://statics.ilmoe.com/kajian/fiqh/Mendulang-Pahala-di-Bulan-Dzulhijjah/Pembahasan-Lengkap-Pelaksanaan-Ibadah-Qurban-Ustadz-Dzulqarnain.mp3"&gt;Sesi 1 Mendulang Pahala dibulan Dzulhijjah&lt;em class="ymp-skin"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt; | 10 mb&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a class="ymp-btn-page-play ymp-media-6bcd46665dbc4c02b610c19d750c4948" href="http://statics.ilmoe.com/kajian/fiqh/Mendulang-Pahala-di-Bulan-Dzulhijjah/Pembahasan-Lengkap-Pelaksanaan-Ibadah-Qurban-Ustadz-Dzulqarnain-Sesi-Dua.mp3"&gt;Sesi 2 Mendulang Pahala dibulan Dzulhijjah&lt;em class="ymp-skin"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt; | 13 mb&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Selamat Mendownload .Semoga Bermanfaat&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                                                      &lt;/div&gt;            &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-1588290357816128179?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/1588290357816128179/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/rekaman-bedah-buku-mendulang-pahala-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/1588290357816128179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/1588290357816128179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/rekaman-bedah-buku-mendulang-pahala-di.html' title='Rekaman Bedah Buku “Mendulang Pahala Di Bulan Dzulhijjah”, Jakarta'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-4122322665088132397</id><published>2010-11-10T02:34:00.000-08:00</published><updated>2010-11-19T02:49:58.612-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download Kajian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dauroh'/><title type='text'>Rekaman Dauroh Cileungsi; Napak Tilas Dakwak Syaikh Muqbil</title><content type='html'>&lt;div style="width: 608px;" class="roktabs-tab5"&gt;             &lt;div class="wrapper"&gt;                                                       &lt;p&gt;Berikut Link Download Dauroh di cileungsi Bogor&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dengan Tema:&lt;/span&gt; &lt;strong&gt;“Napak Tilas Dakwah Syaikh Muqbil”&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;a class="ymp-btn-page-play ymp-media-36c38c9be006baa0a889e2e00982280b" href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Daurah-Cileungsi-1-3-Oktober-2010/01-Mukaddimah-Ustadz-Fauzan.mp3"&gt;Ustadz Fauzan- Muqadimah&lt;em class="ymp-skin"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a class="ymp-btn-page-play ymp-media-603e492ab0d3e9c86404e29821d8d6e7" href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Daurah-Cileungsi-1-3-Oktober-2010/02-Ustadz-Fauzan-Sebab-Istiqomah.mp3"&gt;Ustadz Fauzan-Sebab-sebab Istiqomah&lt;em class="ymp-skin"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a class="ymp-btn-page-play ymp-media-8e23a1dda8199052d6a80989e5bedd0d" href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Daurah-Cileungsi-1-3-Oktober-2010/03-Ustadz-Abu-Ishaq.mp3"&gt;Ustadz Abu Ishaq&lt;em class="ymp-skin"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a class="ymp-btn-page-play ymp-media-5290e240b338020d55c48bb640270c9d" href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Daurah-Cileungsi-1-3-Oktober-2010/04-Ustadz-Abu-Ishaq-Shubuh.mp3"&gt;Ustadz Abu Ishaq Subuh&lt;em class="ymp-skin"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a class="ymp-btn-page-play ymp-media-4d3e8a8d8e7c1726e83b8a8156a214b4" href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Daurah-Cileungsi-1-3-Oktober-2010/05-Ustadz-Abu-Ishaq-Ba_%27da-Isya.mp3"&gt;Ustadz Abu Ishaq Ba’da Isyak&lt;em class="ymp-skin"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a class="ymp-btn-page-play ymp-media-41cea39c9790789647054867a0742d76" href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Daurah-Cileungsi-1-3-Oktober-2010/06-Ustadz-Syafruddin-Biografi-Syaikh_Muqbil.mp3"&gt;Ustadz Syafrudin-Biografi Syaikh Muqbil&lt;em class="ymp-skin"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a class="ymp-btn-page-play ymp-media-8cea2cd81d623704a7c007cab623c8c4" href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Daurah-Cileungsi-1-3-Oktober-2010/07-Ustadz-Syafruddin-Fiqh-Syaikh_Muqbil-01.mp3"&gt;Ustadz Syafrudin-Fiqh Syaikh Muqbil 01&lt;em class="ymp-skin"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a class="ymp-btn-page-play ymp-media-c541bce8b09a3778779320c12ae27a33" href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Daurah-Cileungsi-1-3-Oktober-2010/08-Ustadz-Syafruddin-Fiqh-Syaikh_Muqbil-02.mp3"&gt;Ustadz Syafrudin-Fiqh Syaikh Muqbil 02&lt;em class="ymp-skin"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a class="ymp-btn-page-play ymp-media-2bb33b01748ad82899eb9693c82d0172" href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Daurah-Cileungsi-1-3-Oktober-2010/09-Ustadz-Qomar-ZA.mp3"&gt;Ustadz Qomar 1&lt;em class="ymp-skin"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a class="ymp-btn-page-play ymp-media-2bd420bb11722d8361c8315cb89e1bc6" href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Daurah-Cileungsi-1-3-Oktober-2010/10-Ustadz_Qomar-Jam-9.mp3"&gt;Ustadz Qomar 2&lt;em class="ymp-skin"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a class="ymp-btn-page-play ymp-media-298e52e07b4e7786d3c41945b17076a7" href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Daurah-Cileungsi-1-3-Oktober-2010/11-Ustadz-Muhammad-16.00.mp3"&gt;Ustadz Muhammad&lt;em class="ymp-skin"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a class="ymp-btn-page-play ymp-media-14ade352894326746581c3368a62c0ee" href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Daurah-Cileungsi-1-3-Oktober-2010/12-Ustadz-Asykari-13.00.mp3"&gt;Ustadz Asykari 1&lt;em class="ymp-skin"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a class="ymp-btn-page-play ymp-media-080e3605952379a21851b7cd62dcdbd8" href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Daurah-Cileungsi-1-3-Oktober-2010/13-Ustadz-Asykari-Jam-9.mp3"&gt;Ustadz Asykari 2&lt;em class="ymp-skin"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a class="ymp-btn-page-play ymp-media-c26748e1b69d03267da772336916a39d" href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Daurah-Cileungsi-1-3-Oktober-2010/14-Ustadz-Asykari-Jam-13.00.mp3"&gt;Ustadz Asykari 3&lt;em class="ymp-skin"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a class="ymp-btn-page-play ymp-media-6c41d30190d1d6b4c24c78a008a481ec" href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Daurah-Cileungsi-1-3-Oktober-2010/15-Ustadz-Asykari-penutup.mp3"&gt;Ustadz Asykari-Penutup&lt;em class="ymp-skin"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a class="ymp-btn-page-play ymp-media-db3cb4a6840b3726ce017a1aa662e92e" href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/muslimuny/dauroh/Daurah-Cileungsi-1-3-Oktober-2010/Bonus-Khutbah-Jum_%27at-Ustadz-Syafruddin.mp3"&gt;Khutbah Jum’at&lt;em class="ymp-skin"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;Selamat Mendownload semoga bermanfaat&lt;/p&gt;                                                      &lt;/div&gt;            &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-4122322665088132397?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/4122322665088132397/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/rekaman-dauroh-cileungsi-napak-tilas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/4122322665088132397'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/4122322665088132397'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/rekaman-dauroh-cileungsi-napak-tilas.html' title='Rekaman Dauroh Cileungsi; Napak Tilas Dakwak Syaikh Muqbil'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-674761994539543580</id><published>2010-11-10T02:31:00.000-08:00</published><updated>2010-11-19T02:33:19.406-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download Kajian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Liberalisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dauroh'/><title type='text'>Rekaman Dauroh Bantul</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a rel="attachment wp-att-639" href="http://mediasalaf.com/download-kajian/rekaman-dauroh-bantul/attachment/dauroh-bantul2/"&gt;&lt;img class="size-full wp-image-639 alignleft" title="dauroh bantul2" src="http://mediasalaf.com/wp-content/uploads/2010/10/dauroh-bantul2.jpg" alt="" height="212" width="150" /&gt;&lt;/a&gt;Berikut adalah dauroh dengan : &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;- Tema : &lt;em&gt;“Peduli Umat dan Bangsa&lt;/em&gt;” dan “&lt;em&gt;Menangkal Bahaya Pemikiran Liberalisme yang Muncul Dalam Islam”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;- Pemateri : Al Ustadz Luqman Ba’abduh&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;- Waktu : Sabtu, 30 Oktober 2010 pukul 10.00 – 14.00 WIB&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;- Tempat : Masjid Agung Manunggal Bantul&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Beikut link untuk mendownload kajiannya :&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;· &lt;a class="ymp-btn-page-play ymp-media-2db37b9dcac372874e25d417c55db302" href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/atstsurayya/Menangkal-Pemikiran-Liberalisme/Peduli-Umat-dan-Bangsa---Ust-Luqman-Ba_%27abduh.mp3"&gt;Peduli Umat dan Bangsa&lt;em class="ymp-skin"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;|&lt;/strong&gt;8,33MB&lt;/li&gt;&lt;li&gt;· &lt;a class="ymp-btn-page-play ymp-media-de4ad649215d5b124a3c825d765755d4" href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/atstsurayya/Menangkal-Pemikiran-Liberalisme/Menangkal-Bahaya-Pemikiran-Liberalisme-Yang-Muncul-Dalam-Islam---Ust-Luqman-Ba_%27abduh.mp3"&gt;Menangkal Bahaya Pemikiran Liberalisme&lt;em class="ymp-skin"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/atstsurayya/Menangkal-Pemikiran-Liberalisme/Menangkal-Bahaya-Pemikiran-Liberalisme-Yang-Muncul-Dalam-Islam---Ust-Luqman-Ba_%27abduh.mp3"&gt; Yang Muncul Dalam Islam&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;|&lt;/strong&gt;13,5MB&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber: &lt;a href="http://atstsurayya.wordpress.com/2010/10/31/peduli-umat-dan-bangsa-menangkal-bahaya-pemikiran-liberalisme-yang-muncul-dalam-islam/"&gt;atstsurayya&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-674761994539543580?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/674761994539543580/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/rekaman-dauroh-bantul.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/674761994539543580'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/674761994539543580'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/rekaman-dauroh-bantul.html' title='Rekaman Dauroh Bantul'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-6605929145580098168</id><published>2010-11-10T02:26:00.000-08:00</published><updated>2010-11-19T02:30:23.990-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download Kajian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ramadhan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dauroh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='3 Landasan Utama'/><title type='text'>Rekaman Dauroh Ramadhan; 3 Landasan Utama</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a rel="attachment wp-att-458" href="http://mediasalaf.com/download-kajian/rekaman-dauroh-%e2%80%9cushuluts-tsalatsah%e2%80%9d/attachment/daurohramadhanui/"&gt;&lt;img class="alignleft size-full wp-image-458" title="DaurohRamadhanUI" src="http://mediasalaf.com/wp-content/uploads/2010/08/DaurohRamadhanUI.jpg" alt="" height="213" width="150" /&gt;&lt;/a&gt;Berikut Rekaman Dauroh Ramadhan dengan tema: “&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3 Landasan Utama (Ushuluts Tsalatsah)&lt;/span&gt;” dengan Pemateri : &lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Al Ustadz Ja’far Shalih&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Al ustadz Ali Basuki. Lc&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;yang bertempat: Masjid Arif Rahman Hakim Universitas Indonesia (UI), Salemba, Jakarta Pusat&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Waktu: Sabtu &amp;amp; Ahad, 19-20 Ramadhan 1431 H / 28-29 Agustus 2010&lt;br /&gt;Pukul 09:00 – 15:00 WIB&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Berikut Link Downloadnya:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Kitab-Ushuluts-Tsalatsah 1 | 23 mb &lt;strong&gt;&lt;a class="ymp-btn-page-play ymp-media-987c963573cd078834dab1543b863cd7" href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/problemamuslim/Audio/Kitab-Ushuluts-Tsalatsah/UstadzJafarSalih_UshulutsTsalatsah1.mp3"&gt;[Download]&lt;em class="ymp-skin"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kitab-Ushuluts-Tsalatsah 2 | 21 mb &lt;strong&gt;&lt;a class="ymp-btn-page-play ymp-media-0d4e6ced939e16d2a4c0bce7da03c6ad" href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/problemamuslim/Audio/Kitab-Ushuluts-Tsalatsah/UstadzJafarSalih_UshulutsTsalatsah2.mp3"&gt;[Download]&lt;em class="ymp-skin"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kitab-Ushuluts-Tsalatsah 3 | 24 mb &lt;a class="ymp-btn-page-play ymp-media-017c1a216be6c5402e34aab2869bac6c" href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/problemamuslim/Audio/Kitab-Ushuluts-Tsalatsah/UstadzAliBasuki_UshulutsTsalatsah3.mp3"&gt;&lt;strong&gt;[Download]&lt;/strong&gt;&lt;em class="ymp-skin"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kitab-Ushuluts-Tsalatsah 4 | 9.4 mb &lt;a class="ymp-btn-page-play ymp-media-a83997e43c5e68a188b93247dd014ddb" href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/problemamuslim/Audio/Kitab-Ushuluts-Tsalatsah/UstadzAliBasuki_UshulutsTsalatsah4.mp3"&gt;&lt;strong&gt;[Download]&lt;/strong&gt;&lt;em class="ymp-skin"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kitab-Ushuluts-Tsalatsah 5 | 16 mb &lt;a class="ymp-btn-page-play ymp-media-0bb2251ba1225c9e6a4d2c124dcb6505" href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/problemamuslim/Audio/Kitab-Ushuluts-Tsalatsah/UstadzJafarSalih_UshulutsTsalatsah5.mp3"&gt;&lt;strong&gt;[Download]&lt;/strong&gt;&lt;em class="ymp-skin"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Semoga Bermanfaat&lt;strong&gt;. &lt;/strong&gt;Barokaallahu Fiikum&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber: &lt;a href="http://facebook.com/rekam.annash"&gt;annash&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-6605929145580098168?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/6605929145580098168/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/rekaman-dauroh-ramadhan-3-landasan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/6605929145580098168'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/6605929145580098168'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/rekaman-dauroh-ramadhan-3-landasan.html' title='Rekaman Dauroh Ramadhan; 3 Landasan Utama'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-8789849426346301264</id><published>2010-11-10T02:19:00.000-08:00</published><updated>2010-11-19T02:25:46.207-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download Kajian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ahlul Bait'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dauroh'/><title type='text'>Kecintaan kepada Ahlul Bait (Antara Hakekat dan Sekedar Pengakuan)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                                                                                                                                                                                                                               &lt;a rel="attachment wp-att-608" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=3204167414929986941&amp;amp;postID=8789849426346301264"&gt;&lt;img class="alignleft size-full wp-image-608" title="tabligh-akbar-ahlul-bait" src="http://mediasalaf.com/wp-content/uploads/2010/10/tabligh-akbar-ahlul-bait.jpg" alt="" height="230" width="150" /&gt;&lt;/a&gt; Berikut ini link download “&lt;strong&gt;Tabligh Akbar “Kecintaan kepada Ahlul Bait (Antara Hakekat dan Sekedar Pengakuan)&lt;/strong&gt;”. Tabligh Akbar ini   diadakan di Masjid Al-Markaz Al-Islami Kab. Maros dengan pemateri &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ustadz   Dzulqarnain M. Sunusi&lt;/span&gt;. Silahkan disebar tanpa tujuan komersil, semoga   bermanfaat. &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Berikut Link nya:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;a class="ymp-btn-page-play ymp-media-252789ad83365785923de3449793029b" href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/makassar/an-nashihah/Tabligh%20Akbar-Kecintaan%20pd%20Ahlul%20Bait/1.Kecintaan%20Ahlul%20Bait,%20Antara%20Hakekat%20dan%20Pengakuan%20-%20www.an-nashihah.net.mp3"&gt;Kecintaan Kepada Ahlul Bait&lt;em class="ymp-skin"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt; |11mb&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a class="ymp-btn-page-play ymp-media-4b2b7ac3e0c6c8c122224b01ec48bbdd" href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/makassar/an-nashihah/Tabligh%20Akbar-Kecintaan%20pd%20Ahlul%20Bait/2.Tanya%20Jawab-Kecintaan%20Ahlul%20Bait,%20Antara%20Hakekat%20dan%20Pengakuan%20-%20www.an-nashihah.net.mp3"&gt;Tanya Jawab&lt;em class="ymp-skin"&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt; |2.3 mb&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Selamat Mendownload Semoga Bermanfaat.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Barokallahu fiikum&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: www.mediasalaf.com&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-8789849426346301264?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/8789849426346301264/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/kecintaan-kepada-ahlul-bait-antara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/8789849426346301264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/8789849426346301264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/11/kecintaan-kepada-ahlul-bait-antara.html' title='Kecintaan kepada Ahlul Bait (Antara Hakekat dan Sekedar Pengakuan)'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-7622150124941475254</id><published>2010-11-09T07:08:00.000-08:00</published><updated>2010-11-17T03:30:35.306-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info Dakwah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dauroh'/><title type='text'>Kajian Islam Intensif (Dauroh) Tenggarong</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 128);"&gt;&lt;span style="font-size:large;"&gt;&lt;strong&gt;Kajian Islam Intensif (Dauroh)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;strong&gt;Hari/tanggal:&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Jum’at-Sabtu, 19-21 Dzulhijjah 1431 H (26-28 November 2010)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;strong&gt;Tempat:&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Masjid Jami’ Hasanuddin, Kota Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur&lt;span id="more-1467"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;strong&gt;Pemateri:&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;strong&gt;Al Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;strong&gt;Materi:&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;strong&gt;Untaian Aqidah Para Imam Salaf (Pembahasan Kitab Aqidah As Salaf Ash-habul Hadits karya Al Imam Abu ‘Utsman Ismail Ash Shabuni&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;strong&gt;Rincian Jadwal:&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;strong&gt;Jum’at, 19 Dzulhijjah/26 November&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Pukul 08.00-09.00:* Acara Pembukaan&lt;br /&gt;Pukul 09.00-10.30: Sesi ke-1 Kajian Kitab&lt;br /&gt;Pukul 16.00-17.30: Sesi ke-2 Kajian Kitab&lt;br /&gt;Pukul 20.00-21.30: Sesi ke-3 Kajian Kitab&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;strong&gt;Sabtu, 20 Dzulhijjah/27 November&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Pukul 09.00-10.30: Sesi ke-4 Kajian Kitab&lt;br /&gt;Pukul 10.45-11.45: Sesi ke-5 Kajian Kitab&lt;br /&gt;Pukul 16.00-17.30: Sesi ke-6 Kajian Kitab&lt;br /&gt;Pukul 20.00-21.30: Sesi ke-7 Kajian Kitab&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;strong&gt;Ahad, 21 Dzulhijjah/28 November&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;Pukul 05.30-06.30: Taushiyah&lt;br /&gt;Pukul 09.00-10.30: Sesi ke-8 Kajian Kitab&lt;br /&gt;Pukul 10.45-11.45: Sesi ke-9 Kajian Kitab&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;*) Semua jam menurut Waktu Indonesia Tengah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;strong&gt;Fasilitas menginap tersedia hanya bagi peserta pria&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;strong&gt;Penyelenggara:&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt; Majelis Ta’lim Khairu Ummah Tenggarong&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;strong&gt;Kontak HP Panitia:&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;- Abu Muqbil 081253291690&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;- Abu Ahmad Syarkani 085250714575&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 128);"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;strong&gt;Matan kita&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;strong&gt;b &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;Aqidah  As Salaf Ash-habul Hadits&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;strong&gt; bis&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;strong&gt;a didownload &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="text-decoration: underline; color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/document/cx_XxsPF/Aqidah_As_Salaf_Ashhabul_Hadit.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;strong&gt;di sini&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;img class="aligncenter size-full wp-image-1468" title="Pamplet Dauroh Ust Dzulqarnain Tenggarong 26-28 Nov 2010" src="http://tokomuhammad.files.wordpress.com/2010/11/pamplet-dauroh-ust-dzulqarnain-tenggarong-26-28-nov-2010.jpg?w=468&amp;amp;h=323" alt="" width="468" height="323" /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Klik pada gambar pamplet untuk melihat hasil ukuran yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;INFO SUSULAN&lt;br /&gt;Ada revisi jadwal, dauroh di Tenggarong berakhir Sabtu  malam. Kemudian Ahad dauroh seharian di Ponpes Ibnul Qayyim Balikpapan,  materi belum ditentukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:85%;" &gt;Sumber:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:85%;" &gt;http://tokomuhammad.wordpress.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-7622150124941475254?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/7622150124941475254/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2009/11/kajian-islam-intensif-dauroh-tenggarong.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/7622150124941475254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/7622150124941475254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2009/11/kajian-islam-intensif-dauroh-tenggarong.html' title='Kajian Islam Intensif (Dauroh) Tenggarong'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3204167414929986941.post-402717925960516915</id><published>2010-10-03T05:18:00.000-07:00</published><updated>2010-11-30T05:35:35.617-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makam Nabi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa Ulama'/><title type='text'>Jawaban Untuk Penyembah Kubur Seputar Klaim Dikuburnya Nabi di Dalam Masjid Nabawi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.al-utsmaniyah-tours.com/foto_berita/76masjidannabawi.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 184px; height: 131px;" src="http://www.al-utsmaniyah-tours.com/foto_berita/76masjidannabawi.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: Syaikh Ibnu Utsaimin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagaimana memberi jawaban kepada para penyembah kuburan yang berargumentasi dengan dikuburkannya Nabi shollallaahu’alaihi wasallam di dalam Masjid Nabawi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawaban:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya dari beberapa aspek:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Bahwa masjid tersebut tidak dibangun di atas kuburan akan tetapi ia sudah dibangun semasa Nabi shollallaahu’alaihi wasallam masih hidup.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Bahwa Nabi shollallaahu’alaihi wasallam tidak dikuburkan di dalam Masjid sehingga bisa dikatakan bahwa ‘ini adalah sama artinya dengan penguburan orang-orang shalih di dalam masjid’ akan tetapi beliau shollallaahu’alaihi wasallam dikuburkan di rumahnya (yang berdampingan dengan masjid sebab sebagaimana disebutkan di dalam hadits yang shahih bahwa para Nabi dikuburkan di tempat di mana mereka wafat-penj.).&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Bahwa melokalisir rumah Rasulullah shollallaahu’alaihi wasallam, juga rumah Aisyah sehingga menyatu dengan masjid bukanlah berdasarkan kesepakatan para sahabat akan tetapi hal itu terjadi setelah mayoritas mereka sudah wafat, yaitu sekitar tahun 94 H. Jadi, ia bukanlah atas dasar pembolehan dari para sahabat semuanya, akan tetapi sebagian mereka ada yang menentang hal itu, di antara mereka yang menentang tersebut terdapat pula Said bin al-Musayyib dari kalangan Tabi’in.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Bahwa kuburan Nabi shollallaahu’alaihi wasallam tersebut tidak terletak di dalam masjid bahkan telah dilokalisir, karena ia berada di dalam bilik tersendiri yang terpisah dari masjid. Jadi, masjid tersebut tidaklah dibangun di atasnya. Oleh Karena itu, di tempat ini dibuat penjagaan dan dipagari dengan tiga buah dinding. Dan, dinding ini diletakkan pada sisi yang melenceng dari arah kiblat alias berbentuk segitiga. Sudut ini berada di sisi utara sehingga seseorang yang melakukan shalat tidak dapat menghadap ke arahnya karena ia berada pada posisi melenceng (dari arah kiblat).&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Dengan demikian, argumentasi para budak (penyembah) kuburan dengan syubhat tersebut sama sekali termentahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kumpulan Fatwa dan Risalah Syaikh Ibnu Utsaimin, Juz II, hal. 232-233.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3204167414929986941-402717925960516915?l=catatan-abumuslim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/feeds/402717925960516915/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/10/jawaban-untuk-penyembah-kubur-seputar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/402717925960516915'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3204167414929986941/posts/default/402717925960516915'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatan-abumuslim.blogspot.com/2010/10/jawaban-untuk-penyembah-kubur-seputar.html' title='Jawaban Untuk Penyembah Kubur Seputar Klaim Dikuburnya Nabi di Dalam Masjid Nabawi'/><author><name>Abu Muslim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10000921919131752863</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_WaHvTErxO1k/TOZPCIobeuI/AAAAAAAAAoU/gOz06goX7Vw/S220/LOGO.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
